
ZAYYAN
"Pokoknya kalau yang nyampek nanti nggak sesuai, Kak Zayyan yang harus tanggung jawab!" Gadis itu menunjuk wajahku dengan telunjuknya, sambil memasang wajah kesalnya yang terlihat semakin menyebalkan.
"Lah kok gitu, kan aku udah bayar." Aku bermaksud meninggalkan gadis itu, tapi satu tanganku dicekal dan membuatku menoleh padanya.
"Pokoknya kalau ada apa-apa Kakak harus tanggung jawab!" ucapnya dengan mata melotot.
Orang-orang di sekitar kami sampai berhenti dan memandang kami. Kata-kata Putri sepertinya membuat orang-orang salah paham.
"Iya iya, aku tanggung jawab, nanti kalau nggak sesuai ekspektasi kamu, aku belikan yang baru. Setelah itu aku nggak mau ada urusan sama kamu lagi!"
"Oke, tapi antar aku pulang dong. Aku nggak tau harus naik apa ke rumah. Ini kan udah mulai gelap juga, aku laper." Wajah Putri terlihat memelas saat mengatakan lapar.
Aku bukan cowok kejam yang tega meninggalkan perempuan seperti Putri dalam keadaan menyedihkan begitu. Dengan malas, aku menyuruhnya naik ke atas Nindy, dan gadis itu tersenyum lagi.
"Kamu tinggal di mana?" tanyaku saat Putri sudah naik ke motor kesayanganku.
"Aku tinggal sama Mas Kai di Wiguna Residence," jawabnya.
Tanpa basa basi lagi, aku mulai menyalakan mesin dan melajukan Nindy.
Selama perjalanan, kami hanya diam. Suara bising mesin motor membuatku enggan mengajaknya bicara, mungkin dia juga sama. Lagipula, apa yang mau aku bahas dengannya.
Seekor kucing tiba-tiba muncul di depanku, membuatku refleks melakukan pengereman mendadak. Karena terlalu kuat rem depan, ban motor bagian belakang sedikit terangkat. Detik berikutnya, sepasang tangan melingkar kuat di perutku, membuat punggungku terasa hangat karena pelukannya.
"Aku nggak mau mati, aku nggak mau mati." Putri bergumam terus di belakangku.
"Sorry, ada kucing lewat," ucapku merasa bersalah.
Hening. Putri hanya diam, tapi tangannya tetap memelukku. Entah dia sedang memanfaatkan situasi atau memang dia benar-benar ketakutan, yang jelas aku tidak nyaman dipeluk orang asing begini.
Dengan perasaan yang campur aduk, aku melajukan lagi Nindy dengan kecepatan yang cukup pelan. Kembali melewati gang-gang kecil untuk menghindari polisi. Untung saja, sedikit banyak aku paham jalanan di ibu kota, kalau tidak mungkin aku harus merelakan surat ijin mengemudi-ku ditilang polisi.
__ADS_1
Putri masih mulai melepaskan pelukannya, mwmbuatku mulai merasa lega.
"Kak, boleh nggak sih mampir cara makan dulu, aku laper," ucapnya yang sedikit berteriak.
"Ngerepotin banget," sahutku sambil menajamkan pandangan, mencari tempat yang pas untuk makan, karena sebenarnya aku sendiri juga lapar.
Akhirnya, setelah berdebat cukup panjang, kami makan di warung tenda dengan menu nasi pecel yang katanya khas Madiun.
Sambil menunggu makanan datang, aku memilih bermain game di ponsel sedangkan Putri juga sibuk bermain ponsel. Sampai tiba-tiba petikan gitar mengiringi sebuah lagu.
Saat ku tenggelam dalam sendu
Waktu pun enggan untuk berlalu
Ku berjanji 'tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapa pun itu
Suara merdu itu berhasil mengalihkan pandanganku, seorang pengamen yang membawa gitar sedang memamerkan suaranya yang merdu.
Semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
Saat ku melihat senyummu
Pada saat lagu itu dimainkan, entah kenapa aku Putri pas banget lagi tersenyum, dan dia terlihat cantik.
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
__ADS_1
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh
'Tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku
Pengamen itu berhenti bernyanyi dan pergi setelah Putri memberinya uang.
"Kok udahan sih, padahal suaranya bagus."
"Ya udah, sewa aja dia, asal dibayar pasti mau kok," sahut Putri yang kembali fokus dengan ponselnya. "Emang kamu lagi jatuh cinta ya?" tanyanya seolah mengejekku.
Ingin kusahuti ucapannya, tapi tidak jadi karena makanan kami sudah datang. Dua porsi nasi sederhana dengan lauk tempe, tahu, dan rempeyek kacang, sepertinya enak.
"Dimakan jangan dilihatin terus, nasinya nggak mungkin bisa masuk sendiri ke mulutmu!" ucap Putri yang membuatku mencebik, kesal.
Setelah selesai makan, Putri berdiri mengeluarkan dompetnya yang berwarna merah muda. Ada gambar boneka beruang di bagian luarnya.
Saat dia berjalan ke kasir, aku mendahului langkahnya. Lalu, aku membayar semua tagihan kami, dan segera mengantarnya pulang.
"Makasih, udah repot-repot bayarin, sampai bungkusannya juga dibayarin," ucapnya dengan senyuman manis. "Walaupun kamu menyebalkan, tapi aku doakan kamu cepet move on dari kakak iparmu sendiri." Putri berbalik tanpa menoleh padaku, kulihat dia cekikan seolah mengejekku.
"Heh tunggu! Apa tadi kamu bilang?" teriakku sambil turun dari motor.
"Bukan apa-apa, udah buruan pulang!" balasnya sambil melambaikan tangan, tanpa menoleh sedikit pun dan terus berjalan masuk ke arah lobi apartemen.
"Dasar tikus got!"
"Kucing jelek!" Putri menoleh sambil menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Benar-benar gadis menyebalkan. Tau dari mana sih dia soal Dera?
♥️♥️♥️