Istri Big Boss

Istri Big Boss
Ekstra Bab 4


__ADS_3

ZAYYAN


Mas Kaisar dan istrinya datang menjenguk, bersama Kak Zayn juga. Kebetulan mereka baru pulang dari kantor setelah lembur katanya.


Bersama kakak iparnya, Putri terlihat lebih tenang dan tidak lagi cemberut. Karena itulah, aku membiarkan mereka ngobrol berdua, sementara aku menemani Kak Zayn dan Mas Kai berbincang di sofa rumah sakit.


"Jam segini baru pulang, Kak?" tanyaku pada Kak Zayn yang baru saja mengabari istrinya bahwa dia ada di rumah sakit menjenguk Putri.


Saat ini jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.30, dan mereka bertiga belum sampai rumah.


"Ya gitulah. Makanya kamu bantuin ke perusahaan biar tahu Za." Kak Zayn menyimpan ponselnya di meja, melipat tangan di dada, lalu bersandar pada sofa.


"Nggaklah, makin nggak ada waktu aku. Kuliah sama bengkel gimana, belum lagi sekarang ada Putri."


Aku tidak pernah tertarik dengan perusahaan. Bagiku, duniaku ada di bengkel, membantu orang-orang yang kesulitan. Ada rasa bangga saat mereka mengucapkan terima kasih karena motornya sudah bisa dipakai, sehingga mereka bisa kembali bekerja.


"Iya sih, apalagi udah mau punya anak, kakak aja sering tiba-tiba pulang kalau kangen si kembar." Kak Zayn tersenyum. mungkin ia sedang membayangkan wajah lucu ketiga anaknya.


"Kangen si kembar apa kangen mommynya?" sahut Mas Kai yang membuatku ikut menoleh pada laki-laki yang paling tua di antara kami.


"Ya dua-duanyalah. Kalau ada kesempatan kan harus dimanfaatin dengan baik. Juna juga harus dikeluarkan isinya, dan Dera sangat tahu itu."

__ADS_1


"Tuh, muka-muka kayak si bos kan emang muka-muka me*sum."


"Heh, Kai. Me*sum sama istri sendiri juga nggak masalah." Kak Zayn melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Mas Kai. "Denger Za, kita sebagai laki-laki itu harus punya prinsip. Perempuan cukup satu aja, mau kita sesukses apa pun, contohnya mama papa, mau hujan badai pun mereka tetap bersama. Mau secerewet apa pun istri kita pada akhirnya mereka lah yang akan menemani masa tua kita. Anak akan punya kehidupan sendiri, orang tua kita, nggak akan selamanya sama kita. Jadi, mau seperti apa pun istri kita, mereka tetaplah menjadi tempat akhir kita untuk bersandar."


Aku tertegun mendengar penuturan Kak Zayn yang memang ada benarnya. Terkadang aku merasa bosan dengan sikap istriku yang manja dan kekanak-kanakan. Akan tetapi, setelah mendengar nasehat Kak Zayn, aku bertekad untuk menerima apa pun sifat dan keadaan Putri.


"Iya, Kak. Aku akan terus berusaha."


Mas Kai menepuk pundakku. "Sabar-sabar aja ngadepin Putri, dia emang manja banget."


Aku mengangguk, mengiyakan apa yang Mas Kai katakan.


"Pulang yuk! Biar Putri bisa istirahat, udh malem," ajak Kak Zayn setelah melihat layar ponselnya.


"Masih sakit?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.


"Nggak."


"Mau aku kelonin nggak?"


Sebenarnya aku hanya iseng mengatakannya, tetapi kalau Putri merespon positif, aku akan sangat bahagia.

__ADS_1


"Ya udah tapi kelonin aja, jangan aneh-aneh," jawabnya sambil cemberut.


Seakan mendapat tiupan angin segar, aku langsung naik ke ranjang yang memang muat untuk kami berdua. Lalu, aku memeluknya, di bawah selimut yang sama.


"Cebongnya papa mau dikelonin papa ya?" Aku mengusap perut Putri yang saat ini ada di hadapanku. Kucium pipinya, yang kemudian membalas pelukanku.


"Kenapa cebong sih? Jelek banget Kak," protesnya yang kini sudah membenamkan wajahnya di dadaku.


"Nggaklah, dia pasti ganteng dan cantik. Airnya Jupiter kualitas super itu."


"Ih, dasar, aku nggak mau ketemu Jupiter dulu pokoknya."


"Iya iya, kan kandungan kamu masih lemah, dokter belum ngijinin kamu buat kangen-kangenan sama Jupiter."


"Ih Kak Za, pokoknya Jupiter harus puasa sampai dia lahir."


"Iya deh iya, palingan juga nanti kamu yang minta duluan." Aku membawanya dalam dekapanku, ternyata dia sudah mulai terpejam.


"Selamat tidur, istriku. Jadilah kuat untuk anak kita."


❤❤❤

__ADS_1


Selamat pagi, like, komen, hadiah dan votenya jangan lupa. Selagi komen masih ramai aku tetep update kok 🥰🥰


__ADS_2