
DERA
Aku tercengang dengan pertayaan Kak Zayn mengenai lapis kukus asal Surabaa itu. Kak Zayn pikir jika ingin mencicipi kue embut itu harus pergi ke Surabaya langsung.
"Bisa nggak kalau aku suruh orang di kantor Surabaya buat paketin lapis kukusnya ke sini?" tanya Kak Zayn.
Aku pikir dia akan menyuruh orang untuk ke Surabaya demi kue itu, ternyata pikiran Kak Zayn masih bekerja. Kalau aku tega, ingin sekali mengerjainya, tapi pasti ujung-ujungnya yang disuruh malah asistennya. Aku tidak setega itu dengan pengantin baru.
"Coba tanya Vivi deh, aku lihat di tempat sampah ada bungkusnya, kali aja dia belinya nggak di Surabaya." Aku duduk di sofa, menyelonjorkan kaki yang terasa pegal-pegal.
"Berarti nggak harus beli di Surabaya 'kan?" tanya Kak Zayn.
"Pokoknya aku mau yang ada mereknya itu, yang dari Surabaya, terserah mau beli di Surabaya, Bandung, Jakarta, apa ke Korea juga nggak apa-apa asal yang merek asli Surabaya," jawabku sambil merebahkan tubuh di sofa lalu memejamkan mata, karena rasa kantuk tiba-tiba menyerang pikiranku.
"Iya Queen, ini aku suruh Vivi aja." Suara Kak Zayn masih jelas kudengar, walau posisiku membelakanginya. "Vi, ke ruangan saya!" perintah Kak Zayn yang sepertinya berbicara dengan sekretarisnya melalui telepon.
Tidak berapa lama, suara pintu terbuka. Sepertinya Vivi datang menuruti perintah bosnya.
"Iya Bos, ada yang bisa aya bantu?" Suara Vivi memenuhi ruangan kerja khusus pemimpin tertinggi di kantor ini.
__ADS_1
"Kamu tahu yang jualan lapis kukus dari Surabaya?" tanya Kak Zayn.
Meski mengantuk, aku masih penasaran dengan pembicaraan sekretaris dan bosnya itu.
"Oh, lapis kukus Surabaya, saya tahu Tuan," jawab Vivi.
"Kamu bilang sopir suruh antar kamu beli lapis kukus itu."
"Iya Tuan, oh iya ini berkasnya pengajuan bonus tahunan sudah selesai saya periksa."
Mendengar jawaban Vivi aku merasa lega, dan sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak.
Aku terbangun di tempat yang berbeda. Seingatku tadi aku memang sengaja tidur di sofa supaya bisa menemani Kak Zayn bekerja, tapi saat ini aku bangun dan berada di kamar khusus yang ada di ruangan Kak Zayn.
Aku bergegas bangun dari kasur empuk dan keluar dari kamar ini. Aku lihat Kak Zayn sedang mengamati layar monitor di hadapannya sambi sesekali tangan kanannya bergerak lincah memainkan mouse yang terhubung dengan monitornya.
Di meja lain, ada tumpukan kardus yang aku yakin berisi lapis kukus. Bisa dilihat jelas dari tulisan besar pada karton tersebut.
"Kamu udah bangun?" tanya Kak Zayn.
__ADS_1
Sambil menguap, aku berjalan menuju meja yang penuh dengan tumpukan lapis kukus itu.
"Sebanyak ini buat apa?" tanyaku pada Kak Zayn.
"Aku lupa tanya ke kamu mau yang rasa apa, kata Vivi varian rasanya banyak jadi aku suruh aja beli masing-masing vaian empat kotak, mereka kan ada empat aku nggak mau mereka rebutan di dalam perut kamu," jawab Kak Zayn sambil cengengesan.
"Emangnya aku makan nggak dikunyah kok sampai mereka rebutan," balasku dengan sewot.
Kubuka satu persatu kardus yang membungkus kue yang hanya bertahan tiga hari itu.
"Bercanda, Sayang. Nanti kita bawa pulang ya, buat camilan kamu kalau malam." Kak Zayn menghampiriku dan ikut duduk di sofa.
"Ya nggak bisa Kak, ini hanya bertahan tiga hari. Udah deh biar aku pilih rasanya, nanti sisanya kasih aja ke satpam sama OB."
❤❤❤
Mbak Dera baik deh, masih inget OB sama Satpamnya. Jangan lupa sopirnya yang tadi nganter beli lapis dikasih juga. Kalau masih ada sisa, sini bagiin ke aku juga 🤣🤣🤣
Selamat siang gaes. jangan lupa jempolnya. Habis ini kita tengok Jupiter ya, eh maksudnya si Zayyan. Awas kalau jemponya nggak ditinggal kayak di Bab 157 😭😭😭
__ADS_1