
ZAYYAN
Aku keluar kamar untuk memeriksa siapa yang baru saja menutup pintu kamarku. Tidak ada siapa pun di tempat ini, tapi suara langkah kaki yang sedang menuruni tangga membuatku berlari untuk mengintip. Untungnya aku tidak memakai alas kak sehingga suara langkahku tidak akan terdengar.
Kulihat Mama sedang berjalan menuruni anak tangga dengan membawa makanan. Sepertinya Mama tadi ingin mengantar sesuatu untuk Putri.
Setelah memastikan bahwa yang menutupnya adalah Mama, aku kembali ke kamar untuk menemani Putri. Istriku itu sedang memakai kembali bajunya yang tadi aku lepaskan.
"Siapa, Kak? Mama bukan?" tanya Putri sembari merapikan bajunya.
"Em, udah nggak usah dipikirin, bukan siapa-siapa kok," jawabku. Aku tidak mau Putri semakin malu jika aku mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa dia tidak mau lagi memberiku benda kenyal itu.
"Beneran?"
"Iya, kayaknya sih angin." Aku kembali duduk duduk dan merebahkan diri di sampingnya. "Lagi ya," izinku. Tanganku tetap berusaha menyingkap kaus yang baru saja dipakai lagi oleh Putri.
"Kakak udah ah, aku laper mau makan," tolaknya. Putri lalu menyingkirkan kompresnya dan bergerak turun dari ranjang.
"Kamu mau makan di sini? Aku ambilin mau?" tawarku.
"Nggak ah, di bawah aja. Nggak enak sama Mama," tolaknya lagi.
"Kamu kan masih sakit, Putri. Pasti Mama maklum kok," bujukku.
Putri menggeleng, "Udah enakan kok, Kak." Ia merapikan rambut dan berjalan menuju pintu.
Terpaksa, aku mengikutinya keluar kamar. Semoga saja, Mama tidak mendengar apa yang tadi aku lakukan bersama Putri. Bisa gawat kalau Mama tahu, apalagi sampai mengadu pada Papa.
__ADS_1
Langkah kaki Putri yang baru menuruni beberapa anak tangga tiba-tiba terhenti. Terdengar obrolan Mama dan Papa yang membuatku tidak sengaja menguping.
"Kita waktu masih muda dulu juga gitu, Ma," kata Papa. Mereka berdua bermesraan di ruang tengah, membelakangi aku dan Putri yang masih berdiri di anak tangga.
"Ih, Mas Elvan. Malu kalau dilihat anak-anak."
"Ya udah, ke kamar aja yuk!"
Mereka berdua sama-sama tertawa, lalu bergandengan tangan sampai menghilang di kamar mereka.
"Mama sama Papa aja mesra gitu, masa kita yang muda kalah sih, Put," godaku sambil menjawil lengan Putri.
"Aku tu mau makan, Kak. Apaan sih Kak Za ini." Ia melanjutkan langkahnya dan aku terus mengikutinya.
"Ini kok ada sop hangat, punya siapa ya Kak?" tanya Putri setelah melihat mangkuk yang tadi Mama bawa.
"Beneran nggak apa-apa, Kak?" Putri sepertinya ingin memakannya, tapi mungkin dia ragu-ragu.
"Nggak apa-apalah. Ya udah, mending kita makan sama-sama, oke." Aku mencuci tangan, lalu ikut mengambil piring menemani Putri makan, walau sebenarnya aku sendiri tidak lapar.
"Ya udah deh, nanti kalau dimarahin Mama, ini salah Kak Za."
"Ya kali dimarahi gara-gara makan, kalau nggak mau makan tuh baru dimarahin Put."
***
Libur semester ini, Putri ingin pulang ke kampungnya. Dia merindukan ibunya, katanya.
__ADS_1
Sebagai suami yang baik, tentu saja aku mengizinkan dan juga mengantarnya mudik, apalagi untuk bertemu orang tua sendiri.
"Ceritanya kita mau honeymoon di kampung, ya," celotehku. Saat ini kami sudah mendarat di bandara paling dekat dengan rumah Putri.
"Siapa juga yang mau honeymoon, orang aku mau jenguk ibuk kok," jawab Putri.
"Nggak sekalian honeymoon nih, udara di kampung kan pas banget Put."
"Pas apanya?"
"Pas buat yang enak-enakanlah. Emangnya kamu nggak mau? Kan kamu bentar lagi selesai itunya."
"Nggak, nanti sakit lagi."
"Pelan-pelan aja, janji deh nggak akan sakit."
"Kalau sakit gimana? Jupiter itu terlalu besar buat masuk ke kandangnya. Coba dikecilin dulu, Kak."
"Apa?"
❤❤❤
...Nah loh, Bang. Bisa nggak dikecilin? Putri niupnya terlalu kenceng sih, melembungnya kan jadi di luar batas 🤣🤣🤣...
Selamat siang Gaes,, gimana kabarnya? Semoga selalu sehat ya. Aku lagi demam batuk². Sedikit pusing. makanya agak slow. Mon maaf kalau kurang ngena ceritanya 🥲🥲🥲
Jangan lupa jempolnya diangkat 🥰🥰🥰
__ADS_1