
Kak Zayn sudah siap untuk meeting, sarapan juga baru saja selesai. Akan tetapi, entah kenapa dia tidak juga pergi.
Sementara itu aku hanya cuek, tiduran di sofa sambil main ponsel dan menyalakan televisi.
Kak Zayn mendekat, memiringkan kepala saat pandangan kami bertemu.
"Nggak usah cium-cium. Aku malas sama Kak Zayn. Ujung-ujungnya juga aku ditinggalin." Aku berdiri dan berjalan menuju pintu.
Belum sampai di pintu, Kak Zayn sudah memelukku dan menciumi pipiku. "Jadi, istriku lagi ngambek? Hm, iya deh setelah meeting puas-puasin maen sama Juna ya, sekarang meeting dulu."
Satu kecupan mendarat sempurna di leherku, diikuti hisapan yang pasti akan meninggalkan bekas merah.
"Jangan ditutupi!" Kak Zayn meraih handle pintu, dan dengan cepat aku melakukan hal yang sama di lehernya.
Tidak hanya satu kissmark, tapi ada beberapa, di bagian kanan dan kiri juga.
Kak Zayn hanya diam mematung tak memberikan respon apapun. Biasanya kalau aku sudah menyerang lehernya, ia akan mende*sah dan mengusap punggungku, tapi kenapa sekarang lain?
"Jangan ditutupi! Awas aja kalau nanti hilang bekasnya!" Aku mengancam balik pada Kak Zayn yang masih mematung menatap ke luar pintu. "Kenapa?" tanyaku sedikit bingung.
Aku berbalik menghadap pintu dan langsung kaget saat melihat Asisten Kaisar yang juga mematung berhadapan dengan Kak Zayn.
"Astaga!" Aku menutup mulutku supaya tidak menganga.
Jadi, Asisten Kaisar melihatku melakukan hal privasi itu?
"Selamat pagi, Tuan Bos. Selamat pagi, Nona Bos." Asisten Kaisar terlihat canggung.
__ADS_1
Aku hanya cengar-cengir lalu menjawab, "Pagi juga, sejak kapan berdiri di situ?"
"Sejak ... em ... sebelum Tuan Bos membuka pintu," jawabnya terbata.
Mati aku! Pasti Asisten Kaisar melihat bagaimana agresifnya aku mencium leher bosnya.
"Em, aku mau jalan-jalan dekat sini, telpon aku kalau udah selesai." Aku melangkah keluar, tapi tiba-tiba Kak Zayn menarikku.
"I love you, my wife." Kak Zayn mencium pipiku.
"Hah? Iya, love you too." Aku langsung berjalan keluar dan meninggalkan kamar dan dua lelaki yang kudengar sedang cekikikan itu.
*
*
Saat ini aku sedang bersantai di tepi kolam, yang menghadap langsung pada area hijau persawahan di seberang bukit.
"Enak kali ya, jadi orang desa, hidupnya pasti tenang."
"Kamu mau?"
Aku langsung meloncat kaget karena suara Kak Zayn yang tiba-tiba muncul di belakangku. Langsung saja kusambar minuman yang sengaja aku letakkan di meja kayu sampingku.
"Kak Zayn ngagetin aja deh," omelku setelah meneguk minuman jeruk hangat itu.
Kak Zayn tersenyum, mata sipitnya tenggelam saat ia tersenyum begitu, manis sekali.
__ADS_1
"Maaf deh, Ra. Tadinya nggak mau ngagetin, tapi liat kamu asik menikmati pemandangan, aku jadi asik liatin kamu." Kak Zayn benar-benar membuatku tersipu malu. Rona bahagia di wajahnya membuat rasa kesalku lenyap tak tersisa.
"Kak Zayn udah selesai meetingnya?" tanyaku saat suamiku itu duduk di sampingku.
"Udah." Ia meminum habis minuman jeruk di gelas. "Anget, Ra."
"Apanya?" tanyaku malu, pipiku bahkan terasa panas.
"Jeruknya, Ra. Tapi aku nggak puas." Kak Zayn semakin merapatkan tubuhnya mendekatiku.
"Kenapa?"
"Karena aku sukanya susu hangat!"
"Kak Zayn mau aku pesenin susu hangat?" Aku berdiri untuk memesankan susu hangat yang ia minta.
"Nggak usah, aku maunya susu yang itu!" Kak Zayn menunjuk dadaku dengan bibirnya. "Yuk kamar!"
♥️♥️♥️
...Ikut dong Bang 🤣🤣🤣...
...Abang Kaisarku kasihan sekali, nonton live pemanasan ya Bang 🤣🤣...
Jangan lupa jempol jempolnya diangkat.
Sampai ketemu lagi 😘😘😘
__ADS_1