
Di dalam mobil. air yang keluar semakin banyak. Bahkan baju yang kupakai saat ini sudah basah kuyub. Kak Zayn sudah menelepon rumah sakit, orang tuaku dan orang tuanya juga, mengabarkan bahwa aku dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Kak, airnya banyak banget, darahnya juga keluar." Aku masih berpegangan tangan pada Kak Zayn yang menemaniku duduk di kursi penumpang belakang.
"Iya, aku tahu, Sayang. Jangan panik ya, sebentar lagi kita sampai kok." Kak Zayn membantu mengusap kepala dan juga perutku. "Mang lebih cepat ya."
Lima belas menit perjalanan, akhirnya kami sampai di rumah sakit. Kak Zayn dan beberapa perawat membawaku ke UGD untuk diperiksa. Dokter Nayla menyambut dan aku sedikit terkejut melihat seorang laki-laki dengan pakaian dokter yang berdiri di samping Dokter Nayla itu adalah orang yang sangat aku kenal.
"Dera," gumam laki-laki itu yang dengan samar masih bisa kudengar.
"Dok, air ketubannya keluar sangat banyak, dan darahnya juga banyak," kata Kak Zayn.
Dokter Nayla dan perawat perempuan melakukan pemeriksaan padaku, termasuk USG dan pemeriksaan tekanan darah.
Dokter Nayla bilang kalau aku sudah bukaan tiga. Lalu, Dokter Nayla dan juga Gibran—dokter laki-laki itu, memeriksa kondisi paru-paru dan jantung dari bayi-bayiku. Setelahnya, Dokter Nayla dan Gibran mengatakan pada Kak Zayn bahwa harus secepatnya dilakukan tindakan operasi.
"Sayang, kamu mau kan?" tanya Kak Zayn. Ada permohonan yang tulus di mata suamiku itu.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, karena aku merasakan sakit yang luar biasa.
__ADS_1
Kata Dokter Nayla, Gibran akan menjadi dokter spesialis yang mengawasi kondisi anak-anakku nantinya.
"Lakukan yang terbaik, saya mau istri dan anak-anak saya selamat," kata Kak Zayn.
Setelah mengatakan itu, seorang perawat mengurus semua berkas yang diperlukan untuk bisa melakukan tindakan operasi.
"Kakak, aku takut," kataku jujur.
Kak Zayn memegang tanganku, dan mengecup keningku. "Aku akan temenin kamu, kamu jangan takut. Bayangkan saja kita akan bertemu mereka, Sayang." Kak Zayn menempelkan keningnya di keningku.
Sejujurnya, aku sangat takut. Entah bagaimana rasanya di ruangan operasi. Apakah aku bisa sadar setelahnya. Bisakah aku memeluk semua bayiku?
Perawat sudah mmasang infus di tanganku, kantong darah juga sudah disiapkan.
Mama dan papaku datang lebih dulu, aku meminta maaf dan juga doa dari mereka agar aku dan bayi-bayiku semuanya selamat.
Aku menatap menatap Gibran.
"Tolong selamatkan semua bayiku, aku mohon Gib," pintaku sambil menarik tangannya.
__ADS_1
"Aku akan melakukan semua yang aku bisa, Dera tenangkan pikiranmu!" balas Gibran.
"Kamu kenal dia?" tanya Kak Zayn.
"Setelah aku bangun, aku akan cerita semuanya, Kak. Akan tetapi, kalau aku tidak bisa bangun lagi, tolong maafkan semua kesalahanku, dan jaga anak-anak kita dengan baik. Aku beruntung memiliki suami sepertimu."
Ketakutan besar dalam diriku membuat pikiranku tidak karuan. Aku sudah membayangkan hal-hal buruk yang mungkin akn menimpaku setelah ini.
"Aku mencintaimu, Sayang. Semua akan baik-baik saja, kita akan membesarkan mereka sama-sama," bisiknya yang kembali mengecup keningku.
"Kita berdoa sama-sama, semoga semuanya lancar, kamu dan anak-anak kita selamat."
Tuhan, selamatkan aku dan semua bayi-bayiku.
Perawat memasangkan masker oksigen di hidungku. Selang beberapa saat, aku mulai merasakan kantuk yang sangat luar biasa, dan akhirnya pikiranku menjadi tenang.
❤❤❤
Jangan lupa ritualnya
__ADS_1