
ZAYYAN
"Dia Papaku."
Erlan mengernyit, matanya berkedip pelan mematapku seolah aku ini benda antik purbakala yang baru saja ia temukan.
"Pa, kayaknya Zayyan habis berantem, Pa. Ada darah di bibirnya," kata Mama.
"Kamu mau berantem sama siapa? Kenapa? Kamu mau jadi jagoan?" marah Papa.
Aku hanya garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Masalahnya tidak mungkin aku jujur sama Papa kalau Erlan yang sudah memukulku. Kalau sebenarnya Erlan tidak terima aku bersama Putri.
"Kamu ini udah mau nikah, Za. Berantem-berantem gitu buat apa sih?" tanya Mama yang terlihat sangat cemas.
"Ma, Pa. Aku nggak berantem, ini cuma salah paham aja kok," dalihku sambil melirik ke arah Putri yang sedari tadi memegang ujung kemejaku.
"Erlan Putri, kalian tahu, dia berantem sama siapa?" tanya Papa.
Putri semakin menunduk, ia pasti takut jika salah bicara.
"Apa jangan-jangan berantemnya sama kamu Lan? Tapi kok kamu nggak luka sedikit pun," terka Papa.
"Maaf Om, sepertinya aku salah paham," jawab Erlan.
"Salah paham gimana?"
"Em, Pa. Ini urusan aku sama Erlan. Urusan anak muda, Pa. Papa nggak usah khawatir."
"Papa nggak suka kamu sok jagoan, Za. Selesaikan masalah kalian, dan cepat pulang! Ayo, Ma." Papa menggandeng tangan Mama.
__ADS_1
"Putri, titip Zayyan ya, nasehati dia," kata Mama sebelum berlalu dan masuk ke mobil Papa.
Setelah Mama dan Papa pergi, hanya tersisa kami bertiga yang mendadak jadi kikuk.
"Sekarang kamu percaya 'kan kalau Putri calon istriku?"
Erlan terdiam. Cukup lama kami terjebak dalam keheningan. Jalanan yang sepi seakan melengkapi keheningan kami.
"Kalau kamu anaknya Om Elvan, aku mundur," kata Erlan yang tidak lagi menggunakan 'lo gue' lagi.
"Jangan gangguin Putri lagi!" pesanku pada Erlan. "Ayo Put, kita pergi dari sini!" Aku menggenggam tangan Putri dan menuntuntunnya sampai ke motor, memakaikan helm padanya seperti saat pertama kami naik motor bersama.
"Kak, kita beneran mau nikah ya?" tanya Putri saat aku selesai memakaikan helm padanya.
"Kamu nggak mau nikah sama aku?" Aku bertanya balik. Ada rasa kecewa yang menyelimuti perasaanku saat ini. Takut jik Putri berubah pikiran karena Erlan.
"Bukan gitu maksud aku, Kak."
"Kak Za, maksud aku kalau orang nikah, suami istri gitu kan tinggal serumah, bobok bareng juga. Apa Kakak nggak merasa aneh?" Putri menatapku dengan tatapan lucu yang ... sedikit aneh.
"Ya bobok barenglah, ogah banget kalau aku tidur di sofa kamunya tidur di kasur." Aku naik ke motor dan diikuti oleh Putri.
"Kakak ih."
...****************...
Hari ini, aku dan Papa Mama datang ke kampung halamannya Putri untuk melamar secara resmi, sekaligus menentukan tanggal untuk pernikahan dadakan ini.
"Sejujurnya kami ini sedikit bingung dengan apa yang sebnarnya terjadi. Kemarin waktu kami ke Jakarta semuanya baik-baik saja, kenapa tiba-tiba jadi begini," kata pak de Putri.
__ADS_1
"Jadi begini, Pak. Mereka kan sudah sama-sama dewasa, daripada berpacaran yang bisa menimbulkan fitnah, dan mungkin saja mengoda mereka untuk melakukan hal yang terlarang, bukankah lebih baik mereka dinikahkan?" Papa yang menjelaskan pada paman Putri itu.
"Ya, memang benar. Hanya saja, Putri kan masih kuliah, belum ada sembilan belas tahun. Bagaimana mereka akan menikah?"
"Kalau masalah kuliah, anak kami yang menanggung semuanya, kami tidak melarang anak-anak kami untuk melanjutkan pendidikan."
"Bulan depan Putri sudah sembilan belas tahun," sahut ibu Putri.
"Bagaimana kalau pernikahannya bulan depan, saat Putri berulang tahun. Kita bisa mengadakan pernikahan secara sederhana yang penting mereka sah secara hukum dan agama. Kalau mau resepsi kita bisa pikirkan nanti," usul Papa.
"Tapi, Bu. Kalau bisa aku nikah dulu sebelum Putri. Aku kan masnya masa dilangkahin adiknya, Bu."
"Ya sudah, kamu nikahnya sebelum Putri, biar ibu sekalian ke Jakartanya."
"ya sudah begini saja, satu hari sebelum pernikahan Putri, Kaisar menikah dulu. Coba kamu bicara sama calon mertuamu, mereka mau menerima tanggalnya atau tidak." Pak de Putri memutuskan.
"Kalau Putri dan Zayyan kita sepakat menikahkan mereka di hari ulang tahun Putri?"
"Ya, begitu lebih baik."
Setelah para orang tua sepakat menentukan tanggal, aku melirik Putri yang mebalas tatapanku dengan senyum.
Kita akan memulai hidup kita berdua, Melupakan masa lalu, dan mengukir masa depan bersama.
❤❤❤
Selamat pagi. Masih Zayyan Putri ya. Dera Zayn masih macet di jalan mau belanja. Up nya barengan Arsen, Insya Allah nanti aku update.
Oh iya, cuma mau ingetin buat kalian yang suka nabung bab buat dibaca barengan, gak apa-apa kok. Asalkan sebelum tanggal 30/31 tolong bacaannya diselesaikan ya. Terima kasih.
__ADS_1
Jangan lupa jempol cantiknya 😘😘😘😘