
ZAYYAN
Jika kemarin adalah hari perayaan pernikahan Mas Kai dan Kak Dara, maka hari ini giliran aku dan Putri yang merayakan pernikahan kami. Putri sepertinya sengaja memberikan yang spesial untuk merayakannya, terbukti sejak semalam kami sudah melakukan berkali-kali usaha untuk memiliki anak. Akibatnya, kami bangun kesiangan.
Beruntung karena hari ini Putri libur kuliah, sehinga kami bisa merayakan hari ini dengan berduaan lebih lama.
"Kamu mau jalan-jalan apa di rumah aja?" tanyaku.
Saat ini Putri sedang bermanja di lenganku. Kami menonton ulang rekaman video pernikahan kami yang sederhana.
"Di rumah aja, kalau perlu nggak usah keluar kamar," jawabnya.
"Betah banget di kamar, mau ngapain aja, Put?" Tanganku mengusap rambutnya dengan sayang.
"Nanem kecebonglah, yuk Kak!" ajak Putri yang seolah diingatkan dengan misi besarnya untuk hamil lagi.
"Hei, hei, hei!" Tunggu dulu dong! Kita kan tadi malem udah ngelakuin berulang kali. Kualitasnya pasti menurun kalau dikeluarin terus-terusan, Honey," tuturku mencoba membuat Putri mengerti.
Aku tahu dia sangat menginginkan anak saat ini, tetapi kualitas yang dihasilkan oleh Jupiter pasti juga sangat berpengaruh dengan hasilnya nanti. Aku tidak mau asal-asalan membuat anak tapi dalam keadaan yang tidak maksimal.
"Masa iya begitu? Bukannya kalau sering-sering ngelakuin, peluang kita akan makin besar ya, Kak?" tanya Putri dengan polosnya.
"Iya Put. Aku pernah baca artikel dari seorang dokter yang paham begituan, katanya kualitas terbaik itu kalau kita melakukannya dua sampai tigga hari sekali," jelasku.
__ADS_1
"Aku baru tahu." Putri mengerucutkan bibirnya, lalu membuang napas dengan berat. Sepertinya ia sangat kecewa kali ini.
"Nggak apa-apa Istriku, kita bisa coba lagi besok ya," ucapku untuk membesarkan hatinya.
Daripada melakukan setiap hari tapi hasilnya tidak maksimal, bukankah lebih baik kami melakukannya dengan waktu yang terbaik.
Pada akhirnya kami tetap berada di rumah seharian penuh. Meski tanpa berbuat yang enak-enak, kami masih bisa menikmati keromantisan kami berdua saja.
*
*
*
Dua minggu setelah memutuskan untuk memiliki anak, Putri menjadi sangat antusias pagi ini. Pasalnya ia sudah terlambat datang bulan selama dua hari. Aku membiarkan saja saat ia bangun dengan penuh semangat membawa alat tes kehamilannya.
Beberapa saat menunggu, Putri belum juga keluar. Antara penasaran dan khawatir, aku menyusulnya ke kamar mandi.
Kuketuk pintu kamar mandi dengan debaran jantung yang mulai tidak normal. Dalam otakku sudah memikirkan hal yang negatif. Apa dia pingsan di kamar mandi.
"Put, kamu udah belum?" tanyaku usai mengetuk pintu.
"Iya, Kak. Bentar," jawabnya dari dalam kamar mandi. Seketika perasaanku menjadi lega. Setidaknya ia tidak pingsan di kamar mandi.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Putri keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat tegang.
"Gimana?" tanyaku yang sudah sangat penasaran.
"Aku belum lihat, Kak. Deg-degan terus dari tadi," kata Putri sembari mengeluarkan tangannya yang sedari tadi disembunyikan di belakang tubuhnya. "Kita lihat sam-sama ya!"
Aku mengangguk karena setuju. "Nggak usah tegang, apa pun hasilnya tetap bersyukur. Masih banyak waktu buat kita." Aku memeluk pinggang Putri dan mengecup puncak kepalanya.
Sebenarnya aku sendiri sangat berdebar seperti saat akan sidang skripsi, tapi di depan Putri aku harus terlihat tenang.
"Aku deg-degan banget, Kak."
"Rilex! Kita lihat sama-sama ya! Hitungan ketiga buka tangan kamu"
Putri mengangguk pelan.
"Satu, dua, tiga."
Putri membuka tangannya yang sedari tadi menggenggam alat berwarna biru itu.
Saat hasilnya terlihat, aku sangat terkejut dibuatnya.
❤❤❤
__ADS_1
Eh, kira-kira positif apa negatif ya 😜😜
Ritual jejaknya dulu 😘😘😘