Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 161


__ADS_3

ZAYYAN


Malam pertama pernikahanku dan Putri tidak ada yang spesial. Semuanya berjalan degan biasa-biasa saja. Aku dan Putri memang tidur di ranjang yang sama, tapi ada dua buah guling yang memisahkan jarak kami.


Pun demikian dengan yang terjadi pagi ini. Tidak ada ucapan selamat pagi yang menyambutku saat membuka mata. Entah ke mana Putri saat aku terbangun, ia tidak ada di kamarku. Tidak mungkin kan dia kabur? Setelah mandi aku akan mencarinya di bawah.


Aku baru selesai mandi dan mengeringkan rambut dengan handuk. Keluar dari kamar ganti untuk menyiapkan keperluan kuliah, ternyata Putri sudah ada di kamar.


Ia duduk melamun di tepi ranjang. Ragu-ragu aku mendekatinya yang tidak entah sadar aku ada atau tidak.


"Kamu kenapa?" tanyaku. Aku memilih duduk di sampingnya.


"Mama baik banget, aku jadi kangen Ibu. Baru sebentar Ibu di Jakarta dan sekarang harus pisah lagi," jawab Putri. Ia menundukkan kepala dan menarik ujung kaus yang dipakainya.


"Kamu mau ketemu Ibu? Aku ada urusan di kampus, nanti pulangnya aku jemput." Aku menepuk pundak Putri. Ingin memeluknya tapi takut dia marah, suasana hatinya sedang tidak baik saat ini.


Tiba-tiba Putri bersandar di pundakku. "Aku pengen bobok sama Ibu, tapi masa kita bobok bertiga," kata Putri.


"Kalau kamu mau nginep, aku jemputnya besok aja. Gimana?"


"Nanti Mas Kai sama Ibu marah, kita kan udah menikah, Kak." Putri mengangkat wajahnya. Wajah basah itu begitu sendu.


Ya, beginilah kalau menikah dengan perempuan setengah dewasa. Putri belum sedewasa Dera, pikirannya masih abu-abu. Kadang seperti anak kecil, kadang bersikap seakan dia sudah dewasa.


"Kakak, ih. Aku kan curhat kok malah Kakak ngelamun."


Aku menatap matanya lagi, menghapus air mata Putri, lalu tersenyum.


"Bobok sama Ibu pas siang aja, bobok siang kan bisa," balasku.


"Ya udah, ayok buruan keringin rambutnya kita pergi sekarang."

__ADS_1


***


Selesai urusan di kampus, aku langsung ke bengkel karena ingin Putri menikmati waktunya bersama Ibu. Setelah dari bengkel, aku menjemputnya di apartemen Asisten Kai yang sekarang menjadi kakak iparku. Minggu depan aku sudah bisa berangkat ke Inggris untuk mengecek asrama dan kampus tempatku kuliah nanti.


Setelah menekan bel, Putri membukakan pintu untukku. Wajahnya masih cemberut, tidak cantik seperti biasanya. Kenapa lagi kali ini?


"Ibu sama Pak De besok pulang, sawahnya Pak De waktunya panen. Kamu yang baik sama suamimu, jangan bandel, nurut apa yang dibilang sama suamimu," kata Ibu saat aku sudah duduk di ruang tamu.


"Kak Zayyan bentar lagi juga pergi," sahut Putri.


"Pergi kan untuk menuntut ilmu juga, nanti ibu bilang sama masmu supaya ngawasin kamu selama suamimu pergi," kata Ibu lagi.


"Iya iya Bu, ya udah aku pulang deh." Putri menyalami tangan Ibu dan Pak De, juga istrinya Asisten Kai.


Setelah berpamitan, aku memboceng Putri pulang bersama Nindy yang sudah empat tahun lebih menemaniku.


"Kakak, masih sore nih. Jalan-jalan yuk," kata Putri saat ia sudah naik di belakangku.


"Ke mana ajalah, aku belum pengen pulang."


Aku menghela napas lalu menyalakan mesin motor. Entah ke mana aku harus membawa Putri, aku hanya menyusuri jalanan, sampai tiba-tiba Putri menepuk pundakku dan meminta untuk berhenti di taman yang sepertinya cukup ramai.


Kami berdua memasuki taman, tanpa bergandengan seperti pasangan pada umumnya.


"Yah penuh," keluhnya. Ayunan yang sepertinya dia incar ternyata sudah dinaiki anak-anak kecil.


"Lagian kamu kayak bocil aja," ejekku.


Putri mengabaikanku dan ia berjalan menuju bangku besi yang cukup sepi. Mau tidak mau aku mengikutinya dan duduk bersamanya.


"Kamu kenapa sih?"

__ADS_1


"Kakak, apa Kak Za nggak aneh sama pernikahan kita?"


"Aneh kenapa?"


"Ya aneh aja, kita nggak saling suka tapi kita menikah, terus Kak Za bentar lagi ke Inggris, aku sendirian di rumah mertua. Menurut Kakak, aku bisa nggak ya jadi menantu idamannya Mama?"


"Em, mungkin belum bisa, tapi kalau kamu mau berusaha pasti bisa."


"Apa suatu saat nanti kita akan bercerai?"


Pertanyaan Putri membuat dadaku bergemuruh. Kami baru menikah kemarin dan sekarang Putri membahas perceraian.


"Kenapa kamu tanya itu? Apa kamu nggak yakin aku bisa bahagiain kamu?"


"Nggak gitu Kak, kalau nanti di Inggris ternyata Kakak ketemu cinta sejati Kakak kan nggak ada yang tahu."


"Putri, menikah itu sekali seumur hidup, bukan main-main. Aku akan menjaga mata, hati, dan pikiranku hanya untuk istriku. Begitu pun sebaliknya, aku ingin kamu juga menjaganya untukku."


Putri terdiam cukup lama. Kemudian, ia menatapku dan berkata, "Apa Kakak menginginkanku menjadi istri seutuhnya?"


"Maksud kamu?"


"Hakmu sebagai suami? Bisakah aku menundanya, enam bulan di luar negeri itu bukan waktu singkat, Kak. Aku takut kalau nanti aku hamil dan ...."


Aku tidak bisa tahan untuk tidak mencium Putri. Ada banyak keraguan di hatinya dan aku memahami itu. Aku berharap satu ciuman pertama kami bisa menghapuskan sedikit keraguan itu.


❤❤❤


Heyak, nungguin Jupiter ya. Sabar tahun depan pokoknya 🤣🤣🤣


Yuk, likenya jangan lupa. kembang sama kopinya juga boleh 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2