
Setelah mengetahui istrinya kurang enak badan, Kak Arsen langsung mengajak istrinya pulang. Istirahat di rumah mungkin lebih baik untuk Kimmora saat ini. Ia pasti kelelahan karena baru saja menggelar pesta tadi malam.
Aku juga langsung pamit ke kampus karena Kak Zayn sudah ditelepon asistennya dari tadi.
Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju kampus diantar Kak Zayn pastinya. Duduk berdua di dalam mobil bukan berarti kami berkomunikasi dengan baik. Manusia sedingin kutub itu mendadak kembali pendiam, padahal tadi saat perjalanan ke rumah Mama masih mau bicara.
Sampai di kampus pun, Kak Zayn masih diam. Kalau dipikir-pikir kami ini mirip penumpang dan sopir taksi.
"Nanti nggak usah jemput, aku nebeng Nadya aja," ucapku sebelum turun dari mobilnya.
"Siapa juga yang mau jemput," jawab Kak Zayn yang membuatku menoleh, lalu keluar dengan kesal sambil membanting mobil.
Dasar laki-laki tidak peka! Dia yang menawarkan diri untuk mengantar ke kampus, tapi dia juga yang tidak berinisiatif menjemput pulang. Memangnya aku bisa pulang dengan jalan kaki?
"Ra." Baru melangkah beberapa meter dari tempatku turun, seseorang sudah memanggilku.
"Zayyan," sapaku pada adik iparku itu.
"Kamu diantar Kak Zayn?" tanya Zayyan.
"Bukan, supir itu," jawabku yang masih kesal dengan Kak Zayn.
"Oh, kenapa dia nggak langsung pulang?" Zayyan memeperhatikan mobil Kak Zayn yang belum bergerak meninggalkan kampus.
"Biarin aja, udah yuk kantin!" ajakku, lalu berjalan menuju kantin.
Zayyan mengekor di belakangku, untung saja kaca mobil Kak Zayn itu gelap jadi Zayyan tidak tahu kalau yang aku maksud sopir itu kakaknya sendiri. Masa bodohlah dengan Kak Zayn yang menyebalkan itu.
*
*
*
__ADS_1
Selesai kuliah, Nadya ternyata masih ada kelas tambahan, dan aku harus menunggunya karena aku tidak bawa mobil. Aku memutuskan untuk menunggunya di perpustakaan, sambil mencari referensi untuk bahan skripsiku nanti.
Saat berjalan menuju perpustakaan, ponselku bergetar-getar. Kemudian, aku pun mengambil ponselku untuk menjawab panggilan itu.
Asisten Kaisar. Kenapa dia meneleponku?
"Ya, halo." Aku menjawab panggilan dari asisten suamiku itu.
"Nona di mana?" tanya Asisten Kaisar.
"Aku di kampus, kenapa?"
"Apa sudah selesai kuliahnya? Saya akan jemput!"
Apa ini perintah Kak Zayn. Hah, dia bilang tidak akan menjemputku, tapi dia menyuruh asistennya. Suami macam apa sih dia?
"Udah selesai, tapi nggak usah jemput, aku nebeng temen aja," jawabku.
"Sama siapa?"
Di perpustakaan, aku bertemu dengan Zayyan yang juga sedang belajar. Lalu, aku pun bergabung dengannya.
"Mau pulang bareng, Ra?" tanya Zayyan saat kami baru selesai belajar.
"Em, aku nunggu Nadya aja deh." Aku menolak karena Zayyan menyukaiku, aku ingin dia menganggapku sebagai teman biasa, karena itulah aku tidak mau pulang bersamanya.
"Kamu nggak mau naik motor karena takut panas, ya?" Zayyan sepertinya salah sangka, padahal aku tidak berpikiran seperti itu.
"Bukan gitu, Za," jawabku setengah bingung, apa yang harus aku katakan padanya supaya tidak melukai perasaannya.
"Iya deh, aku pulang dulu kalau gitu." Zayyan langsung berdiri dan meninggalkanku. Sepertinya dia salah paham denganku kali ini.
Setelah berpikir sejenak, aku segera mengejar Zayyan yang sudah berjalan jauh meninggalkanku.
__ADS_1
Sampai di parkiran, aku berhasil menghentikan Zayyan setelah berlari mengejarnya.
"Anterin aku pulang," kataku dengan napas tersengal-sengal.
Zayyan menatapku dengan raut bahagia.
"Kamu lucu, Ra. Ya udah, kamu pakai helm aku biar nggak panas!" Zayyan mengulurkan helm teropong miliknya, lalu mengeluarkan sebuah topi dari dalam tasnya. Dia hanya membawa satu helm, dan itu pun diberikan padaku.
"Aku nggak usah pakai helm deh." Aku menolak untuk mengambil helm yang diberikan Zayyan.
"Udah, pakai aja! Panas nih," kata Zayyan
Memang sih, cuaca sangat panas, terkena sengatan matahari di siang bolong begini pasti akan membuat kepalaku pusing.
Aku mengangguk dan akan menerima helm milik Zayyan, tapi seseorang berhasil meraih tanganku sebelum menyentuh helm itu.
"Kak Zayn." Aku sangat terkejut saat melihat Kak Zayn sudah berdiri di sampingku dan menggandeng tanganku.
"Pulang sama aku!" kata Kak Zayn setengah membentak.
"Kak, jangan kasar sama Dera."
"Jangan ikut campur Zayyan, dan jangan berani mengajak Dera pulang bareng lagi!" ancam Kak Zayn pada adiknya sendiri.
"Kak Zayn lepasin sakit!" Aku meronta saat Kak Zayn menggenggam tanganku dengan sangat erat.
Kenapa sih dia? Kenapa datang-datang marah-marah? Katanya tadi tidak mau menjemputku, kenapa tiba-tiba muncul di sini?
♥️♥️♥️
...Nah loh Kak Zayn kenapa? Cemburu ya? Cie cie cemburu 😂😂😂...
Jangan lupa jempolnya, nanti aku up lagi 🥰🥰🥰
__ADS_1
Kembang sama Kopinya banyakin juga gaes, biar makin semangat 🤭🤭🤭
Sampai ketemu lagi 😘😘