
ZAYYAN
Setahun semenjak kehilangan calon anak kami, Putri sudah banyak berubah. Istriku itu tidak lagi bersikap kekanak-kanakan. Ia sudah pintar mengatur waktu antara kuliah dan urusan rumah.
Mama dan Papa sudah sangat jarang tinggal di rumah peninggalan Kakek. Mereka lebih suka meghabiskan waktu di rumah sederhana mereka di tepi pantai, seperti impian Mama. Apalagi Papa sudah menyerahkan bengkel sepenuhnya untukku. Jadi, rumah ini sekarang aku dan Putri yang menempati.
"Kak, Mama besok nggak ke sini katanya. Mau nengokin Selena." Putri memberitahuku saat aku baru selesai mandi, sedangkan dia menungguku di kamar.
Aku mendekat dengan rambut yang masih basah terbalut handuk. Lalu, dengan sigap Putri berdiri dan membantu mengeringkannya.
"Kamu mau tengokin Selena juga, nggak?" tanyaku.
Putri menghentikan gerakannya. Tak lama ia melanjutkan lagi kegiatannya mengeringkan rambutku.
"Nggak deh, aku besok mau di rumah aja. Rebahan santai, sambil ngerjain tugas kuliah."
"Oke, terserah Ibu Negara saja," balasku.
__ADS_1
"Kalau anak kita selamat, pasti sekarang kebahagiaan kita udah lengkap ya. Seperti Kak Zea yang memiliki Selena," kata Putri.
Aku menoleh untuk melihat wajahnya yang berubah sedih. Aku tahu dia masih menyesali kepergian calon anak kami, tapi aku tidak suka setiap kali Putri bertingkah seperti itu.
"Udahlah, yang lalu ya udah biarin berlalu. Kalau Tuhan percaya sama kita, kamu pasti akan hamil lagi." Aku berusaha menenangkan pikirannya. Entah sudah berapa kali aku mengatakan hal ini padanya.
"Aku pengen hamil lagi," ucapnya dengan lirih. Ia duduk di sampingku sambil memainkan kedua tangannya. Jemarinya saling bertautan sedangkan kepalanya tertunduk.
"Kalau pengen hamil lagi, tunggu fisik dan mental kamu siap dulu. Nikmati aja masa muda kamu dulu, bersenang-senang sama teman, lakukan apa pun yang kamu suka!" Aku memeluknya dari samping, lalu kukecup keningnya dengan lembut.
Tanganku mulai bergerak di bukit kembar Putri yang masih saja kenyal, padat dan kencang. Aku sangat menyukai bagian ini. Dengan perlahan, aku membuka kancing piyama yang dipakai Putri saat ini. Bra warna pinknya mulai terlihat menggodaku. Renda-renda putih dengan hiasan seperti permata menghiasi bra yang membungkus buah kenyal itu.
Aku mencari pengait di belakang punggung Putri. Setelah berhasil, aku melepas seluruh pakaian atasnya itu. Pikiranku sudah tidak terbayang-bayang rasa lezat buah ranum itu, lalu dengan lahap aku menikmatinya.
Putri juga tidak tinggal diam, tangannya bergerak mencari posisi Jupiter yang masih terbungkus celana kain. Aku semakin diburu nap*su saat Putri berhasil mengelus Jupiter dari balik celana.
"Keluarin Jupiter dong, Honney," pintaku sambil memijat gundukan yang bergantian kuhisap.
__ADS_1
"Nanti dulu, aku pengen dia bangun," jawabnya.
"Dia udah mulai bangun, tapi emang belum keras." Aku kembali mennyesap chocochip yang sudah tegak.
"Biarin dia keras di dalam," jawab Putri yang mulai menggodaku.
"Jadi kamu pengen nyiksa aku dulu ya. Oke, aku akan balas kamu." Aku tersenyum smirk, lalu tanganku mulai bergerak di bagian bawah Putri, kandang Jupiter yang sebenarnya.
"Nggak nyiksa, tapi ini enak, 'kan?" Putri menggigit bibir bawahnya saat tanganku mulai berhasil menyentuh area pribadinya setelah berhasil menurunkan celana piyama berbahan kain itu.
❤❤❤
Cie cie nungguin Putri sama Zayyan 😍😍😍 Mau enak-enak ya 🤣🤣🤣 Like sama komennya yang banyak dulu. Jangan lupa follow akun MT/NT aku dengan klik gambar profil aku, lalu ikuti. Kalau aku bikin karya baru yang nganu-nganu biar dapat notif 😅😅
Kebanyakan mau Thor, update nggak rutin.
Haha iya, soalnya aku habis sakit juga. Fokus ke Rafka yang emang ikut lomba 🙈🙈🙈. Mon maap ya 😍😍😍
__ADS_1