Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 178


__ADS_3

ZAYYAN


Waktuku di London masih tersisa empat bulan, dan selama empat bulan itu aku harus bisa menahan hasrat dan keinginanku untuk memiliki Putri seutuhnya. Ya, sekarang aku dan Putri memang belum menjalankan kewajiban kami sebagai suami istri, karena sesuatu hal yang tiba-tiba terjadi.


Saat ini, aku sedang menemani Putri jalan-jalan singkat ke tempat yang memang ingin ia kunjungi. tempat yang ternyata ada dalam daftar keinginannya selama tiga hari di London.


"Kakak, aku mau naik itu, bisa?" Putri menunjuk kincir besar bernama London Eye.


London Eye adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia. Tingginya sekitar 443 kaki, atau 135 meter. London Eye berputar di atas Sungai Thames, London, Britania Raya. Bentuknya seperti kapsul, terdiri dari 32 kapsul yang berputar dengan kecepatan 0,26 meter per detik.


"Kamu yakin? Naik ke sana nggak bisa turun kayak pas naik motor loh," candaku.


Putri mendelik, lalu menepuk lenganku dengan keras.


"Duh, tingkahmu ini coba dikurangi deh, KDRT ini namanya."


"Habisnya Kakak tuh nyamain kincir angin sama Nindy."


"Eh, iya. Gimana ya kabarnya Nindy, jadi kangen."


Satu pukulan kembali mendarat di pundakku. Aku tidak bebohong saat mengatakan pukulan Putri itu menyakitkan. Rasa panas yang tadi masih terasa, kini semakin bertambah panas.


"Jujur deh sama aku, Nindy itu siapa? Kenapa namain motor harus dengan nama Nindy?" tany Putri yang kembali melayangkan pukulannya.


"Stop! Putri, stop!" Aku menangkap tangan Putri supaya berhenti memukulku. "Kamu cemburu sama Nindy?" tanyaku.

__ADS_1


"Ya nggak cemburu, tapi aku yakin aja. kalau Nindy itu pasti nama mantan Kakak atau cewek yang Kakak suka, ya 'kan?"


Aku tersenyum geli dengan pemikiran Putri yang entah mengapa bisa menebak Nindy adalah nama perempuan.


"Kamu tahu nggak, motor itu kan namanya Nin*ja makanya aku plesetin dikit jadi Nindy. Nin*ja yang dinaikin, gitu Honney." Aku memeluk Putri karena gemas dengan tingkahnya itu.


"Serius? Nggak bohong?"tanyanya.


"Iya, beneran. Aku tuh nggak pernah pacaran, suka sama perempuan juga sama Dera, dan sekarang kamu."


Setelah mengatakan itu, aku bisa merasa pelukan Putri yang terasa semakin erat.


"Jadi naik ke sana nggak?"


"Jadi dong."


Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, begitu juga yang harus terjadi antara aku dan Putri. Kedatangan Putri ke London memang sebuah kejutan besar untukku. Apalagi hubungan kami jadi bertambah baik karena pertemuan singkat ini. Akan tetapi, perpisahan tidak dapat dihindari, kami harus kembali terpisah untuk bertemu beberapa bulan lagi.


Heathrow Internasional Airport, menjadi saksi bisu perpisahanku dengan Putri siang ini. Bersama Om Alvero, Putri akan kembali ke Indonesia.


"Kakak, cepat pulang ya, jangan nakal." Putri memelukku, sebelum masuk ke area yang dikhususkan untuk calon penumpang.


"Iya, kamu tuh yang jangan nakal, jangan kelayapan terus." Aku membalas pelukannya.


"Kakak ih, aku kan nggak kelayapan, cuma main doang," kata Putri yang kini melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Sama aja itu, Putri Pramesawari."


"Bedalah Kak."


"Sama."


"Beda."


"Stop! Om berasa lagi nonton film sirang langsung." Suara Om Alvero menghentikan perdebatanku dengan Putri.


Kami berdua hanya cengar-cengir.


"Titip Putri ya Om, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai rumah."


"Iya, kamu sekolah yang bener. Jangan khawatirin istri kamu, papa sama mama kamu pasti menjaga menantunya dengan baik.


"Iya Om, terima kasih."


"Kakak, aku pulang ya, jangan kangen." Putri kembali memelukku.


"Nggak, nggak kangen."


"Ih jahat."


❤❤❤

__ADS_1


Sumber: Wikipedia


Jangan lupa jempolnya Sayang 😘😘😘


__ADS_2