Istri Big Boss

Istri Big Boss
Ekstra Bab 10


__ADS_3

Putri sudah berada di rumah sakit, dokter sudah melakukan tindakan untuk menghentikan pendarahannya. Yang bisa aku lakukan hanya berdoa, berdoa, dan terus berdoa, semoga Putri dan anakku baik-baik saja. Semoga mereka berdua selamat.


Aku masih terus melantunkan doa dalam hatiku, saat tiba-tiba seorang suster memanggilku. Aku duduk di hadapan dokter yang menangani istriku.


"Jadi begini Pak, setelah kami melakukan pemeriksaan, ternyata janin yang dikandung Ibu Putri tidak berkembang." Dokter kandungan yang merawat Putri itu mulai menjelaskan.


Entah karena penjelasannya yang tidak bisa aku pahami, atau memang aku yang sedang tidak berkonsentrasi, kata-kata dokter itu sangat sulit dicerna otakku.


"Maksudnya Dokter gimana ya? Saya tidak mengerti."


"Jadi, janin yang tidak berkembang itu biasanya karena kelainan kromosom, bisa karena kualitas sper*ma atau sel telur yang tidak bagus yang akhirnya membuatnya tidak berkembang menjadi embrio. Memang ibu akan mengalami tanda-tanda kehamilan, tapi karena janin yang tidak berkembang itu tubuh mendeteksi adanya sesuatu yang tidak beres." Dokter kembali menjelaskan.


"Maksud dokter, janin yang dikandung istri saya itu tidak berkembang, dengan kata lain tidak sehat?"


"Ya, benar. Janin yang tidak berkembang itu harus dikeluarkan dari tubuh dengan tindakan kuretase."


Bagai disayat sembilu, perasaanku hancur berkeping-keping. Anak yang menjadi penguat ikatan pernikahan kami, anak yang belum pernah kami peluk, harus kami relakan kepergiannya.

__ADS_1


Setelah berbicara dengan dokter, aku menghampiri Putri yang sedang beristirahat. Sudah ada Mama yang menemani Putri. Kugenggam tangan Putri yang tidak terpasang selang infus.


"Kakak, apa kita akan kehilangan anak kita?" Putri menatapku dengan wajah sendu. Sekuat hati aku berusaha tegar, karena saat ini Putri butuh sandaran yang bisa menguatkan hatinya.


Aku berusaha mengatur napas, menyusun kata-kata dalam otakku secepat yang kubisa. Jangan sampai aku salah mengucapkan kata yang membuat Putri salah paham.


"Dulu, kakak pernah bilang kan, kalau kamu hamil itu artinya kita dipercaya sama Allah. Mungkin, saat ini kita masih dalam tahap uji coba." Aku berusaha tersenyum, aku tahu Putri sejak awal belum siap menerima kehadiran janin dalam rahimnya. Akan tetapi, jika aku juga menunjukkan ekspresi sedih, dia akan semakin merasa bersalah.


"Dan kita gagal ya Kak?" Air mata sudah meleleh di pipinya. Mama menyodorkan tisu padaku, lalu aku mengusap air mata yang membanjiri wajah Putri.


"Terus nasib dia gimana Kak?" Putri mengusap perutnya. Ada rasa sakit yang menyayat saat kembali mengingat rasa bahagia yang pernah aku rasakan saat Putri dinyatakan hamil beberapa waktu lalu


"Dia harus dikeluarkan, supaya kamu bisa sehat lagi, dan nanti kalau ada gantinya, tempatnya sudah bersih, dan sehat."


"Kasihan sekali dia Kak. Padahal aku udah seneng banget jadi ibu hamil, kenapa Tuhan ambil dia lagi ya Kak. Apa karena awalnya aku nggak suka sama dia ya Kak, makanya dia pergi dari aku?"


"Itu artinya, kamu belum siap Put. Allah pasti akan menitipkan lagi gantinya kalau kamu udah bener-bener siap."

__ADS_1


Mama mendekat dan mengusap kepala Putri.


"Mama juga pernah ngerasain yang kamu rasakan sekarang ini, lihat gantinya. Mama dikasih Zayn sama Zea, terus mama dikasih Zayyan juga. Kamu nanti pasti juga gitu, yang penting tetap berdoa dan berusaha."


"Aku rasa, sebaiknya kita tunda punya anak dulu, sampai kamu selesai kuliah. Aku nggak mau fokus kamu terbagi-bagi," ucapku.


Putri memandang Mama yang kemudian tersenyum padanya.


"Mama rasa itu pilihan yang bijak, selesaikan dulu kuliah kamu, baru siap hamil."


Putri menggeleng. Aku tidak tau apa yang dia rasakan saat ini, tapi yang aku lihat dari matanya, sepertinya Putri sangat menyesal karena kehilangan anak kami.


❤❤❤


Selamat pagi, jempol kembang kopi jangan lupa 😅😅


Buat kalian yang mau Putri dewasa, mungkin dengan kejadian ini dia bisa belajar menjadi dewasa 🥲🥲

__ADS_1


__ADS_2