
ZAYYAN
Ibu mertua berjualan jajanan dan kue buatan sendiri yang dijual ke pasar. Setiap pagi setelah subuh, Ibu mulai membawa dagangannya yang dibuat sejak kemarin malam dan beberapa yang dibuat dadakan sebelum subuh.
Setelah semua siap, aku bersama Putri berjalan kaki menuju pasar, sementara Ibu menunggu di rumah.
"Kamu biasa bantu Ibu jualan di pasar?" tanyaku pada Putri saat kami menata dagangan di lapak sederhana milik Ibu.
"Kalau libur aja sih Kak, dulu aku kan masih sekolah," jawabnya masih sibuk menata dagangan.
Kami terus berbincang, cerita Putri tentang kehidupannya yang sederhana memang sangat menarik buatku. Tanpa terasa, ia terus bercerita sampai hari tidak lagi gelap, dan pembeli mulai berdatangan.
"Sekarang kamu yang jualan, Put." Seorang wanita yang menenteng tas berisi sayur mayur.
"Iya Bu, mumpung lagi libur."
"Em, bawa pulang pacar anak kota ya kamu," goda ibu-ibu itu. "Mas Ganteng, minta foto dong!"
Putri masih membungkus pesanan si Ibu, saat tiba-tiba ibu itu merangkul tanganku dan diajak berswa foto.
"Dia suami saya Bu, ini pesanannya." Putri mengulurkan sekantung plastik berisi jajanan yang sebelumnya sudah dipilih oleh ibu tersebut.
"Kamu udah nikah. Wah, kalau aku punya suami ganteng kayak gini, nggak akan aku izinin keluar kamar, lumayan buat memperbaiki keturunan." Wanita yang sudah tidak lagi muda itu tersenyum genit padaku.
"Kalau di kamar terus nggak kerja dong," sahut Putri yang mulai terdengar ketus.
"Ya kerja Put, kerja di kasur." Ibu-ibu itu mengedipkan mata genit padaku, lalu berlalu pergi.
__ADS_1
Sementara Putri terlihat cemberut sambil menggerutu.
"Yang dia bilang bener juga sih, kan enak kalau di kamar terus." Aku sambil membayangkan betapa bahagianya jika bisa setiap hari bercinta.
"Nggak nggak, kalau begituan terus bisa-bisa aku hamil. Nanti kalau aku hamil, Kakak mau gendong bayinya?" Dia semakin sewot.
"Ya mau bangetlah, kan aku bapaknya."
Kalau dia sudah marah, wajah cemberutnya itu semakin menggemaskan.
"Masih kecil udah jadi bapak-bapak, nanti empat puluh tahun udah jadi kakek-kakek."
Kalau ini bukan di pasar, pasti saat ini juga aku sudah mencium bibirnya itu.
*
*
*
Kamar Putri bersebelahan dengan dapur, dan samar-samar aku masih bisa mendengar percakapan ibu dan anaknya yang manja itu.
"Ibu, kalau nanti aku hamil menurut Ibu gimana?"
"Ya bagus dong, Sayang. Itu namanya kamu dipercaya sama Allah. Kamu lihat Mas Kaimu sampai sekarang ibu terus doain supaya dia segera dikasih keturunan."
"Kalau biar nggak hamil gimana, Bu?"
__ADS_1
"Ya jangan berhubungan badan."
"Tapi dosa Bu, lagian ternyata enak juga."
Mendengar kalimat Putri, aku berusaha menahan tawa dengan menutup mulutku. Ternyata, sekarang dia sudah mengakui kalau itu enak, dan tidak sakit.
"Hus, dasar anak ibu ini, nggak malu kalau didengar suamimu?"
"Nggak Bu, katanya Kak Za tadi mau tidur, pasti sekarang udah ngorok."
Aku masih belum tidur, dan bisa mendengar semuanya Putri.
"Memang kamu sudah hamil?" Ibu kembali bertanya.
"Ya belum sih Bu, semoga aja nggak hamil dulu Bu, aku masih pengen kuliah."
"Belajarlah dewasa, kamu bukan anak kecil lagi! Sekarang ada suamimu dan keluarganya juga, yang harus kamu pikirkan juga perasaan mereka! Kalau mereka mengharapkan kamu hamil, kamu jangan egois! Tujuan menikah itu selain untuk ibadah juga untuk mendapatkan keturunan."
"Tapi Bu, aku masih kecil, nikah pun juga dadakan dan bukan sepenuhnya kemauan aku, aku masih ingin bebas Bu."
Ucapan Putri seperti sebuah sentilan untukku, saat aku mengajaknya menikah, aku bahkan tidak memikirkan perasaannya. Soal anak, sepertinya aku tidak akan bertindak egois lagi. Aku akan menyerahkan semuanya pada Putri.
❤❤❤
Selamat siang gaes, maaf telat ya. Tiba-tiba aku drop lagi 😭😭😭 Makasih buat kalian yang masih nungguin 😘😘😘
Jangan lupa jempolnya, komen juga🥰🥰
__ADS_1