Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 189


__ADS_3

Apa memiliki kejan*tanan yang besar itu menyenangkan? Jawabanku, tidak! Buktinya aku kesulitan merayu istriku sendiri untuk bermesraan, alasannya pun sangat membingungkan, terlalu besar.


"Kamu pikir dia kain? Yang kalau kebesaran bisa dikecilin dengan gampang."


"Loh bukannya kalau nggak aku apa-apain dia kecil, berarti bisa dong dia diatur ke ukuran lebih kecil," balasnya.


Ingin sekali kujejal mulutnya yang suka bicara seenaknya itu dengan Jupiter. Kalau saja kami sudah sampai di kamar, pasti aku akan melakukannya.


"Jangan aneh-aneh deh."


Tidak berapa lama, Putri melihat mobil jemputan kami yang akan mengantar sampai ke rumah Putri.


Dengan mobil hitam berjenis Avanza ini, kami menuju kampung halaman Putri. Letaknya cukup jauh dari bandara, sekitar tiga jam perjalanan menggunakan mobil. Kami melewati perbukitan, dan persawahan. Sepanjang jalan, aku duduk di depan bersama sopir, sedangkan Putri di belakang bersama ibunya.


Akhirnya, kami sampai di rumah Putri. Setelah menikah, memang baru kali ini kami berkunjung, wajar jika Putri merindukan ibunya.


"Ibu masak tumis kacang sama tempe kesukaan kamu," kata Ibu saat kami dipaksa untuk makan. "Nak Za suka tumis nggak?" tanya Ibu.


"Apa aja saya suka, Bu."


Kami pun makan bersama di ruang tengah. Iya, ruang tengah yang biasa dipakai nonton televisi, bukan ruang makan. Di rumah Putri tidak ada ruangan khusus untuk makan. Kalau mau makan ya di ruang tengah ini, sambil menonton acara televisi.

__ADS_1


Kebetulan, Ibu ada acara yasinan ibu-ibu siang ini, sehingga setelah makan, ibu meninggalkan kami di rumah berdua.


"Ibu pergi dulu ya, kalian istirahat saja pasti capek," kata Ibu saat berpamitan dengan kami.


"Iya, Bu."


Setelah kepergian Ibu, Putri masih asyik menonton televisi. Karena bingung, harus melalukan apa, akhirnya aku hanya mengganggui Putri yang tiduran di depan televisi.


"Put, bukain dong," kataku sambil menggesek-gesekan wajahku pada dadanya.


"Alah biasanya juga buka sendiri," jawabnya. Ia mengembil satu bantal lagi yang ia pakai untuk meninggikan kepalanya.


"Ih, Kakak ganggu aja deh, lagi seru nih adegannya."


Sedari tadi dia sedang menonton drama tentang mertua yang menyiksa menantunya. Aneh memang, tapi Putri sering menonton drama seperti itu.


"Ayolah, kalau nggak mau diganggu makanya bukain."


Aku baru selesai mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba Putri menarik kaus dan branya ke atas.


"Tuh, udah jangan ganggu lagi," ucapnya.

__ADS_1


Aku langsung memanfaatkan kesempatan tanpa menyia-nyiakannya lagi. Memang saat ini aku hanya bisa menikmati tubuh bagian atasnya, karena sampai saat ini, Putri belum mengizinkan aku menikmati tubuhnya bagian bawah.


Rasa-rasanya aku memang sudah ketagihan menyusu meski tanpa ada cairan apa pun yang keluar saat kuhisap. Benda kenyal yang tidak terlalu besar itu memang membuatku merasakan kenikmatan, sampai-sampai Jupiter yang terbungkus celana pendek itu mulai meronta-ronta.


Tanganku tidak mau diam saja, mulai merayap ke sisi kanan dan memainkan bulatan kecilnya.


"Kamu beneran nggak pengen?" tanyaku sambil mendongak, menatap wajahnya yang fokus pada televisi.


"Nggak," jawabnya singkat, tanpa memandangku balik.


"Kalau gitu aku boleh ya pegang ini, dikit aja," izinku sambil menunjuk lembah surga milik Putri yang tertutup celana da*lam dan rok selutut.


"Ih, terserah Kakak, yang penting jangan ajak aku ngobrol, nggak konsen nih," balasnya dengan kesal.


Seperti mendapat lampu hijau, tanganku bergerak perlahan mengusap gundukan kecil yang masih terbungkus itu. Mulutku masih terus menghisap bulatan kecil yang membuatku menggila.


Lihat saja, kali ini Jupiter harus masuk ke kandangnya lagi.


❤❤❤


Jangan lupa jempolnya gaess 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2