
Kak Zayn memintaku untuk duduk di sampingnya, berhadapan dengan Zayyan yang kini tersenyum ramah. Zayyan sangat berbeda dengan kakaknya yang lebih cool, ia sangat ramah dan baik.
"Apa kabar, Kak?" tanya Zayyan.
Satu keanehan bagiku saat ia memanggilku dengan sebutan kakak, padahal dari awal kenal ia selalu memanggilku dengan nama, meski dia juniorku di kampus.
"Aku baik, kamu apa kabar?"
"Baik juga, kata Kak Zayn kamu lagi nyusun skripsi ya?"
Aku langsung menoleh pada Kak Zayn yang ada di sebelahku, dan suamiku itu langsung bertanya, "Apa?" Sambil menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
"Kalian ghibahin aku?" tanyaku sambil menatap suamiku.
Zayyan tersenyum, Kak Zayn juga juga tertawa. Dua saudara itu saling menertawakanku.
"Za, besok-besok kamu ceritain lagi tentang dia, yang aku belum tahu," kata Kak Zayn yang kemudian meneguk minuman bersodanya.
"Siap." Zayyan tersenyum lagi, lalu meraih tas ranselnya. Sepertinya ia bersiap untuk pulang.
"Kalian beneran ghibahin aku ya?" Aku pura-pura marah, padahal sebenarnya aku senang melihat mereka akur dan Kak Zayn bisa bersikap baik dengan Zayyan.
"Aku pulang dulu, Kak. Makasih buat hadiahnya." Zayyan menenteng paper bag yang ia bilang hadiah dari Kak Zayn.
"Hati-hati, Za."
Lalu, Zayyan pun meninggalkan ruangan Kak Zayn. Saat ini, tinggal aku dan suamiku yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Udah baikan sama Zayyan?" tanyaku.
__ADS_1
Kak Zayn malah melepaskan jasnya lalu memelukku.
"Ra, Zayyan kayaknya dulu cinta banget sama kamu. Tapi, dia itu nggak mau pacaran, katanya mau ngikutin jejak Papa, nikah tanpa pacaran." Kak Zayn mengndus-endus leherku, membuatku merinding karena geli.
"Bagus dong. Kita kan juga nikah tanpa pacaran, Kak."
"Iya, tapi Zayyan kelamaan jadinya keduluan aku, karena emang jodoh kamu itu aku." Kak Zayn mengecup pipiku, lalu kembali memeluk dan menyandarkan lehernya di pundakku.
"Sebenarnya bukan kelamaan sih, aku aja yang nggak mau buka hati. Iya memang jodohnya itu kamu, jadi ya udah takdir." Aku balas memeluk Kak Zayn.
Aku tidak pernah mengira, kesalahan besarku menjadikanku seorang istri dari pria yang sangat aku sukai sejak lama. Takdir memang tidak pernah salah, hanya saja aku butuh kesabaran ekstra untuk menunggu hati kami siap menerima takdir ini.
*
*
*
Sesampainya di apartemen, waktu sudah malam dan aku belum memasak, sehingga aku buru-buru ke dapur untuk mengecek bahan masakan yang bisa aku masak dengan cepat.
"Nggak usah masak, Ra pesen aja. Kamu mandi dulu, biar aku yang pesen makanan." Kak Zayn duduk di sofa lalu bermain dengan ponselnya.
"Ya udah deh." Aku meninggalkan dapur, hendak masuk ke kamar saat tiba-tiba ponselku berdering.
Aku menerima panggilan yang ternyata dari Mama. Ada apa ya?
"Ya, halo Ma." Aku tidak jadi masuk kamar, dan memilih duduk di sofa dekat Kak Zayn yang sesekali melirikku.
"Sayang, Yumna sudah melahirkan," kata Mama dari seberang telepon.
__ADS_1
"Oh ya, kapan Ma?"
"Tadi, operasi, Mama nggak sempet telpon kamu karena panik, tiba-tiba pendarahan terus operasi."
"Oh, tapi sekarang Kak Yumna sama bayinya sehat kan, Ma?"
"Iya Ra, tadi Kimmora juga ke sini."
"Ini udah malam sih Ma, aku ke sana besok aja ya, lagian hujan gini pasti macet."
"Iya Sayang, yaudah Mama tutup dulu ya."
"Iya, Ma."
Aku menatap layar ponselku yang menampilkan gambar pernikahanku dan Kak Zayn. Lagi-lagi aku merasa sedih, karena sampai saat ini aku belum juga hamil.
♥️♥️♥️
...Sabar ya, Ra. Kamu emang harus bersabar kalau soal anak. Biar Juna bekerja lebih giat lagi....
Selamat malam.
Aku doble up, nggak ada kah yang mau ngasih kopi biar bisa ngelanjut ke Arsen 😥😥
Lelah sekali 🤭🤭
Okelah, jangan lupa ritualnya.
Sampai ketemu lagi 😘😘😘
__ADS_1