
ZAYYAN
Kehilangan Putri memang tidak lebih menyakitkan dari kehilangan Dera, tapi kehilangan Putri membuatku yakin untuk memperjuangkan perasaanku. Sebenarnya, aku sendiri belum terlalu yakin, apa aku benar-benar menyukainya atau hanya untuk pelarian saja, tapi aku tidak ingin kehilangan lagi.
Aku masih berusaha terus meyakinkannya, tapi Putri dan Erlan justru semakin dekat.
"Berhenti melakukan hal sia-sia Kak, aku yakin akan ada seseorang yang mencintai Kak Za dengan tulus," kata Putri saat aku memberikannya album boy band Korea kegemarannya.
Hari itu, aku benar-benar menjauh dari Putri. Bagiku, semua wanita sama saja. Dulu, Dera mengatakan hal yang sama persis diucapkan oleh Putri beberapa hari lalu. Penolakan yang menyakitkan.
Aku berusaha melupakan Putri, tapi semakin aku mencoba aku semakin sadar bahwa aku memang mencintainya. Sial memang, mencintai gadis yang salah untuk kedua kalinya.
Aku baru saja selesai bermain basket dengan timku di kampus. Hujan yang turun dengan deras sangat mengganggu penglihatanku. Walau memakai helm, tetap saja derasnya hujan memaksaku berhenti untuk berteduh di sebuah ruko yang sudah tutup.
Ketika aku melepas helm dan mencari jaket di tas, aku melihat Putri yang berjalan sendirian di pinggir jalan, dalam keadaan yang basah kuyub. Aku berteriak memanggilnya, tapi Putri tidak mendengar, karena hujan yang terlalu deras. Akhirnya aku berlari menghampirinya.
"Kamu kenapa hujan-hujan gini?" tanyaku dengan berteriak.
Hujan yang turun sangat deras, mungkin saking derasnya terasa sakit saat terkena wajah.
"Aku nggak apa-apa," jawabnya sambil berlalu. Aku melihat mata putri yang memerah, entah karena air hujan atau memang karena dia menangis.
Otakku berpikir untuk membiarkannya, tapi hatiku ingin menahan Putri, tidak ingin dia jatuh sakit. Sampai akhirnya aku berlari mengejarnya, dan menarik tangannya untuk berteduh. Aku tidak peduli kalau saja nanti dia akan marah dan mencaciku.
"Jangan bodoh!" Aku mengeluarkan jaket dari dalam tasku yang memang anti air. Lalu, aku memakaikan jaket itu pada Putri.
"Kak Erlan." Bibir Putri bergetar saat mengatakannya. Setetes air mengalir dari matanya.
"Dia kenapa?" tanyaku basa-basi. Sebenarnya malas sekali membahas laki-laki lain, tapi sepertinya Putri butuh teman bercerita.
__ADS_1
"Dia ternyata udah punya pacar dan aku cuma dijadikan selingkuhan," curhatnya sambil terisak.
Mendengar itu, hatiku bersorak bahagia. Setidaknya aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Putri.
"Terus?"
"Mungkin ini yang dinamakan karma, aku udah jahat sama Kakak," katanya sambil menunduk. "Maafin aku," lanjutnya.
Aku tidak bisa menahan senyum, sampai aku harus menyembunyikannya dengan menatap ke arah lain.
Hening yang sangat lama. Baik aku maupun Putri tidak ada yang membuka mulut. Sampai akhirnya, hujan mulai reda.
"Ayo aku antar kamu pulang!" ajakku sambil mengelap Nindy dengan kain yang selalu siapkan di bagasi motor.
"Kakak nggak marah sama aku?" tanyanya sambil berjalan mendekat padaku.
"Mas Kai kamu yang akan marah kalau aku tinggalin kamu sendirian di sini," jawabku yang masih tidak mau mengakui kalau sebenarnya aku masih mencintai Putri.
Aku tidak menjawab apapun dan memilih untuk melajukan Nindy ke jalanan beraspal yang masih basah.
Bajuku yang basah membuat tubuhku terasa sangat dingin saat diterpa angin. Mungkin nanti malam aku akan demam.
***
"Kak, mampir dulu, ganti baju, rumah Kakak kan masih jauh, nanti Kak Za sakit," kata Putri saat aku sudah mengantarnya sampai di depan lobi apartemen.
"Nggak usah, aku langsung pulang aja," tolakku.
"Ayolah Kak, aku buatin teh hangat bentar aja, aku nggak akan turun nih kalau Kakak nolak," ancamnya yang masih berissik seperti dulu. Katanya sedih, kok bisa-bisanya masih berisik.
__ADS_1
"Oke-oke, aku ada baju ganti kok di tas, aku numpang mandi aja bentar," jawabku pasrah.
Putri tersenyum, manis juga walau dia lagi sedih.
Kami sampai di apartemen milik Asisten Kai, Putri membuatkan aku teh panas.
"Kamar Mas Kai dikunci Kak, Kak Za mau mandi di kamar aku aja?" tanya Putri.
"Kamar mandi luar nggak bisa dipakai?"
"Lampunya rusak Kak, nggak tau Mas Kai lupa terus mau benerin."
"Ya udah, kamu mandi dulu aja, aku habisin teh aku dulu,"
Akhirnya aku dan Putri bergantian untuk mandi. Setelah Putri keuar dari kamarnya dengan handuk yang melilit di kepala, aku bergantian masuk ke kamarnya, dan Putri ke dapur ingin memasak mie instan katanya.
Kamar mandi Putri sangat bersih, dan harum. Aroma sabun yang baru saja dipakai Putri masih tercium kuat di hidungku. Kemudian, aku segera mandi dan berganti pakaian.
Saat aku keluar dari kamar Putri, bertepatan juga dengan kedatangan Asisten Kai yang baru menutup pintu utama.
Ia menatapku dan Putri yang masih memasak di dapur.
"Kalian habis ngapain?" Asisten Kai menunjukku dan Putri secara bergantian.
❤❤❤
...Habis mandi Mas. Mas Kai jangan nethink dong🤭🤭🤭...
Udah hari senin, bagi votenya boleh dong 🤭🤭🤭
__ADS_1
Ritualnya jangan lupa