
Kak Zayn menegakkan posisinya, lalu menggandeng tanganku untuk keluar dari lift. Perlahan, aku berjalan mengikuti langkah kaki suamiku itu.
"Papa kapan datang?" tanya Kak Zayn saat kami semakin dekat dengan Papa Elvan yang berdiri di depan ruangan Kak Zayn.
"Dari setengah jam yang lalu, kamu baru datang?" Papa Elvan balik bertanya.
"Iya, Pa. Kesiangan."
"Em, aku ke ruanganku aja deh Kak," izinku saat mulai paham situasi, karena sepertinya Papa ingin berbicara serius dengan Kak Zayn.
"Kita belum sarapan, Ra." Kak Zayn mencegahku saat hendak berbalik menuju lift.
"Papa cuma mampir kok, Dera. Jangan merasa tidak enak begitu."
"Yuk, masuk!" Kak Zayn menggenggam tanganku dan masuk ke ruangannya.
Berada di situasi memalukan begini, aku benar-benar kikuk. Bagaimana tidak? Saat ini kami sudah telat dua jam lebih, dan juga papa mertua memergoki kami berciuman di lift. Sungguh rasanya sangat-sangat malu.
"Zayn, menurutmu Axel bagaimana?" tanya Papa saat kami sudah duduk di sofa ruangan Kak Zayn.
Kak Zayn menegakkan duduknya. Lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan mendekati Papa.
"Aku nggak suka dia, Pa. Tapi Zea, sepertinya dia sangat bahagia." Kak Zayn membuka ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto Kak Zea.
"Sepertinya kita harus mengalah."
__ADS_1
Kak Zayn mengangguk. Entah apa yang susah terjadi antara mereka. Aku tidak mengerti karena Kak Zayn tidak menjelaskan detailnya padaku.
*
*
*
Sepulang dari kantor, Kak Zayn mengajakku ikut serta dalam kunjungan bisnis, dan saat ini kami dalam perjalanan menuju luar kota.
"Kenapa aku harus ikut sih, Kak?" tanyaku yang duduk di sampingnya di kursi penumpang belakang.
"Di sana tu dingin, Ra. Kalau malam-malam aku kedinginan, siapa yang mau aku peluk? Si Kai?" Kak Zayn menunjuk dengan dagunya, pada Asisten Kaisar yang tengah menyetir di depan.
"Ya, kalau jeruk makan jeruk kan biasa kayak gitu," jawabku yang langsung membuat Asisten Kaisar mengerem secara mendadak.
"Bisa nyetir nggak?" tanya Kak Zayn dengan nada tinggi.
Asisten Kaisar menghadap ke belakang. Matanya mengarah padaku. Sepertinya ia marah.
"Bos, saya pulang saja, kalau kita bersama, Nona Dera akan cemburu," kata Asisten Kaisar yang membuatku melongo.
"Cemburu?" Kak Zayn menatap Asisten Kaisar dan aku secara bergantian.
"Iya, Bos. Nona Dera bersikap seperti ini karena cemburu. Sebenarnya ini kan hanya kesalahpahaman, karena kita nggak ngapa-ngapain." Asisten Kaisar menatapku dengan tatapan menyeramkan.
__ADS_1
Kak Zayn juga menatapku.
"Kenapa?" Aku jelas bertanya-tanya dengan tatapan mereka.
"Kamu masih cemburu? Salah paham soal kemarin?" tanya Kak Zayn.
"Em, aku ...."
"Ra, aku normal. Kai juga normal. Aku nggak mau kamu salah paham terus." Kali ini Kak Zayn terlihat sangat serius.
Niatku kan hanya bercanda. Kenapa mereka jadi sensitif sekali ya?
"Em, aku cuma bercanda kok. Iya aku percaya kalau suamiku normal, terlalu normal malah. Maaf ya." Aku hanya nyengir. "Aku tahu kalian sama-sama normal, kemarin aku salah paham aja. Udah ya, kita lanjut."
Asisten Kaisar seram juga kalau sedang serius begitu. Kak Zayn juga wajahnya dingin sekali. Mereka berdua membuatku takut saja.
Tiba-tiba mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Kak Zayn bahkan sampai memukul-mukul sandaran punggung Asisten Kaisar. Mereka terlihat kompak sekali tertawa. Apa mereka menertawakanku?
♥️♥️♥️
Selamat sore gaess. Maaf ya telat lagi. Ada sesuatu yang nggak bisa aku jelaskan 🤣🤣 tapi intinya aku akan tetap usahakan update walaupun terlambat. Karena aku nggak mau aku dan kalian lupa sama alur ceritanya 😄😄
Oke, biar nggak ketinggalan info seputar update, dan supaya kita bisa lebih akrab. Sapa aku di grup ya. Di halaman depan buku ini ada tulisannya, Chat dengan Author atau AYO CHAT. Nah, silakan bergabung gaess.
Oh ya, jangan lupa tekan favorite di bawah ini biar bukunya nggak hilang, terus kalau othor update kalian bisa langsung dapat notifikasi.
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya diangkat semua.
Sampai ketemu lagi.