Istri Big Boss

Istri Big Boss
Ekstra Bab 23


__ADS_3

PUTRI


Setelah pulang dari rumah sakit, Kak Za langsung mengajakku pulang. Ia sangat senang dengan kehamilanku, sama halnya denganku yang sangat bahagia. Akhirnya, aku bisa hamil lagi setelah menunggu sangat lama.


Kak Za dengan sangat bahagia menceritakan kabar kehamilanku pada Mama dan Papa yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah. Memang semenjak beberapa tahun ini Mama dan Papa lebih suka tinggal di rumah mereka, daripada di rumah peninggalan Kakek Darma ini.


"Selamat ya, Sayang. Akhirnya, kamu dipercaya juga," kata Mama sambil menghadiahiku dengan pelukan hangatnya. Mama Marisa memang mertua yang terbaik menurutku. Beliau begitu sabar dan penyayang.


"Makasih ya, Ma. Sebenarnya aku pengen Mama di sini temani aku. Kalau Kak Za kerja, aku kan kesepian, Ma," ucapku bermanja pada Mama.


"Gimana, Pa?" Mama memandang Papa yang menikmati teh hangatnya.


"Mau ya, Pa. Please!" Aku mengatupkan kedua tangan, membuat permohonan pada Papa.


"Ya, baiklah. Anak papa yang paling manja ini lagi hamil. Jadi, papa akan turuti keinginannya," kata Papa yang membuatku kegirangan.


"Makasih, Pa. Makasih Ma."

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang."


"Aku mau ke kamar dulu, Ma. Yuk Kak, anterin!" pintaku dengan manja.


Kulihat Mama dan Papa hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala, sedangkan Kak Za merangkulku dan kami naik ke kamar kami.


Sesampainya di kamar, aku langsung membuka buku catatan milikku. Lalu, aku menulis sebuah daftar yang menjadi keinginanku selama ini.


"Aku telfon Zidan dulu ya Honney," ucap Kak Za sebelum akhirnya keluar kamar menuju balkon.


Selama menunggu Kak Za bertelepon, aku menulis semua daftar yang aju beri judul 'Daftar Ngidam ZaPut Junior'. Meski Kak Za lebih suka memanggilnya cebong, aku lebih suka memanggilnya dengan singkatan nama kami.


"Put, kamu udah nulisnya?" Kak Za menutup pintu yang menjadi satu-satunya akses menuju balkon kamar kami. Saat siang begini memang sangat panas di balkon, tapi kalau sore atau pagi, tempatnya sangat cocok untuk bersantai.


"Udah dong. Nih coba Kakak baca." Aku menyodorkan buku berisi tulisan tanganku sendiri.


Kulihat Kak Za sedikit mengangkat alisnya saat membaca tulisanku.

__ADS_1


"Belut bakar, kepiting saus pedas, siomai, gado-gado, rujak buah, es doger. Belalang goreng. Ketela bakar. Ini apa sih?"


Kak Za belum sepenuhnya membaca tulisan tanganku.


"Itu daftar ngidam aku, karena aku nunggunya juga lama, makanya aku ngidam yang banyak biar Kak Za nggak bisa nolak. Inget! Kalau nggak diturutin nanti anaknya ileran loh!" ancamku sembari tersenyum puas.


Aku harus membuat momen mengidam versi aku. Pasti Kak Za akan menurutiku dengan pasrah.


"Ngidam itu pengen banget dan spontan Put. Bukan direncanakan kayak gini," kata Kak Za yang malah protes dengan daftar keinginanku yang panjang.


"Jadi, Kakak nggak mau nurutin? Kakak nggak mau kabulin ngidam aku?" tanyaku dengan kesal.


"Ya, nggak gitu Putri, tapi masa iya sih orang ngidam direncanain. Ini ngidam apa ngerjain suami sih?"


❤❤❤


Cie cie yang udah bikin daftar ngidam, seneng nih udah bisa rasain hamil. Tenang Za, nanti kalau udah mual mual juga nggak doyan makanan kayak gitu 😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2