
ZAYYAN
Saat waktu kuliahku ternyata selesai dua minggu lebih cepat dari seharusnya, aku langsung memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Putri dan semua yang ada di negara ini membuatku sangat ingin cepat kembali. Alasan paling utama memang Putri.
Aku sengaja tidak memberi kabar pada siapa pun, sampai akhirnya aku mendarat dan langsung menelepon Mama untuk menanyakan keberadaan Putri. Ternyata, mereka ada di rumah Kak Zayn, sedang mengunjungi ketiga keponakanku yang belum pernah aku lihat secara langsung.
"Kakak, kenapa makannya dikit?" tanya Putri, saat ini kami sedang berada di ruang makan di rumah Kak Zayn. Sengaja aku mengajaknya menjauh dari mereka supaya bisa ngobrol berdua dengan istriku ini.
"Udah kenyang, Honey. Aku cuma pengen ngobrol sama kamu aja di sini," jawabku sambil memandanginya yang menjadi salah tingkah.
"Ih Kakak. Kalau mau ngobrol jangan di sini, Kak." Putri mengambilkan segelas air putih untukku.
"Di mana? Di sini banyak kamar kosong, aku yakin Kak Zayn pasti mengizinkan kita memakainya." Aku mengamati sekeliling. Rumah kakakku yang sangat megah ini memang memiliki banyak kamar, seakan-akan dia sedang menciptakan hotel di dalam rumahnya.
"Kakak ngajaknya ngamar mulu sih." Putri semakin salah tingkah, semu kemerahan di pipinya terlihat semakin jelas.
"Katanya pengen tahu rasanya bikin anak, masa iya bikin di sini?" godaku yang membuat Putri semakin melotot. Ia menatap sekeliling, lalu cemberut dan memukul lengan atasku. "Sakit tahu, Putri. Kebiasaan banget sih suka mukul-mukul. Awas aja, nanti aku balas ya di kamar."
__ADS_1
"Kakak kamar mulu sih bahasannya, masih jam segini juga, mending main yuk! Aku kangen diboncengin Kakak," ajaknya sambil menarik-narik ujung kaus di lenganku.
"Main di kamar aja ya, yuk aku bawa Nindy tadi." Giliran aku yang menarik tangan Putri, mengajaknya keluar untuk berpamitan dengan Kak Zayn dan Dera.
"Kakak, mau ke mana?"
Aku langsung mengajak Putri berpamitan dengan Kak Zayn dan juga Dera. Setelah itu, aku membonceng Putri dengan motor yang kuberi nama Nindy. Istriku itu mulai memeluk pinggangku saat motor berkapasitas mesin seribu centimeter kubik ini. Suara bising membuat Putri hanya diam tidak berceloteh seperti biasanya. Ia hanya menempel pada punggungku, dan membuat rasa hangat dan tentu saja empuk.
Sedari tadi memang aku sudah berencana untuk membawa Putri ke hotel milik keluarga yang dikelola Kak Zayn. Bukan tanpa alasan aku mengajaknya ke tempat itu. Sebenarnya aku ingin membuat kesan indah di malam pertama kami yang terlambat ini.
Gedung dengan jumlah lantai sekitar lima puluhan itu sudah semakin dekat. Dengan tidak sabar aku menarik tuas gas yang menambah kecepatan motorku. Akhirnya, sampai juga di hotel yang akan menjadi saksi penyatuanku dengan Putri.
"Kita akan guling-gulingan di sini, di kamar paling mewah di Jakarta ini." Aku menggandeng tangan Putri menuju lobi, karena sebenarnya aku tidak memiliki kamar khusus di sini, dan semoga saja kamar yang aku maksud sedang tidak disewa tamu.
"Kakak, tunggu deh!" Kami sudah hampir sampai di depan meja resepsionis saat Putri menarik tanganku, dan membuat langkahku terhenti.
"Kenapa, Honey, kamu nggak lagi kenak lahar merah kan?" tanyaku sedikit cemas. Tentu saja aku tidak ingin semuanya gagal dan menjadi kacau, mau sampai kapan aku menjadi suami perjaka.
__ADS_1
"Em, sebenarnya. Aku udah hampir waktunya sih Kak, beberapa hari lagi mungkin. Semoga aja hari ini masih aman ya," kata Putri dengan nada bicara yang sangat pelan dan lambat.
"Yah, kok gitu. Kamu buat aku deg-degan."
"Hehehe." Putri hanya nyengir. "Kita cek aja dulu." Ia menarik tanganku, lalu kami sama-sama berdiri di depan resepsionis.
"Tuan Muda, ada yang bisa kami bantu?" tanya pegawai hotel dengan ramah.
"Kamar presidential ada yang kosong? Aku mau pakai. Konfirmasi aja sama Kak Zayn," jawabku sedikit gugup. Baru pertama kali aku meminta kamar di hotel ini. Apalagi tatapan aneh mereka yang tertuju pada Putri. Aku sangat memaklumi kalau mungkin mereka sedang bertanya-tanya, dengan siapa aku ceck-in di hotel. Akan tetapi, aku tidak mau membuang waktu dengan menjelaskan pada mereka, aku hanya ingin segera mendapat kamar.
Setelah berhasil mendapatkan kunci kamar, aku dan Putri diantar sampai depan kamar oleh manajer hotel yang aku sendiri lupa siapa namanya. Setelah sampai di dalam kamar, Putri langsung berlari ke kamar mandi, membuatku khawatir dan mengejarnya.
Tidak berapa lama, Putri keluar dari kamar mandi dan langsung memelukku. "Kakak, ini harinya Kak Za. Terserah Kakak mau ngapain aku, tapi pelan-pelan ya, jangan bikin sakit," kata Putri yang semakin mengeratkan pelukannya.
❤❤❤
Cie cie, dikentangin lagi. Cie cie nungguin. Iya iya, aku kasih bab nganu nganu kok, tapi ya nggak pagi-pagi begini 🤣🤣🤣 Nanti malam aja ya 😍😍😍😍
__ADS_1
Selamat tahun baru gaes 🥳🥳🥳🥳🥳
Jangan lupa jempolnya diangkat semua 😍😍😍😍