Istri Big Boss

Istri Big Boss
BAB 144


__ADS_3

ZAYYAN


Berawal dari kesalahpahaman yang membuatku terjebak dengan Putri. Meski aku sudah mengelak, tapi sepertinya mereka lebih suka dan percaya dengan pikiran mereka sendiri sendiri. Karena itulah, aku merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang suah terjadi. Aku ingin menikahinya.


"Nikah itu bukan main-main, Za."


Hanya Kak Zayn yang sepertinya percaya dengan penjelasanku, tetapi tidak dengan Mama, Papa, dan kakak kandung Putri.


"Aku tahu, itu pun kalau Putri mau, Kak. Aku juga nggak maksa kok," balasku.


Mungkin ini langkah terbaik untuk aku bisa lepas dari Dera. Rasa tanggung jawabku untuk Putri pasti bisa mengalahkan perasaanku pada Dera. Dia bukan lagi wanita yang bisa aku cintai, dan aku akan berusaha mencintai Putri untuk melupakan cinta pertamaku.


"Nggak apa-apa, cinta itu bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, papa sama mama dulu juga baru kenal sebentr langsung menikah, buktinya ada kamu dan kakak kakak kamu. Kakakmu Zayn yang katanya menikah karena terpkasa juga sekarang kelihatan bahagia kan sama ipar kamu," kata Papa.


Kalau saja dulu aku tahu, Kak Zayn dan Dera menikah karena terpaksa, pasti aku tidak akan membiarkannya, Pa.


"Sebentar lagi akan ada empat keponakan kamu," kata Kak Zayn sambil memeluk Dera.


"Serius?" tanya Kak Zea.


"Maksudnya istri kamu hampir bayo kembar empat gitu?" Mama berdiri dan menghampiri Dera.

__ADS_1


"Iya, Ze. Kita ka nunggu udah lama banget, mungkin ini hadiah Tuhan buat aku sama Dera," jawab Kak Zayn.


"Ah, keren sekali kamu Zayn. Mama kalau aku hamil bisa kembar juga nggak ya?" Kak Zea jadi heboh sendiri.


"Ya bisa aja, tapi yang namanya hamil kan rahasia Zea," jawab Mama.


"Wah, Papa bentar lagi dikelilingi banyak cucu," sahut Papa.


Semua orang bahagia mendengar Dera kan mendapat empat anak sekaligus. Sekarang aku harus bisa meyakinkan Putri untuk menikah denganku.


Putri dan Asisten Kai kembali setelah menelepon ibu mereka. Wajah Putri terlihat ditekuk, mirip baju yang belum disetrika, kusut sekali.


Putri kembali duduk, kali ini tidak lagi di sampingku. Ia memilih duduk sendiri jauh dariku. Mukanya semakin lucu saat cemberut begitu.


"Ibu bilang lebih baik Putri menikah," kata Asisten Kai.


Aku langsung menatap Putri yang masih cemberut. "Kamu mau 'kan Put?"


"Aku bisa apa kalau ibu udah bilangg gitu, Mas Kai juga bukannya belain aku malah ngadu yang nggak-nggak. Dari dulu kan ibu lebih percaya sama Mas Kai daripada sama aku," ocehnya yang menatap sebal pada kakaknya sendiri.


"Jangan kayak anak kecil," balas Asisten Kai.

__ADS_1


"Kak Za, nggak nyari istri buat dijadiin pembantu kan? Aku nggak mau loh disuruh-suruh masak, nyapu, nyuci baju, terusdilarang-larang pergi. Aku masih mau kuliah pokoknya." Putri melotot padaku.


Belum apa-apa sudah diancam begini. Putri galak juga ternyata.


"Nggak Sayang, di sini ada banyak ART kok, yang akan mengurus rumah. Kamu fokus kuliah aja nggak apa-apa, mama mau kalian menikah biar kalian nggak ngelakuin hal yang terlarang," jawab Mama yang sudah kembali ke tempa duduknya semula.


"Beneran Tante. Tante nggak jahat kaya di TV TV itu kan?"


"Eh, Putri. Mama itu wanita paling baik dan sabar. Udah yang kamu pikirin cuma gimana nyenengin adik aku tiap malam," jawa Kak Zayn. "Ah, ah, sakit, sakit,"


Tangan Dera sepertinya mencubit pinggang Kak Zayn, sehingga suaminya itu menjerit kesakitan.


"Ya udah, tapi ini nikah beneran kan nggak pura-pura?" tanya Putri yang matanya mengarah padaku.


"Iya Putri. Jadi gimana, kamu mau kan?"


"Kalau aku nggak jadi pembantu, dan mertuaku nggak jahat, iya aku mau," jawabnya.


"Nah gitu kan selesai masalah ini. Kamu nggak sekalian bareng mereka Kai?"


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2