
Ekspresi wajah Kak Zayn seketika berubah. Yang tadinya semangat menggebu-gebu, seketika langsung lemas dan memanyunkan bibirnya.
"Kok mendadak sih, Ra. Tadi pagi kayaknya belum," kata Kak Zayn.
"Ya, nggak tau, kan emang udah waktunya," jawabku sambil melepaskan pelukan Kak Zayn.
"Aku mau lihat." Kak Zayn menyingkap rok yang kupakai, memperlihatkan pahaku yang putih bersih.
"Apaan sih Kak Zayn, menjijikkan tau nggak," protesku sambil berusaha menyingkirkan tangan Kak Zayn dari pahaku.
Kak Zayn tidak peduli, ia terus bergerak menyentuh dalaman ketat yang kupakai.
Mati aku! Pasti ketahuan! Tamatlah riwayatku!
Tangan Kak Zayn menyusup ke dalam kain itu dan bersentuhan langsung dengan area pribadiku. Setelah itu, Kak Zayn mengeluarkan tangannya.
"Kamu bohongin aku, Ra?" tanya Kak Zayn yang kini bersiap menerkamku.
"Sayang, aku nggak maksud gitu, aku cuma bercanda," kataku sambil membenarkan rok yang kupakai.
Kak Zayn berdiri dan berjalan menuju mejanya, wajahnya terlihat sangat kesal. Aku tidak mau menjadi sasaran amarahnya, lalu aku berjalan cepat menuju pintu sambil mengancingkan kemejaku.
"Vi, jangan ada yang ganggu saya, batalkan meeting hari ini!" Kak Zayn meletakkan gagang telepon itu dengan kasar.
Aku melihatnya berjalan ke arahku, lalu aku berusaha membuka pintu dan ternyata terkunci.
"Aku sudah menguncinya dari tadi, Ra. Kamu nggak akan bisa kabur." Kak Zayn berhasil mencekal tanganku karena sekarang aku terkurung di ruangan ini.
"Ampun, Kak. Aku cuma bercanda."
Kak Zayn seperti tuli, ia malah menggendongku, membuatku meronta-ronta minta turun.
__ADS_1
"Aku nggak peduli, Ra." Kak Zayn berjalan cepat menuju kamar tidur yang ada di ruangan direktur ini.
Kak Zayn melemparkan tubuhku ke ranjang empuk berukuran single bed.
Lalu, Kak Zayn melepaskan kancing kemejanya satu per satu dan melemparkan satu-satunya kain yang menutupi tubuh bagian atasnya itu. Setelah itu, Kak Zayn mendekatiku dan melepaskan seluruh kancing kemejaku hingga bra merah muda yang kupakai terlihat jelas.
"Kamu harus dihukum karena berani membohongi suamimu sendiri." Kak Zayn melepas paksa kemeja juga bra dari tubuhku.
"Sayang, kita bisa bicara baik-baik kan?" tanyaku berusaha merayunya, karena sebenarnya aku takut jika Kak Zayn bermain kasar dan menyakitiku.
"Nggak perlu, sekarang kamu hanya perlu menjerit dan berteriak." Kak Zayn menarik celana da*lam yang kupakai dan melemparnya lagi.
"Sayang, kamu jangan bikin aku takut." Aku menutup mata dengan kedua telapak tanganku.
Sejujurnya aku benar-benar ketakutan, pasti rasanya sangat menyakitkan jika Juna melesat masuk dengan paksaan.
Tiba-tiba, aku merasakan tangan besar menarik tanganku. Ternyata Kak Zayn sudah berada di hadapanku dan bersiap menindih tubuhku.
Kak Zayn melepaskan ciuman kami, dan menyu*su di dadaku. Satu tangannya beralih membelai lembah surga di bawah sana.
Aku tersiksa oleh kenikmatan yang tercipta dari setiap sentuhan yang ia berikan. Bisakah aku menolaknya? Tidak, ini sungguh nikmat.
"Kak Zayn." Aku menyebutkan namanya karena rasa nikmat yang menjalar di sekujur tubuhku.
Kak Zayn benar-benar pandai membuatku mendamba keperka*saan Juna.
"Terimalah hukumanmu, Ra." Kak Zayn mengarahkan Juna tepat di pintu surgawi milikku.
*
*
__ADS_1
*
Peluh membasahi sekujur tubuh, dinginnya AC perlahan mulai terasa saat kami benar-benar menyelesaikan permainan panas ini.
Dengan napas tersengal-sengal, Kak Zayn memelukku dari belakang. Ranjang sempit ini memaksa kami untuk berhimpitan saling berbagi kehangatan.
"Kamu puas, Ra?" tanya Kak Zayn sambil mengusap keringat di dahiku, rambutku terasa lepek di area itu.
Aku tidak mau menjawab, rasanya malu, tapi tentu saja aku sangat puas.
"Masih mau lagi?" Kak Zayn mencium pipi lalu beralih ke leherku.
Aku menggeleng, rasanya sangat lelah. Tenagaku habis terkuras, karena Kak Zayn tidak hanya membuatku meledak sekali, tapi berkali-kali.
"Kamu nggak mau jawab, Ra? Apa kamu mau aku hukum lebih dari ini?"
Seketika aku memukul lengannya dengan kuat.
Memangnya dia pikir tenagaku tenaga mesin?
♥️♥️♥️
...Makanya Ra, jangan ngerjain suami 🤭🤭...
Aku skip bagian intinya 😅😅😅 sengaja, biar nggak di demo bocil 🤭🤭
Dah aku mau lanjut tugas negara.
Nanti disambung lagi.
Jangan lupa ritualnya.
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 😘😘😘