Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 145


__ADS_3

KAISAR


Sebagai seorang kakak, aku tidak bisa menutupi rasa kecewaku pada Putri. Sejak ayah meninggal, aku merasa bertanggung jawab lebih pada adikku itu. Dulu, aku sangat memanjakkannya. Mau sebandel apapun dia di sekolah, aku tetap membelanya.


Walaupun bandel dan susah diatur, tapi Putri gadis yang cerdas, karena itulah aku mengizinkannya untuk melanjutkan kuliah di ibu kota. Akan tetapi, keputusanku itu sepertinya salah besar, Putri justru semakin tidak bisa aku jaga. Bisa-bisanya dia berhubungan dengan adik atasanku sendiri, dan yang lebih parahnya, mereka bahkan berani berduaan di dalam apartemen kami. Entah apa yang sebenarnya mereka lakukan. Konsekuensinya, mereka harus menikah.


Setelah menyelesaikan urusan dengan Putri, sore ini sepulang kerja, aku menjemput Dara di rumahnya. Sebenarnya, bingung mau cerita bagaimana soal adikku. Aku takut papanya Dara akan marah dan menuduhku juga.


"Eh, Mas Kai, kata Mbak Dara suruh masuk dulu, Mas." Bibi yang bekerja di rumah Dara membukakan pintu gerbang rumah Dara.


"Eh, iya. Em, bapak di rumah?" tanyaku pada wanita yang sudah tidak muda itu.


"Kaisar, ayo masuk, ngeteh dulu!"


Belum sempat Bibi menjawab, papanya Dara sudah keluar memanggilku. Akhirnya, aku masuk mengikuti perintah calon mertuaku itu.


Setelah bersalaman dan saling bertanya kabar, kami duduk di teras depan rumah.


"Mau pergi ke mana?" tanya papanya Dara.


"Itu, Dara minta ditemenin cari kado buat temennya nikah, Om," jawabku berusaha setenang mungkin.


"Oh." Papa Dara manggut-manggut.


"Om, kalau pernikahan saya dan Dara dipercepat bagaimana?" tanyaku ragu-ragu.

__ADS_1


"Kenapa? Kalian nggak ...."


"Nggak Om, nggak kok. Kami tidak melakukan hal bodoh, kami masih paham norma-norma." Jantungku hampir melompat saat papa Dara curiga seperti itu.


"Lalu kenapa? Kalian nikah tiga bulan lagi, mau dipercepat bulan depan begitu?" Papa Dara bertanya dengan nada tinggi.


"Papa, kenapa sih?" tanya mamanya Dara yang keluar dengan membawa teh untukku. "Minum tehnya dulu Nak Kaisar," ucapnya sambil mengulurkan gelas teh yang terasa hangat di genggamanku.


"Makasih, Tante."


Mama Dara tersenyum, lalu kembali masuk ke rumah setelah mengantarkan teh padaku.


"Jelaskan, kenapa harus dimajukan!" ulang papa Dara yang tidak memberiku kesempatan untuk menikmati teh pemberian calon ibu mertua.


"Jadi, adik saya rencananya akan menikah juga, saga pikir lebih baik menikahnya dalam waktu yang hampir bersamaan saja, supaya sekalian persiapan dan segala macemnya, Om." Aku langsung meminum teh yang membasahi kerongkonganku, sampai habis tidak tersisa.


Papa Dara orang yang galak itu kalau bertanya tidak bisa pelan. Mungkin karena beliau seorang abdi negara, wajar saja sebenarnya.


"Adik saya tadi pagi dilamar adiknya Bos Zayn. Tuan Besar orangnya tidak suka dengan hubungan pacaran-pacaran begitu. Tuan Muda dan adik saya ketahuan pelukan di dalam kamar. Jadi, saya dan ibu menyetujui mereka untuk menikah. Maafkan saya Om," kataku sambil menundukkan kepala, tidak berani lagi menatap wajah calon papa mertua yang menyeramkan kalau sudah marah.


"Mereka pelukan saja atau bagaimana? Dia adik kamu jadi saya berhak tahu!" Suara lantang itu membuatku semakin berdebar tidak karuan. Jika saja aku tidak punya harga diri, mungkin aku akan memilih kabur saja dari papanya Dara.


"Em, yang dilihat mereka hanya pelukan, Om."


Aku tidak akan cerita kalau aku memergoki mereka baru selesai mandi sore itu. Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang lebih mendebarkan lagi nantinya.

__ADS_1


"Kalau saya jadi kamu ya saya akan nikahkan mereka, sudah benar kamu. Saya selalu bilang sama Dara, pacaran boleh saja, sekedar punya semangat kuliah. Kalau pelukan di kamar itu sudah kelewat batas. Apalagi sampai mau cium kening pas ngantar pulang."


Kalimat terakhir yang baru saja diucapkan papanya Dara itu pasti sindiran untukku yang pernah ketahuan hampir mencium Dara.


"Iya, maaf untuk yang waktu itu, saya dan Dara tidak akan mengulanginya lagi," balasku.


"Kalau sudah sah ya terserah kalian, tapi saat ini Dara itu masih milik saya sepenuhnya."


"Jadi, gimana Om. Kalau saya majukan pernikahannya?"


"Mas, nunggu lama ya. Yuk berangkat!" Dara muncul dari dalam rumah.


"Kalian pergi dulu saja, saya bicarakan dulu sama mamanya Dara."


Aku mengangguk.


"Kenapa sih, Mas?" Dara merangkul mesrah tanganku setelah kami bersalaman dengan papanya.


"Jangan gandengan dulu deh, ada papamu," bisikku.


❤❤❤


Selamat pagi gaess, sudah lapar apa sudah baper? Jangan lupa sarapan biar kuat menghadapi kenyataan 😍😍


Janganupa jempol ya tiap selesai baca, syedih aku kalau nggak dapat jempol dari kalian 🥲🥲

__ADS_1


Dah, aku mau nungguin kang sayur.😍 Sampai ketemu lagi 😘😘😘😘


__ADS_2