
ZAYYAN
Putri sepertinya tidak begitu bahagia dengan kehamilannya. Setelah kepergian dokter yang mengatakan bahwa ia hamil, Putri lebih banyak diam, tidak cerewet seperti biasanya. Sesekali air mata meluncur membasahi pipinya, tapi dengan secepat kilat ia menghapus air mata itu.
"Kamu tahu tidak, kenapa Tuhan menitipkan makhluk kecil di perutmu?" tanyaku sembari menggenggam tangannya.
Putri masih diam, ia belum mau mengeluarkan suaranya, membuatku semakin frustasi.
Mama dan Papa datang menjenguk, membawa beberapa buah segar, karena dokter menyarankan agar Putri dirawat.
"Apa yang kamu rasakan, Sayang? Apa masih sakit?" tanya Mama. Mama duduk di sebelah ranjang, menggantikan posisiku.
"Udah nggak kok Ma. Mama, aku beneran hamil ya?" tanya Putri. Sepertinya ia masih belum menerima kehamilannya.
Mama tersenyum, menarik tangan Putri, lalu mengarahkannya ke perut Putri yang tertutup selimut rumah sakit.
"Kata dokter kan emang kamu hamil. Hamil itu rejeki yang paling ditunggu-tunggu loh. Mama dulu sebelum hamil si kembar malah pernah keguguran."
"Sakit ya Ma keguguran itu?"
"Sakit banget Sayang, mama sedih banget waktu itu, anak pertama kan, tapi mama beruntung karena nggak lama dapat ganti si kembar, terus dapat Zayyan yang gantengnya Masha Allah." Mama menatapku dengan binar bahagia di matanya. Mama pasti sangat bangga punya anak setampan aku.
"Aku akan jaga anak aku, Ma," kata Putri sembari tersenyum ke arah Mama.
__ADS_1
"Syukurlah, semoga Allah selalu jagain kalian. Cucu mama dari kalian pasti menggemaskan."
Putri kembali tersenyum, dan aku sangat lega melihatnya. Semoga dia tidak akan marah karena aku sudah membuatnya hamil.
*
*
*
Mama baru saja pulang, sedangkan aku menginap untuk menemani dan menjaga Putri di rumah sakit. Dia masih diam saja, sama sekali tidak mau membuka suara. Suasana kamar jadi semakin sepi karena dia yang biasa cerewet tiba-tiba saja jadi pendiam.
"Mau apel nggak, aku kupasin?" tanyaku sambil menggenggam buah apel di tangan.
Ia melirik sekilas, lalu mengangguk lemah, masih tidak mau mengeluarkan suaranya.
Putri masih saja diam. Entah kenapa dia betah sekali membisu.
"Kamu tau nggak, kata orang kalau lagi hamil itu nggak boleh benci sama orang, nanti anaknya mirip sama orang yang dibenci," ucapku yang terus mendominasi, hanya supaya kamar tidak semakin suram karena tidak ada suara.
"Ya baguslah, kalau mirip Oppa Sehun nanti malah orang mikirnya aku selingkuh. Kak Za juga nggak jelek, mirip Cha Eun Woo."
Putri terpancing juga, memang lebih baik dia cerewet sih, walaupun jutek tapi setidaknya ada suaranya.
__ADS_1
"Cha Eun Woo ganteng nggak?" tanyaku sambil menyuapkan potongan apel ke mulut Putri.
Dia tidak menjawab, hanya mengetikkan sesuatu di ponselnya, lalu menunjukkan gambat wajah seorang laki-laki Korea padaku. "Ganteng banget," jawab Putri sambil mengunyah apelnya.
"Bagus dong, berarti aku memang ganteng. Anak kita juga pasti ganteng dan cantik."
"Kakak, aku itu kan masih mau kuliah, kenapa juga aku hamil, gara-gara Kak Za, aku nggak bisa kuliah." Putri kembali melotot dan cemberut lagi.
Aku memutar otak supaya bisa membuat Putri kembali dalam mood yang bagus, jangan sampai salah bicara.
"Masih bisa kok, nanti kamu cuti aja, setelah lahiran bisa lanjut lagi."
"Terus bayinya gimana? Dibawa kuliah gitu?"
"Nanti kita bayar suster kayak anak-anaknya Kak Zayn. Beres kan, nggak ada masalah kan?"
Dia tampak berpikir, lalu sambil cemberut ia mengangguk.
"Bagus deh, kamu nggak marah kan karena aku udah buat kamu hamil."
"Masih marah, pokoknya Jupiter kenak hukuman karena bikin aku hamil."
♥️♥️♥️
__ADS_1
Selamat siang, maaf telat, tadi ada acara gaess 🙈🙈
Jangan lupa jempolnya diangkat semua, komennya banyakin ya biar aku semangat lanjutnya 🤣🤣🤣