
DERA
Mulai hari ini kedua bayi perempuanku—Valen dan Ellea sudah diizinkan pulang, sedangkan Leonel masih harus menunggu observasi sampai paru-parunya benar-benar kuat. Tiga baby sitter dari yayasan yang sama dengan pengasuh Xavier akan membantuku merawat bayi-bayiku.
"Kamu senang bisa pulang?" tanya Kak Zayn saat menemaniku memompa asi untuk Leonel.
"Tentu saja, dan pasti akan lebih menyenangkan kalau Leonel kita juga pulang," jawabku.
"Beberapa hari lagi dia pasti akan pulang. Meskipun sendirian di sana, aku yakin dia kuat. Dia pasti akan segera sembuh dan berkumpul bersama kembaran-kembarannya." Kak Zayn mengecup keningku sangat lama.
"Aamiin."
***
Kak Arsen dan Kimmora datang bersama Xavier. Ini pertama kalinya Xavier dan Kimmora menengok bayi-bayiku, karena saat di rumah sakit, hanya Kak Arsen yang datang.
"Mereka masih kecil-kecil ya, kok udah dibolehin pulang?" tanya Kimmora.
"Iya, mereka udah sehat kok, cuma tiap pagi harus rajin-rajin dijemur," jawabku. "Kalau yang cowok masih diobservasi paru-parunya, jadi ya tunggu izin dokternya."
"Oh gitu, dokternya siapa? Denger-denger dokternya ganti ya."
"Iya, mantannya Dera dokter anaknya," sahut Kak Zayn yang membuatku menoleh padanya.
__ADS_1
"Serius?" tanya Kak Arsen.
"Iya serius, waktu di rumah sakit si Kai yang bilang, Dera punya hubungan spesial sama dokter itu," kata Kak Zayn.
"Cuma temen deket, nggak sampai jadian apalagi jadi mantan," sahutku.
"Sama aja."
"Oh iya, Ra. Gimana sih ceritanya kok bisa pendarahan sama pecah ketuban? Apa karena bayinya ada empat dan udah waktunya lahir?" tanya Kimmora.
"Em, sebenarnya kan mereka baru dua puluh sembilan minggu, normalnya sekitar tiga puluh satu mingguan kalau kembar empat, tapi mungkin juga emang udah waktunya sih. Malemnya itu aku ngerasain sakit pinggang banget, Kim." Aku mengingat kembali malam sebelum kelahiran dramatis itu.
"Sebenarnya, ini juga pelajaran buat kita, buat kalian juga kalau bisa. Waktu itu, aku yang nggak bisa nahan diri, mungkin kalau nggak ngelakuin hubungan begitu mereka masih aman mungkin," kata Kak Zayn.
Aku meraih tangannya, dia pasti merasa sangat bersalah karena kejadian itu. Akan tetapi, seperti yang semua orang bilang, bahwa ini semua adalah takdir. Manusia bisa apa?
Kak Zayn mengangguk.
"Em, sebenarnya kan malah bagus buat membantu proses lahiran yang aku tahu, makanya pas hamil Xavier dulu Kimmy sering banget minta begituan, tapi emang harus dibatasi dua kali seminggu itu udah bagus."
"Nggak cuma aku Dad, kamu juga sering minta."
Dua pasangan yang juga menanti anak kembarnya itu saling berpandangan. Terkadang, aku iri sekali melihat kakak tiri dan iparku ini sangat kompak, mereka saling mengasihi dan memberi suport satu sama lain.
__ADS_1
"Ya itulah kebodohan aku, harusnya aku bisa memahami situasi, dan akibatnya aku kehilangan putraku." Kak Zayn menundukan wajahnya.
"Zayn, semua itu sudah takdir. Yang penting sekarang kamu harus bisa menjaga keluarga kecil kamu."
Kak Zayn mengangguk, Kak Arsen dan Kak Zayn memang cukup dekat.
"Mommie, beby, mommie." Xavier mencium perut Kimmora setelah mengintip Valencia dan Ellea yang sedang tertidur lelap
"Iya Sayang, nanti dedek bayi di perut Mommie, ada dua kayak dedek bayi yang bobok itu." Kimmora menjelaskan pada anaknya yang sudah mulai berjalan dan berbicara.
"Xavier pinter banget ya, padahal baru setahun."
"Iya, dia pinter kayak bapaknya."
"Pinter ngomong kayak ibunya," sahut Kak Arsen yang kemudian memeluk Kimmora.
"No-no-no!" Xavier terlihat marah.
"Cemburuannya kayak bapaknya juga," kata Kak Zayn. Ia memelukku seperti Kak Arsen memeluk Kimmora. "Posesif banget. Jadi inget Kai bonyok dihajar Arsen. Aku suruh dia ke sini ya."
"Silahkan, kita juga mau pulang kok," balas Kak Arsen.
Kimmora mencubit lengan Kak Arsen, sedangkan Xavier terus berteriak melarang Kak Arsen menyentuh Kimmora.
__ADS_1
"Nanti kalau anak-anak kamu udah segede gini, pasti ribet kalau minta jatah," kata Arsen setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Kimmora.
❤❤❤