
ZAYYAN
Putri sudah mulai memaksa kuliah, sedangkan aku sudah mulai menyusun skripsi. Aku tidak mau membuat Putri tertekan dengan melarang-larangnya. Dia berjanji akan menjaga kehamilannya dengan baik.
"Jangan jajan yang pedes-pedes, jangan makan yang aneh-aneh. Inget …."
Tiba-tiba bibir Putri sudah menempel di bibirku.
"Iya, Kak Zayyan yang bawel. Aku janji, aku bisa kok jaga kecebong kita dengan baik," ucapnya. Ia memasukkan buku-buku ke dalam tas.
"Cium lagi dong, Put. Nanti aku kasih hadiah," pintaku sambil menyodorkan muka semakin dekat dengan wajahnya.
"Apa hadiahnya?" Putri menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang lembut.
"Kamu maunya apa?" Aku balik bertanya.
"Ke Korea," jawabnya cepat. Matanya berbinar cerah saat mengatakan hadiah yang diminta adalah jalan-jalan ke Negeri Gingseng.
"Kalau itu harus lebih dari ciuman dong." Aku tak mau rugi, kalau hanya cium saja masa iya, hadiahnya ke luar negeri.
"Apa dong?"
"Enen tiga kali sehari, jangan jutek, sama …." Aku melirik tubuh bagian bawahnya.
__ADS_1
"Hem, berat deh pasti, Jupiter masuk kandang kan?" Putri melepaskan tangannya dari wajahku, lalu kembali fokus pada buku-buku yang akan dibawanya ke kampus.
"Kok tau?" tanyaku sambil merangkul pundaknya.
"Soalnya tertulis di jidatnya Kakak."
Putri tiba-tiba berdiri, membuat tanganku terlepas dari tubuhnya. Ia berjalan masuk ke kamar ganti, lalu keluar dengan cardigan warna pink, sambil mengikat rambutnya.
"Kakak, perut aku kok masih rata, apa dia nggak berkembang di perut aku?" tanya Putri sambil mengelus perutnya yang memang masih rata.
Aku mendekat pada Putri, berdiri di hadapannya lalu ikut mengusap perutnya.
"Cebongnya Papa di dalam sehat-sehat aja, kan? Lihat Mama kamu udah nggak sabar pengen buncit," ucapku. Lalu, aku mencium pipi Putri sebelum dia kembali mengomel.
"Ya udah, aku anter naik mobil ya, aku nggak mau kamu naik motor, bahaya!"
...****************...
Dua minggu sudah Putri melakukan aktifitas seperti biasa setelah hamil. Dia tidak mual dan rewel seperti prediksi Mama, tapi dia jadi lebih manja ke semua orang. Putri tidak menjadi lebih dewasa, tapi justru semakin kekanakan. Kadang dia menyuruhku pulang dari bengkel, hanya untuk menemaninya minum susu hamil. Sangat merepotkan.
Seperti biasa, aku menjemputnya setelah selesai kuliah. Sampai di parkiran kampus, aku memilih untuk menunggunya di mobil.
"Kakak, aku ke toilet bentar ya, nggak tahan." Putri hanya membuka pintu mobil untuk meletakkan tasnya. Setelah itu ia kembali berjalan masuk ke area kampus.
__ADS_1
"Duh, perempuan kalau urusan toilet pasti lama," gumamku lalu membuka aplikasi game online dan mencoba bermain.
Sepuluh menit bermain game, Putri belum juga kembali. Karena khawatir, aku pun berniat menyusulnya, karena ia meninggalkan ponsel di mobil.
Dengan tergesa-gesa, aku mendatangi kamar mandi, mencari keberadaan Putri. Satu per satu bilik itu kubuka sambil memanggil namanya.
"Kakak, aku di sini." Suara Putri terdengar lirih, sepertinya ia menangis. Aku langsung menghampiri pintu yang kuyakini ada Putri di dalamnya.
"Put, buka pintunya," ucapku sambil menggedor-gedor pintu.
Tidak lama, pintu terbuka, kulihat Putri berdiri tidak jauh dari closet. Wajahnya pucat, dengan air mata yang sudah mengalir keluar.
"Kamu kenapa?" tanyaku khawatir.
"Aku datang bulan, darahnya ke celana aku banyak Kak, aku takut." Putri memegang pundakku.
Aku sendiri bingung apa yang sedang Putri alami, kalau dia hamil, kenapa datang bulan? Apa dia ... tidak, tidak.
"Kita ke rumah sakit." Aku langsung menggengdongnya, dan membawa Putri keluar kamar mandi.
"Kakak, aku takut, kalau cebong kita kenapa-kenapa gimana, Kak?" Putri terus menangis, sedangkan pikiranku sudah tidak karuan lagi. Yang ada di otakku saat ini hanyalah, secepatnya membawa Putri ke rumah sakit, dan berharap dia dan anakku akan baik-baik saja.
❤❤❤
__ADS_1
Selamat pagi, selamat hari senin. Jangan lupa jempol, komen, hadiah, dan vote nya 😘😘😘