
Mendengar kata-kata Kak Zayn yang sepertinya benar-benar berharap, aku jadi merasa bersalah padanya. Aku pun berbalik badan dan berhadapan dengan wajah Kak Zayn.
"Kak Zayn mau kita lakuin itu sekarang?" tanyaku dengan serius.
Kak Zayn membelalakkan mata, ia terlihat kaget untuk beberapa saat dan setelah itu tersenyum.
"Sekarang atau nanti, atau besok akan sama aja, Ra. Aku ngelakuinnya juga akan tetep sama kamu. Emangnya, kamu siap kalau aku maunya sekarang?" tanya Kak Zayn.
"Em, kalau aku udah nggak virgin gimana?" Aku sengaja memancing reaksi Kak Zayn.
"Aku percaya sama kamu kok, Ra. Tapi, kalau emang apa yang kamu omongin itu bener, aku akan tetap mencintai kamu, my wife." Kak Zayn tersenyum lagi.
Aku berharap apa yang Kak Zayn katakan itu bukan hanya sekedar kata-kata manis, yang setelah sepah lalu dibuang.
"Ya udah, kita buktikan! Apakah Kak Zayn bisa menerima aku apa adanya," ucapku sambil tersenyum menantangnya.
"Ra, kamu yakin kamu udah siap?" tanya Kak Zayn yang membuatku mengangguk yakin. "Sekali kita melakukannya, aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi, Ra, karena kamu akan menjadi yang pertama dan satu-satunya yang akan merasakan kehebatan Juna." Kak Zayn membelai wajahku yang seketika terasa hangat.
"Iya, aku yakin."
--------------------------------
*Bocil skip aja ya, 2 1 +
--------------------------------
Kak Zayn memposisikan dirinya berada di atasku. Tatapan mata kami saling bertemu.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya dengan baik." Kak Zayn mencium bibirku dengan lembut.
Perlahan-lahan, ciuman itu semakin dalam dan menuntut. Membelit lidahku dan melahap habis-habisan. Setelah itu, bibir Kak Zayn turun ke leher dan menghisap kulit leherku membuatku mende*sah untuk pertama kalinya.
Tangan Kak Zayn bekerja dengan sangat baik, perlahan ia melepaskan kancing piyamaku, sampai akhirnya bukit kenyal itu terpampang jelas di hadapannya. Kak Zayan terlihat menelan salivanya dengan susah payah.
"Kayak bola pimpong ya?" tanyaku saat Kak Zayn melihat dua bukit kembar itu tanpa berkedip.
"Nggak, Ra. Ini benar-benar indah." Kak Zayn menggenggam salah satu bukit kenyal itu dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya menahan tubuhnya agar tidak terjatuh menimpaku.
"Apa Kak Zayn suka?" tanyaku dengan bodohnya. Memangnya kalau tidak suka apakah raut wajahnya akan sebahagia itu?
"Sangat suka," jawab Kak Zayn yang kemudian melahap bukit sebelah kanan, sementara bagian kiri dire*mas kuat dengan tangan kanannya.
Ada rasa geli yang menjalar di seluruh tubuhku saat lidah Kak Zayn menyentuh puncak bukitku, dan semakin lama semakin nikmat saat ia menyesapnya seperti bayi.
Kak Zayn bergantian menghisap dan mere*mas bukit kenyalku, ia benar-benar menikmatinya.
"Ra, kamu mau lihat Juna?" tanya Kak Zayn setelah melepaskan bukit kembarku dari mulutnya.
"Emm." Aku mengangguk malu-malu menjawab pertanyaan yang cukup frontal itu.
"Ayo bukalah, aku ingin kamu membukanya sendiri!"
Ya Tuhan, makin gugup saja rasanya. Kenapa juga harus aku yang membukanya? Kenapa tidak dia saja?
Kak Zayn bangun dari atasku dan kemudian duduk, lalu menarik tubuhku agar aku ikut terduduk. Ia melepaskan piyamaku dan melemparnya ke lantai.
__ADS_1
"Aku malu, Kak." Aku menutup dadaku dengan kedua tangan, tapi Kak Zayn menariknya dengan cepat.
Ia mengarahkan tanganku untuk membuka piyamanya. Dengan gugup, aku melepaskan satu per satu kancing piyama itu sampai terlepas dari tubuh Kak Zayn. Sampai akhirnya, tubuh indah itu terlihat nyata di hadapanku, dengan abs-abs yang sangat menggemaskan.
Kak Zayn tersenyum puas, lalu ia turun dari ranjang, berdiri tepat di sampingku, lalu meraih tanganku untuk membuka celana piyamanya.
Dengan mata terpejam, aku menarik turun kain panjang yang membungkus kaki jenjang suamiku itu, dan kini tersisalah kain segitiga yang membungkus pisangnya.
Jantungku berdebar sangat cepat saat melihat sesuatu yang besar dan menonjol di balik kain itu.
"Ra, kok bengong?" Kak Zayn menyentuh pundakku. "Ayo buka, Ra!" perintah Kak Zayn yang membuatku kian berdebar kencang.
Dengan memejamkan mata, aku menarik kain terakhir itu dengan hati-hati. Lalu, setelah mengatur napas dan mempersiapkan hati, akhirnya aku membuka mata untuk melihat langsung, apa yang menjadi aset berharga suamiku ini.
"Ini Juna, Ra." Kak Zayn meraih tanganku dan menuntunnya untuk menggenggam pisang besar ini.
Ya Tuhan, ini sangat besar, kekar dan panjang. Aku bisa pingsan kalau pisang ini memasuki bagian sensitif tubuhku!
♥️♥️♥️
...Semangat, Ra. Kamu pasti bisa kok 😅😅...
Mau lanjut nggak?
Kembang kopinya dulu. Semoga kelar dan nggak ketiduran ya 😅😅
Jangan lupa ritualnya.
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 😘😘😘