
Pagi hariku selalu dimulai dengan memasak sarapan. Sebelumnya, aku sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Kak Zayn, sehingga saat ia bangun dan mandi, pakaiannya sudah siap. Walaupun aku harus kuliah, tapi masih ada waktu untuk menyiapkan semua kebutuhan Kak Zayn, bagaimanapun juga aku harus menjadi istri yang baik, kan?
Setelah selesai memasak, aku kembali ke kamar karena Kak Zayn belum juga siap seperti biasanya. Saat aku masuk, Kak Zayn sepertinya sudah bangun, mungkin dia sedang mandi. Jadi, aku memutuskan untuk pergi ke ruang penyimpanan baju untuk menyiapkan pakaianku sendiri.
Ketika aku membuka pintu yang menghubungkan ruang tidur dengan ruangan baju, aku melihat Kak Zayn yang sedang menggenggam anggota tubuh bagian intinya. Seketika itu juga aku menjerit dan menutup mataku.
Dasar gila! Untuk apa sih dia memegang itu di depan cermin.
"Dera," teriak Kak Zayn yang kemudian berjalan mendekatiku, suara sandalnya saat menapaki lantai begitu jelas kudengar meski aku tak melihatnya secara langsung.
"Kak Zayn ngapain sih? Bukannya langsung ganti baju, malah main-main begituan." Aku masih menutup mata dengan tangan. Benar-benar malu melihatnya tanpa sehelai kain pun yang melekat di tubuhnya, apalagi ia sedang … ah menjijikkan.
"Aku sedang memijat Juna, lagian kamu ngapain di sini?" tanyanya yang sudah berdiri tepat di belakangku.
Dia ini bagaimana sih? Aku kan tinggal di kamar ini juga, lagi pula ruangan ini menyatu dengan kamar, memang kenapa kalau aku ada di sini?
"Aku mau siap-siap ke kampus, yang ada tuh Kak Zayn ngapain di situ? Kalau mau enak-enak mending ke kamar mandi sana, kunci pintunya," jawabku tanpa menoleh padanya.
"Ini kamar aku, suka-suka aku dong." Kak Zayn membalik tubuhku untuk menghadap ke arahnya. "Kamu mau ngapain di kampus sepagi ini? Mau janjian sama siapa?" Dia melepaskan tanganku yang menutupi wajahku sendiri.
"Aku mau ke rumah Mama dulu, mau antar pancake pesenan Mama," jawabku sambil membuka mata.
Kak Zayn belum memakai bajunya, hanya handuk putih yang dililitkan di pinggang, yang menutupi tubuhnya. Entah mengapa, aku selalu terpesona dengan tubuh atletis ini, aku sampai kesulitan menelan ludahku sendiri.
"Kamu mau ke rumah Mama? Mau aku antar?" tanya Kak Zayn yang entah kerasukan setan apa sampai dia berbaik hati mau mengantarku ke rumah Mama.
"Memangnya Kak Zayn nggak kerja?"
__ADS_1
"Aku bosnya, mau kerja atau nggak, nggak akan ada yang memarahiku."
Dasar menyebalkan!
*
*
*
Sampai di rumah Mama, ternyata Kak Arsen dan Kimmora juga datang berkunjung.
Kata Kimmora, mereka akan bulan madu ke Bali. Aku semakin iri dengan mereka. Mereka benar-benar pasangan yang harmonis, seandainya saja aku dan Kak Zayn bisa seperti mereka, pasti dunia akan terasa lebih indah.
"Wah enak ya, bisa honeymoon, aku kapan ya," gumamku, sebenarnya lebih ke arah sindiran untuk Kak Zayn yang tidak pernah membahas liburan, apalagi bulan madu. Mungkin karena kami baru dua minggu menikah.
Kak Zayn dan Kak Arsen terlibat diskusi bisnis yang sangat serius, sepertinya Papa dan Kakek berencana untuk mempercayakan bisnis mereka pada Kak Arsen.
Melihat Kimmora makan tanpa henti, aku baru ingat dengan panekuk durian yang kubawa, kebetulan aku bawa banyak.
"Kamu mau pancake durian?" tanyaku sambil membuka kotak panekuk.
"Kalau Kimmy suka durian, kalau aku malah nggak suka," kata Kak Arsen. Papa juga tidak suka dengan rasa durian dari dulu, ternyata mereka sama-sama tidak suka durian.
"Kebetulan dong, aku juga suka banget Kim, coba kamu cicipi dulu, pasti enak, ini buatan temenku loh!" Aku menyodorkan kotak panekuk itu pada Kimmora, tapi mendadak wajahnya pucat seakan menahan sesuatu.
"Toilet di mana?" tanya Kimmora dengan wajah yang sudah sangat pucat. Apa dia sakit?
__ADS_1
"Di sana!" Aku menunjuk ke arah toilet, dan Kimmora langsung berlari ke arahnya.
Aku hanya termenung melihat tingkah Kimmora.
"Kenapa?" tanya Kak Zayn padaku.
"Aku cuma kasih ini," jawabku sambil memegang kotak panekuk yang sudah terbuka.
Tak lama Bibi datang dengan tergesa-gesa.
"Itu! Non yang tadi muntah-muntah," kata Bibi.
Kak Arsen dengan sigap langsung menyusul istrinya. Mungkin Kimmora memang sedang sakit. Melihat perhatian Kak Arsen, kenapa aku jadi semakin iri ya dengan mereka? Apa kalau aku sakit, Kak Zayn juga akan sekhwatir itu?
♥️♥️♥️
...Jangan iri Ra, nanti ada saatnya kok Kak Zayn lebih parah dari Bang Arsen....
Ada yang nungguin Zayn sama Dera nggak sih 🤭🤭
Selamat hari senin gaess..
Selamat beraktifitas.
Jangan lupa dukungannya ya, like, komen, hadiah, dan vote.
Hari senin pasti udah dapat vote kan 🤭🤭
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 😘😘