
Hamil? Aku benar-benar hamil? Ya Tuhan, rasanya ingin sujud syukur sekarang juga. Setelah setahun lebih menunggu, akhirnya aku bisa hamil juga.
"Usia lima minggu, masih sangat rentang. Kira-kira dia baru sebesar biji apel. Jadi, Ayah dan Bunda harus menjaga dengan sangat hati-hati. Istirahat yang cukup, makanan bergizi dan juga hindari stres, saya akan resepkan obat demam dan vitaminnya." Dokter Nayla telah selesai melakukan pemeriksaan.
Aku bangun dibantu Kak Zayn yang tidak henti-hentinya tersenyum.
"Dokter, saya kan kembar, apa mungkin istri saya ada peluang hamil kembar juga?" tanya Kak Zayn setelah membantuku duduk di kursi.
"Bisa saja, lebih tinggi kemungkinannya kalau dari gen ibu, tapi saat ini masih terlalu dini, Pak. Jadi, belum terdeteksi USG. Setelah usia dua belas minggu kita USG lagi, apakah tunggal atau kembar," jelas Dokter Nayla.
"Kenapa saya tidak mual seperti orang hamil ya, Dok?" tanyaku yang juga ingin banyak tahu tentang kehamilanku.
"Karena ini baru lima minggu, dan masih sangat awal. Jadi, mungkin beberapa minggu ke depan atau bahkan tidak mual sama sekali. Memang setiap kehamilan itu pasti berbeda, dan tidak bisa disamakan."
Setelah puas mendengarkan penjelasan Dokter Nayla, kami kembali pulang ke rumah.
Sampai di rumah, Kak Zayn langsung memaksaku makan.
"Kamu harus makan yang banyak, sekarang kamu makan untuk dua orang, Queen," kata Kak Zayn saat menemaiku makan.
Nasi hangat dengan tumis kangkung dan juga udang goreng sudah tersaji di meja makan. Lalu, aku mulai memaksa makan walau rasanya perutku seperti kenyang.
__ADS_1
"Iya, Kak. Ternyata bener kata Kimmora, kalau makan toge kita bisa cepet punya anak," kataku sambil menyuap makanan ke mulut.
"Kimmora? Jadi makan toge itu usulan dia?" tanya Kak Zayn
"Iya, dia bilang kalau dia hamil karena tiap hari masakin Arsen sayur toge itu," jawabku.
"Astaga, tapi sekarang aku nggak perlu makan toge lagi, 'kan?." Kak Zayn menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu memberikannya padaku, saat aku keselai makan.
"Kalau emang Kak Zayn nggak suka ya sudah nggak usah dimakan. Tugas kita sekarang adalah menjaga supaya dia tetap sehat dan selamat saat lahiran nanti."
*
*
*
"Kita ke dokter ya?" ajak Kak Zayn yang tengah memijat tengkuk hingga ke pundakku.
"Nggak mau, nanti siang juga pasti baikan," tolakku.
Kak Zayn menghela napasnya dengan kasar. Aku tahu dia pasti khawatir dan tidak tega dengan keadaanku, tapi aku benar-benar tidak suka aroma rumah sait, makanya aku tidak pernah mau saat diajak ke rumah sakit.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa? Biar aku carikan," kata Kak Zayn yang masih setia memijat pundakku.
Aku berdiri dan membersihkan mulutku, lalu keluar kamar mandi dan kembali ke tempat tidur. Sedangkan Kak Zayn membuntuti di belakang.
"Apa kamu tersiksa?" Kak Zayn duduk bersimpuh di lantai, sedangkan aku duduk di tepian kasur.
"Tersiksa kenapa?" tanyaku tidak paham
"Karena mengandung anakku, kamu jadi mual terus, tidak mau makan, sampai tubuh kamu kurus begini." Kak Zayn menundukkan kepalanya di atas pahaku dan tangannya memeluk kedua kakiku sangat erat.
"Semua ibu hamil pasti mengalami ini. Kakak tahu 'kan, aku sudah menantikan momen hamil ini sangat lama. Aku bahagia sekali saat tahu aku hamil," ucapku yang kini mulai mengusap-usap pelan rambut tebal suamiku itu.
"Tapi kamu nggak mau ke rumah sakit, padahal kamu muntah-muntah terus. Anakku benar-benar menyiksamu, Queen."
"Sebenarnya, aku tu benci bau rumah sakit, makanya aku males kalau ke rumah sakit."
"Kalau gitu, aku suruh Kaisar hubungi Dokter Nayla ya, supaya Dokter Nayla mau ke sini."
Aku mengangguk setuju, dan tak lama Kak Zayn menghubungi asistennya unuk mendapatkan kontak Dokter Nayla, karena kami memang tidak memilikinya.
Dalam satu jam, Asisten Kaisar datang bersama Dokter Nayla yang kemudian memeriksaku yang kemudian memberikan resepnya.
__ADS_1
"Istri saya tidak mau ke rumah sakit. Di sini banyak ruangan kosong, kalau saya membeli peralatan rumah sakit, apakh Dokter mau merawat istri saya? Saya akan bayar berapapun itu," kata Kak Zayn yang membuat Dokter Nayla terbengong.
♥️♥️♥️