
ZAYYAN
Asisten Kaisar menghampiri Putri yang masih di dapur. Gadis itu menenggak sesuatu bersamaan dengan air putih yang digenggam dengan tangan kanannya.
"Kamu minum apa, Put? Ya Allah kamu malu-maluin, kalian habis ngapain sih? Ya Allah mas ngga nyangka, kalian udah seberani itu," ocehnya yang bisa kudengar dengan jelas.
"Asisten Kai kenapa sih? Aku cuma numpang mandi aja," sahutku sambil berjalan menghampiri kakak beradik itu.
"Itu yang Putri minum apa? Pencegah kehamilan?" tanya Asisten Kai setengah berteriak, ia bahkan menggelengkan kepala seakan tidak percaya dengan apa yang aku katakan,
"Mas Kai jangan sembarangan deh kalau ngomong, ini tuh multivitamin, biar nggak sakit karena habis hujan-hujanan." Putri menunjukkan bungkus vitamin yang sepertinya tadi diminum Putri.
"Mas nggak mau percaya gitu aja, kalau sampai kalian ketahuan lagi, mas nikahin kalian berdua. Nggak apa-apa kalau mas kamu langkahin nantinya. Yang penting ibu di kampung nggak kecewa sama mas. Kayaknya mas udah gagal." Asisten Kai duduk di sofa sambil memegangi kepalanya.
Aku mendekat pada Putri yang sedang menuangkan mie kuah ke dalam mangkuk.
"Dia kenapa sih?" tanyaku sambil berbisik.
"Biarin aja, lagi kumat kayaknya. Yang penting kita nggak ngapa-ngapain. Udah yuk makan, Kakak pasti lapar kan?" Putri memainkan alisnya naik turun.
"Nah kan, habis ngapain sih sampe kelaparan, kayaknya mas harus lapor si bos," gumam asisten kakakku itu.
"Jangan aneh-aneh deh Asisten Kai. Aku pulang aja Put, daripada nanti makin salah paham," pamitku, lalu berjalan mengambil tas dan meninggalkan apartemen mereka.
Dasar manusia aneh!
***
Setelah kehujanan kemarin, pagi ini aku merasa tidak enak badan. Seluruh tubuhku terasa panas dan aku menggigil kedinginan. Kepalaku rasanya pusing sekali.
"Za, Zayyan. Makan dulu yuk, mama udah buatin bubur buat kamu." Mama membangunkanku dengan menepuk pundakku beberapa kali.
Aku sendiri enggan bangun karena masih merasa pusing.
"Kamu mau mama panggilkan Putri?" tanya Mama yang entah mengapa bisa memiliki ide itu. Mama memang belum tahu kalau aku dan Putri hanya pura-pura pacaran.
__ADS_1
Lagi-lagi aku malas menjawab dan malah menutup selimut rapat-rapat.
"Ya udah, mama telfonin Putri kalau gitu."
Aku hampir saja mengatakan 'tidak usah' tapi Mama malah sudah menutup pintu kamarku.
Setelah Mama pergi dari kamarku, aku kembali beristirahat. Tidur mungkin bisa mengembalikan kondisiku yang memang lupa tidak langsung makan kemarin.
Entah berapa lama aku tertidur, lagi-lagi aku terbangun karena sentuhan dan suara yang terus memanggil namaku.
"Kak Za, bangun dong, makan dulu!"
Aku mengerjap dan mengintip di balik selimut. Betapa kagetnya aku saat Putri duduk di tepi ranjang kamarku.
"Kamu ngapain ke sini?" tanyaku sambil memegang kepala yang masih terasa pening.
"Aku tadi dijemput sopir suruhan Tante Marisa," jawabnya.
Aku terpaksa duduk bersandar di headboard.
"Aku disuruh suapin Kakak makan."
"Emangnya aku bayi apa, kamu pulang aja deh."
"Nggak bisa, aku nggak akan pulang kalau Kakak nggak habisin buburnya, sini aku suapin mumpung masih hangat."
Putri lalu menyuapiku dengan makanan lembek itu, sebenarnya mulutku terasa pahit, tapi karena Putri cerewet sekali akhirnya aku terpaksa menelan buburnya.
"Pinter deh Kak Zayyan," kata Putri sambil meletakkan mangkuk bekas bubur ke atas meja kecil yang tidak jauh dari ranjang.
"Udah mendingan kamu pulang aja," usirku.
"Kakak masih marah sama aku?" tanya Putri sambil memanyunkan bibir.
"Nggak Put, aku pusing, mau istirahat dulu. Kamu naik ohek online aja, atau minta Pak Rudy suruh sopir antar."
__ADS_1
"Iya, gampang deh. Aku pulang kalau kakak udah mendingan nanti. Sekarang Kakak tidur lagi aja kalau masih pusing." Putri membantuku rebahan dengan memasangkan bantal dan selimut di tubuhku.
Tiba-tiba ia jatuh menimpa tubuhku, secara refleks aku menangkap dan memeluknya.
"Aduh Kak, sakit," ucapnya.
"Kenapa sih?"
"Nyangkut."
"Apanya?"
"Kalung aku."
"Zayyan. Mama Mama Zayyan Ma." Suara teriakan itu suara Kak Zea yang entah kapan datangnya.
"Aduh, salah paham lagi kayaknya."
"Gimana ini, Kak?"
Aku membantu Putri untuk bangun dari tubuhku. Kak Zea masih berdiri di kamarku, sedangkan Mama baru datang entah dari mana.
"Kenapa?" tanya Mama.
"Ini Ma, lihat!" Kak Zea menunjukkan ponselnya kepada Mama.
"Tante, ini salah paham. Tadi kalung aku nyangkut," elak Putri sambil menunjuk kalungnya yang akhirnya putus karena tersangkut di selimutku.
"Ini Zayyan juga peluk Putri, Ma."
"Iya kamu bener Ze, mama udah dua kali lihat mereka aneh begitu. Mendingan telfon Zayn, Asisten Kai sama Papa, kita omongin masalah ini." Mama keluar dari kamarku diikuti Kak Zea.
"Kak, gimana dong?"
❤❤❤
__ADS_1
...Aduh, si Mama Marisa, udah dua kali ya kejadian anak anak gantengnya kena grebek. Si Zayn kan gitu juga 🤭🤭 Eh siapa tau aja Asisten Kai mau belain adiknya biar gak dinikahin kayak Dera 🤭🤭🤭...