Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 106


__ADS_3

Pemandangan laut di sini memang sangat menakjubkan, kami disuguhkan sensasi snorkling bersama ikan hiu berukuran kecil. Pengalaman pertama bagiku menikmati keindahan bawah laut Maldives, apalagi ditemani ikan hiu seperti ini.


Cuaca buruk memaksa kami harus menyudahi kegiatan air ini, dan kembali ke kamar karena hujan mulai turun. Setelah mandi berdua dengan air hangat, kami duduk di tepi ranjang sambil memandang hujan deras di balik pintu kaca yang menghadap langsung ke laut.


Aku sedang mengeringkan rambut yang basah dengan handuk, saat tiba-tiba Kak Zayn memeluk pinggangku.


"Beib," kata Kak Zayn yang membuatku melotot.


"Aku kan udah bilang kalau aku nggak suka dipanggil gitu, Kak," protesku. Rasanya sangat aneh mendengar Kak Zayn memanggilku dengan panggilan itu, bagiku seperti anak SMP atau SMA yang sedang merasakan cinta monyet.


"Ya udah, Dera aja." Kak Zayn mengerucutkan bibir lalu merenggangkan pelukannya.


"Jangan ngambek, panggil aku Sayang aja," usulku lalu mencium pipinya. Kalau sampai dia ngambek, urusannya bisa panjang.


"Arsen sama Kai 'kan manggil pasangannya juga gitu, Ra. Aku nggak mau disama-samain gitu, karena kamu istimewa, kamu ratu di hatiku." Kak Zayn kembali merapatkan tubuhnya ke tubuhku, menciptakan rasa hangat walau di luar sedang hujan deras. "Love you, My Queen," bisiknya tepat di telingaku, membuat bulu-bulu halus di sekitar leherku meremang.


Pipiku terasa panas, mungkin saat ini sudah semerah jambu warnanya.

__ADS_1


"Kamu tau nggak, kenapa di luar hujan deras?" tanya Kak Zayn yang kini menarik tubuhku untuk rebah di kasur.


"Kenapa?" Aku pura-pura tidak mengerti, padahal sejujurnya aku sangat paham arah pembicaraan suamiku itu.


"Karena alam semesta ingin kita di kamar aja, Queen. Supaya kita benar-benar menikmati bulan madu kita." Kak Zayn mencium bibirku cukup lama, lalu melu*mat dan membuatku terbang ke angkasa. "Bertani yuk!" katanya sambil menaik-turunkan alisnya dengan cepat.


"Hah? Bertani gimana?" Kali ini aku bukan pura-pura tidak paham, tapi memang benar-benar tidak paham apa maksud Kak Zayn.


Apa ia sedang berencana banting setir menjadi seorang petani, tapi kenapa?


"Iya, bertani. Pengen nyangkul di sawah." Kak Zayn semakin merapatkan pelukannya di tubuhku.


Yang ditatap malah cengengesan dan malah mendaratkan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahku.


"Istriku gemesin banget sih, jadi makin sayang deh," katanya sambil menangkup wajahku dan mengecup bibirku lagi dan lagi.


"Ih, jelasin dong, jangan bikin aku bingung!"

__ADS_1


Kak Zayn memposisikan tubuhnya berada di atasku. Membuat jantungku berdebar tidak karuan saat menatap wajahnya yang memang sangat tampan.


"Aku emang mau jadi petani, mencangkul dan membajak sawah sebelum akhirnya mananam benih di sini." Ia mengusap perutku yang terbalut kaus ketat berwarna putih. "Jadi, sekarang aku akan membuat sawahnya siap dicangkul dulu," kata kak Zayn yang kembali mencium bibirku, lembut tapi membangkitkan gai*rah.


Belum juga kami melepas pakaian, tiba-tiba ponsel Kak Zayn berbunyi.


"Duh, siapa sih ganggu aja," kata Kak Zayn yang langsung turun dari ranjang dan menghampiri ponselnya.


Mau bagaimanapun keadaannya, kalau ponselnya berbunyi pasti kak Zayn akan tetap mengangkatnya, karena siapapun peneleponnya, pasti itu panggilan penting. Tidak ada yang bisa menghubungi ke nomor ponselnya kecuali orang penting, itu yang pernah Kak Zayn katakan.


"Ya, halo Pa." Kak Zayn menjawab teleponnya, yang sepertinya panggilan dari Papa Elvan.


"Zea mau lamaran? Kapan?" kata Kak Zayn lagi.


Kak Zayn belum mengakhiri panggilannya, ganti ponselku yang berbunyi. Langung ku sahut ponselku di nakas.


MAMA

__ADS_1


Ada apa ini? Perasaanku tidak enak, sepertinya bulan madu kali ini harus berakhir singkat lagi.


♥️♥️♥️


__ADS_2