
Putri dan Tuan Muda seperti terjejut saat mendengar panggilanku.
"Mas Kai / Asisten Kai," ucap mereka berdua bersamaan.
"Loh, kamu kenal kakakku?" tanya Putri pada Tuan Muda.
"Dia kakak kamu?"
Mereka berdua kembali berdebat. Entah apa yang sedang mereka permasalahkan, sepertinya mereka tidak akrab.
"Stop! Kalian meributkan apa?" tanyaku yang sudah mulai kesal.
"Dia ini cowok rese' yang sok kegantengan dan nyebelin abis tau, Mas."
"Daripada kamu, sok pinter!"
"Aku emang pinter beneran!"
"Aku ganteng beneran!"
Ya Tuhan, perutku sudah lapar dan harus menghadapi dua bocah yang entah meributkan apa.
"Ya udah deh, serah! Sayang, mending kita makan daripada dengerin mereka debat." Aku menarik tangan Dara, melewati dua bocah ABG itu dan berlalu naik eskalator.
"Mas, ikut!" teriak Putri yang kuabaikan
"Eh, urusan kita belum selesai," sahut Tuan Muda.
Nyatanya, dua orang itu tidak mengikutiku, mungkin mereka kembali berdebat.
"Mas, adek kamu kok bisa sama Zayyan," kata Dara yang tangannya masih bergandengan dengan tanganku.
__ADS_1
"Nggak tau, padahal mereka beda jurusan, beda fakultas juga."
"Jodoh kali ya, Mas."
Ucapan Dara membuatku berpikir, adikku satu-satunya sudah beranjak dewasa sekarang. Suatu saat aku akan melepaskannya untuk laki-laki lain, tapi apa benar dia Tuan Muda?
"Nggak mungkinlah, Sayang. Kamu lihat mereka udah kayak kucing sama tikus gitu," balasku.
"Jodoh siapa yang tahu, Mas. Setelah kita menikah, si Putri nyusul."
"Ih, nggak nggak. Mas nggak rela, dia baru aja kuliah, baru masuk semester dua masa mau nikah."
Aku ingin Putri adikku menjadi sarjana dan membahagiakan Ibu, bukan malah menikah muda dan menjadi ibu rumah tangga.
*
*
*
Martabak telur dan martabak manis rasa coklat keju sudah ada di tanganku. Sebagai laki-laki tentunya aku akan mengantar Dara sampai depan rumahnya, sehingga aku memutuskan ikut turun bersamanya.
"Buat Mama sama Papa, kamu langsungmasuk dan tidur ya! Jangan begadang terus!" ucapku sambil menyodorkan kantung plastik berisi makanan pesanan orang tua Dara padanya.
"Makasih ya, Mas. Langsung pulang jangan keluyuran," kata Dara setelah menerima pemberianku.
"Iya, yaudah mas pulang dulu, ya." Aku tersenyum dan melambaikan tangan pada Dara yang sudah membuka pintu gerbang.
"Mas nggak pengen cium aku?" tanya Dara yang membuatku mengernyit. Bisa-bisanya dia minta dicium, mentang-mentang sudah dapat restu dari papanya.
"Em, nanti deh, aku tanya Ibu dulu."
__ADS_1
"Kok tanya Ibu sih, Mas?" Dara memanyunkan bibirnya, terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai responku.
"Iya tanya ibu, kapan bisa nikahin kamu, baru deh cium bibir kamu," balasku sambil senyum cengar-cengir.
"Ih, maksud aku cium kening, Mas."
Aku melongo mendengar permintaan Dara, karena dalam pikiranku memang ciuman bibir. Ah, sepertinya kebanyakan lihat si Bos ciuman nih, otakku jadi begini.
Melihat raut muka Dara yang semakin cemberut, aku berinisiatif mendekat, berniat untuk mengecup keningnya seperti yang diminta Dara.
Saat aku semakin mendekat padanya, dan hampir saja menempelkan bibir di dahinya, tiba tiba ....
"Dara! Masuk!"
Suara menggelegar itu membuatku urung mencium kening pacarku sendiri. Papanya Dara muncul dan mengintip di balik pagar rumah.
"Papa."
"Om." Aku gelagapan karena terciduk oleh papanya Dara. Padahal 'kan anaknya sendiri yang minta dicium.
"Masuk Dara!" ulangnya yang membuat Dara menghembuskan napas kasar, lalu masuk ke rumahnya dengan menghentak-hentakkan kaki.
Aku kembali gugup. Takut-takut kalau papanya Dara mencabut restunya untuk menjadi mertuaku.
"Malam, Om." Hanya itu yang keluar dari mulutku. Bingung akan membuat alasan apa jika papanya Dara berpikiran macam-macam.
"Hemm."
Cara papanya Dara menyahut sudah terdengar mengerikan, bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan?
♥️♥️♥️
__ADS_1
Nah loh, terciduk papa mertua, eh ralat, calon papa mertua.
Selamat sore, ada yang kangen Kakak Zayn sama Dera? Sabar dulu ya, aku selesaikan partnya Mas Kai dulu 🤣🤣🤣