
KAISAR
Memiliki istri adalah hal yang sangat istimewa buatku. Pulang ada yang menyambut, makanan sudah siap di meja, pakaian selalu rapi. Semua dikerjakan istriku. Seperti malam ini, sepulang dari kantor, istriku sedang memasang di dapur.
"Hai, butuh bantuan?" tanyaku sambil memeluknya dari belakang. Hal yang selalu aku lakukan setiap kali melihatnya memasak.
"Cuci tangan dulu, Mas." Dara mencium pipi kananku sebelum akhirnya melanjutkan lagi masaknya.
Aku menggulung kemeja, lalu mencuci tangan seperti yang Dara perintahkan. Kemudian, kembali memeluknya yang masih sibuk menumis tahu dan tempe.
"Kamu masak apa sih?" tanyaku sambil menghujani ciuman di pipinya.
"Masak tumis tahu tempe, sam toge."
"Toge lagi?" tanyaku yang sudah mulai bosen dengan menu yang hampir setiap hari ia masak.
Kemarin sudah lodeh toge, lalu tahu isi toge, sekarang tumis toge.
"Biar kita bisa cepet punya anak, Mas." Dara mematikan kompor, mengambil mangkuk, lalu menuangkan tumisnya ke dalam mangkuk.
Aku terus mendekap tubuhnya tanpa melepas sedikit pun, meski pun ia risih karena tidak bisa bergerak bebas.
__ADS_1
"Kamu usaha banget pengen hamil, padahal aku lebih suka berdua sama kamu." Sekali lagi aku mengecup pipinya.
"Aku kesepian, Mas. Di rumah sendirian, kamu pulangnya malem-malem terus. Kimmora anaknya udah tiga, Nana sebentar lagi juga lahiran. Aku kan juga pengen, Mas."
Kudengarkan semua yang dia keluhkan, tidak ingin satu pun keluhan yang terlewatkan. Dia terus mengoceh membicarakan masalah anak yang memang belum kami dapatkan hingga saat ini.
"Kita baru enam bulan nikah, kamu udah heboh kayak Nyonya Boss." Aku melepaskan pelukan, dan membantunya menyiapkan makan malam.
"Anak itu pengikat, Mas. Semua wanita pasti takut kalau nggak bisa kasih anak biat suaminya."
"Dengar ya Sayang, yang udah punya anak terus cerai juga banyak kok. Yang nikah bertahun-tahun tapi tetap saling mencintai walau tanpa anak juga ada. Anak itu bonus yang nggak bisa diminta semau kita, yang penting kita kerja keras, saling mencintai, itu cukup."
"Ya udah kita makan ya, nggak usah terlalu stres mikirin anak, kalau kamu stres juga nggak bagus."
*
*
*
Setiap minggu, aku dan Dara menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan apa pun berdua. Membersihkan rumah, belanja, memasak, dan apa saja yang bisa kami lakukan berdua. Akan tetapi, hari minggu ini sepertinya lain, karena Bos Zayn memintaku datang ke rumahnya. Entah apa lagi yang kali ini dia inginkan.
__ADS_1
"Mas, aku ikut ya, bosen di rumah." Dara sudah berganti pakaian. Ia merangkul tanganku saat aku baru keluar dari kamar mandi. Laki-laki mana sih yang bisa menolak saat wanitanya bertingkah menggemaskan, dengan berkedip-kedip seperti boneka.
"Kalau nggak disuruh si Bos, udah aku ajakin ke kasur kamu, Sayang."
Dara tersenyum lalu mengambil kemeja milikku dan membantuku berganti pakaian.
"Lagian bos kamu tu ngapain sih minggu-minggu gini nyuruh kerja?" tanyanya sembari mengancingkan kemeja abu-abu yang dipilihkannya.
"Nggak tau, kayaknya sih ngomongin soal sekretarisnya, Lusi temennya Vivi kan kemarin kasih surat resign."
Setelah Dara selesai dengan kemejaku, aku merapikan rambutku dengan gel dan sisir.
Dara mengerutkan alis, lalu mendadak tersenyum sambil menatapku dari kaca rias.
"Kenapa senyum-senyum?" tanyaku, mencubit pipinya dengan gemas.
"Gimana kalau aku yang gantiin?" tanyanya.
❤❤❤
Jempolnya jangan lupa 😘😘😘
__ADS_1