
Pagi mulai menyapa, untung saja aku sudah memasang alarm supaya bangun pagi. Benda pipih itu pun terus berbunyi, membuatku terpaksa meraihnya untuk menghentikan suara berisiknya.
Kak Zayn yang masih memelukku, ikut terbangun juga. Ia menggeliat lalu kembali memelukku.
"Jam berapa sih, Ra?" tanya Kak Zayn sambil mengerjapkan mata.
"Jam setengah lima," jawabku setelah berhasil mematikan alarm di ponsel.
"Masih gelap, Ra. Kita main lagi yuk!" kata Kak Zayn sambil mere*mas salah satu benda kenyalku.
Tulangku saja rasanya masih terasa remuk. Kenapa sekarang dia sudah menginginkan lagi? Apa dia tidak merasakan lelah?
Kak Zayn lalu bangkit dan menciumiku, tapi tiba-tiba perutku terasa nyeri yang sangat menyakitkan. Dari tanda-tandanya, aku rasa tamu bulananku akan segera datang.
"Kak, perutku sakit." Aku mencoba menyingkirkan wajah Kak Zayn dari dadaku, karena perutku rasanya benar-benar sakit.
"Kamu jangan bohong lagi, Ra!" kata Kak Zayn yang malah menghisap choco chip dengan gemas.
"Beneran, Kak. Kayaknya aku mau datang bulan." Aku berusaha melepaskan mulut Kak Zayn dari dadaku.
Kak Zayn bergeming, tapi satu tangannya bergerak turun menyentuh area bawahku. Aku yakin dia akan mengeceknya sendiri tanpa peduli dengan ucapanku.
"Kak, jangan!" cegahku.
__ADS_1
Namun, yang namanya keras kepala tetap saja keras kepala, Kak Zayn memasukkan satu jarinya ke dalam lubang surga rumah Juna. Jemari besar itu menerobos masuk tanpa permisi. Lalu, ia mengeluarkan lagi jarinya dan melihat hasilnya.
"Astaga." Kak Zayn langsung berlari ke kamar mandi setelah melihat sesuatu di jarinya. Ia berte*lanjang saat berlari ke kamar mandi.
"Kan udah aku bilang," teriakku.
Salah sendiri, tidak percaya omongan istri.
Aku memakai pakaianku yang berserak di lantai. Lalu, tak lama Kak Zayn keluar dari kamar mandi sambil memegang Juna.
"Aku pikir kamu ngerjain aku lagi, Ra," kata Kak Zayn yang kini meraih boksernya.
"Makanya, percaya sama istri," ocehku sambil menyerahkan kausnya. "Oh iya, aku nggak bawa pembalut, Kak."
Kak Zayn mengernyit, sepertinya ia sedang berpikir.
"Aku ke kamar Zea, minta begituan?" Kak Zayn menggaruk-garuk kepalanya.
"Iya, kalau ada sekalian obat nyeri ya, sakit banget perutku." Aku memegang perutku yang terasa nyeri, dan Kak Zayn memperhatikan itu.
"Iya deh, tunggu sebentar!" Kak Zayn lalu berdiri dan berjalan keluar kamar.
Beberapa saat kemudian, Kak Zayn kembali dengan membawa pesananku.
__ADS_1
"Nih, aku diketawain Zea, udah diancam-ancam nggak boleh kepo jangan sampai mengintip isinya." Kak Zayn mengulurkan paper bag kecil yang kutebak isinya pembalut.
"Yaudah, lagian ngapain juga kepo ngintip isinya." Aku berdiri dari ranjang, tapi Kak Zayn mencekal tanganku saat aku berniat ke kamar mandi.
"Jadi beneran, Juna puasa?" rengeknya sambil menyandarkan kepala di pundakku.
"Iya, selamat berpuasa Juna." Aku mencium tanganku sendiri, lalu mengusap Juna yang masih bersembunyi di balik celana Kak Zayn.
"Ra, jangan lama-lama ya puasanya," ucapnya sebelum aku masuk ke kamar mandi.
Aku segera mandi dan mengganti baju, untung saja beberapa pakaianku masih ada yang tertinggal di rumah ini.
Setelah itu, aku keluar kamar mandi dan melihat Kak Zayn sudah di depan laptopnya, sambil bertelepon dengan seseorang.
Lalu, aku meninggalkannya sendiri dan menuju dapur.
♥️♥️♥️
Selamat pagi
Masih semangat nunggu update 🥰🥰
Jangan lupa ritualnya.
__ADS_1
Like, komen, hadiah, vote.
Sampai ketemu lagi 😘😘