Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 135


__ADS_3

ZAYYAN


Kalau ada yang bilang Kak Zayn itu menyebalkan, aku akan menjadi orang pertama yang mengangguk setuju. Entah karena dia anak pertama, atau karena jiwa kepemimpinannya, Kak Zayn selalu mengatur orang dengan seenaknya sendiri. Ya, walau terkadang memang yang dikatakan dia selalu benar, tetap saja dia menyebalkan.


Seperti pagi ini misalnya, aku harus mengantar orang tua Putri untuk pulang kampung bersama Putri juga. Kalau bukan karena kami sudah terlanjur pura-pura pacaran, aku tidak akan mau menemaninya.


Akhirnya, aku benar-benar mengantarkan Putri dan keluarganya sampai bandara. Setelah pesawat mendarat di bandara Adi Soemarmo, orang tua Putri dijemput mobil yang entah milik siapa.


"Dia keluarga kamu?" tanyaku sambil menunjuk orang yang sedang membantu membawakan barang-barang orang tua Putri.


"Em bukan Kak, dia itu pemilik mobil. Jadi, ini tuh mobil tetangga yang emang disewakan gitu," jawab Putri.


Setelah semua barang milik orang tua Putri masuk ke mobil. Kini tiba saatnya mereka semua berpamitan. Adegan dramatis pun dimulai.


"Ibu, aku masih kangen sebenarnya," kata Putri sambil merangkul ibunya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kalau udah liburan kan bisa pulang, sebentar lagi juga libur, 'kan?" kata ibu Putri.


"Sudah gede nangis, nggak malu sama pacar?" ejek pak de Putri.


Aku hanya tersenyum seperlunya. Kenyataannya Putri hanya pacar pura-puraku saja, 'kan?

__ADS_1


"Pak De, aku kan masih kangen beneran," rengek Putri dengan malu-malu.


"Udah, ayo kita pulang, kamu buruan masuk lagi, nanti ketinggalan pesawat kamu." Pak de Putri menyuruh ibu Putri untuk segera masuk ke mobil Avanza warna hitam itu.


Setelahnya, aku dan Putri bersalam-salaman dengan orang tua Putri, lalu mereka masuk ke mobil dan meninggalkan bandara.


***


Pesawat yang akan membawa kami ke ibu kota dijadwalkan berangkat dua jam setelah kami sampai. Akhirnya, aku dan Putri terpaksa harus menunggu di bandara.


"Kak, masih lama nggak sih, aku bosen ngantuk banget," keluhnya sambil bersandar di kursi, seolah ia sedang lemas tanpa tenaga.


"Harusnya lima belas menit lagi." Aku ikut menjatuhkan tubuh tepat di samping Putri.


Pertanyaan Putri terdengar santai dan spontan. Ia fokus pada ponselnya, memainkan permainan menembak gelembung warna.


"Sok tau banget sih jadi orang."


"Aku tu bisa baca pikiran Kak Za, walaupun senyum, mulut bicara manis, tapi Kakak itu sebenernya ngenes, nyesek di hati lihat mereka pamer kemesrahan," kata Putri masih tetap fokus dengan ponselnya. Gadis itu bicara dengan enteng tanpa menatap ke arahku.


"Siapa yang nyesek sih, paranormal nggak akurat."

__ADS_1


"Siapa yang paranormal?"


"Kamulah, ngakunya bisa baca pikiran tapi salah, dasar Tikus Got." Aku beranjak meninggalkan Putri, tidak ingin lagi memperpanjang urusan dengannya.


Lebih baik aku bermain game daripada berdebat dengan gadis menyebalkan itu.


***


Aku sudah berada di pesawat saat ini. Duduk bersebelahan dengan Putri yang sedang tidur dengan lelap. Gadis itu berkali-kali menggerakkan pundaknya, sepertinya ia kedinginan.


Dasar gadis ceroboh! Bisa-bisanya dia pergi tanpa memakai jaket. Kalau sakit kan dia sendiri yang rugi.


Aku melepaskan jaket yang kupakai untuk menutupi sebagian tubuh Putri, supaya dia tidak kedinginan. Aku hanya tidak mau jika nanti disalahkan karena membiarkannya menggigil kedinginan.


♥️♥️♥️


Ecie cie udah mulai khawatir, nggak tega gitu?? Okelah, otewe bucin, bertahap dulu ya Kak Za.


Selamat pagi menjelang siang?


Aku kemarin sengaja libur. Adakah yang merindukanku?

__ADS_1


Hemm, kalau gak ada yaudah, aku balik lagi Insya Allah nanti. Kondangan dulu gaes 🤭🤭🤭


__ADS_2