Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 190


__ADS_3

Tanganku sudah berhasil menyingkap kain penutup tubuh Putri bagian bawah. Walau kelihatannya dia mengabaikan sentuhanku, tapi ternyata tubuhnya sangat menerima. Buktinya, gundukan kecil itu sudah sangat basah. Semakin lama aku menggesekkan tanganku pada lembah sempit miliknya, tingkah Putri semakin tidak karuan. Ia bahkan membuka lebar kakinya supqya tanganku bisa lebih leluasa.


"Ehm," desahnya yang membuatku semakin bersemangat mempermainkannya. Mulutku semakin lihai memainkan puncak kecilnya, menghisap dan menjilatinya.


"Kakak, geli," ucapnya yang semakin bergelinjang tidak karuan.


"Mau yang lebih enak?" tanyaku setelah melepaskan mulutku dari puncak benda kenyal itu.


"Emm, apanya?" tanya Putri yang kini menggigit bibir bawahnya.


"Yang lebih enak dari ini." Aku melu*mat bibirnya sambil tanganku terus mempermainkan area sen*sitif milik Putri.


Ia membalas ciumanku dengan penuh gai*rah, sampai tanganku merasakan kedutan hebat di lembah sempit miliknya, tetapi aku segera mencabutnya sehingga Putri gagal mendapatkan pelepasannya.


"Kok berhenti, Kak," protesnya setlah melepaskan ciuman kami.


"Jangan di sini, di kamar aja yuk!" ajakku.


"Tapi nggak mau sakit." Putri mengalungkan tangannya di leherku. Lalu aku memposisikan tanganku di punggung dan belakang lututnya.


"Nggak akan, pelan-pean kok, janji," ucapku setelah berhsil mengangkat tubuhnya.


"TVnya nggak dimatikan dulu, Kak?" tanya Putri saat kami sudah sampai di depan pintu kamar.


"Nggak usah, biar nanti kalau kamu teriak-teriak keenakan nggak ada yang dengerin kita," jawabku.


Setelah berhasil membawa Putri ke kamar dan merebahkannya di kasur, aku segera mengunci pintu kamar agar tidak ada yang mengganggu kegiatan kami.


Kemudian, aku melepaskan kaus dan celana pendekku. Putri menutup matanya dengan kedua tangan sat aku menarik ke bawah bokser yang menjadi satu-satunya penutup Jupiter.


"Kenapa ditutupi?" tanyaku sambil menciumi lehernya.

__ADS_1


"Takut, Kak." Putri masih menutup matannya dengan tangan


Lalu, aku mengambil sesuatu di dalam tas kecil milikku. Sebuah pelumas yang membantu melicinkan jalannya Jupiter masuk ke kandangnya.


Aku menyingkirkan tangan Putri yang menutup wajahnya, lalu kembali mencium bibirnya. Perlahan aku melepaskan pakaiannya satu per satu, sampai akhirnya semua terlepas dari tubuhnya.


Aku terus merang*sangnya dengan ciuman lembut di seluruh leher dan dadanya. Setelah kurasa Putri siap, aku mengoleskan pelumas itu ke seluruh bagian Jupiter. Walaupun Putri sudah basah, tapi aku tidak mau mengambil resiko jika dia kesakitan lagi dan akhirnya tidak mau aku masuki.


"Kakak ngapain?" tanya Putri saat aku mengoleskan Jupiter yang sudah menjulang dengan gel dingin yang memang dikhususkan untuk memberikan pelumas.


"Dikasih ini biar nggak sakit," jawabku, lalu kembali menciumnya. "Aku masuk ya," izinku dengan berbisik di telinganya.


Putri mengangguk, dan aku kembali melu*mat bibirnya. Di bawah sana, aku menuntun Jupiter untuk masuk ke dalam kandangnya. Secara pelan-pelan, aku mendorong Jupiter ke dalam lubang sempit milik Putri.


"Sakit?" tanyaku saat kepala Jupiter sudah masuk.


Putri menggeleng pelan, lalu aku kembali mendorong Jupiter sampai tenggelam sepenuhnya di dalam kandangnya.


Peluh bercucuran di kening Putri, dan itu menambah kesan seksi dari istriku itu.


"Gimana? Sakit nggak?" tanyaku lagi.


Putri kembali menggeleng.


"Aku gerakin ya," izinku yang hanya dibalas dengan anggukan.


Perlahan, aku menggerakkan Jupiter maju mundur. Rasanya memang sangat nikmat, dan sempit.


"Sakit?" tanyaku sambil terus bergerak.


"Enak," jawabnya yang membuatku semakin bersemangat untuk memacu gerakan Jupiter semakin cepat.

__ADS_1


"Enak kan, tahu gitu kan dari kemarin kemarin pakai pelumas biar enak," godaku lalu melahap bukit kenyal yang bergerak menggemaskan.


"Ah, Kakak. Kenapa ini sangat enak," racaunya saat aku semakin bergerak cepat.


Dalam hati aku hanya tertawa, kenapa kemarin-kemarin menolak kalau ternyata memang enak. Awas saja kalau nanti bilang sakit.


"Kakak, aku mau keluar," teriaknya setelah kami bergelut cukup lama. Keringat kami sudah membasahi seluruh tubuh.


"Aku juga," balasku yang merasa Jupiter akan memuntahkan cairannya.


"Kakak, ahh."


Aku merasakan lubang sempit itu semakin menjepit Jupiter, rasanya seperti dipijat-pijat. Tidak lama setelahnya, aku merasakan hangat dan basah tanda Putri sudah keluar, dan aku semakin bergerak cepat hingga akhirnya Jupiter mengeluarkan cairan putih kental yang menyirami rahimnya.


"Makasih istriku." Aku menciumi seluruh wajahnya. Putri hanya memejamkan mata dengan napas tersengal-sengal. "Mau lagi ya," bisikku, lalu sebuah pukulan mendarat di punggungku yang penuh dengan keringat.


"Sakit tau, udah dikasih yang enak-enak masih aja suka mukul."


"Capek tau Kak, istirahat dulu napa, emang Jupiter nggak capek?"


"Nggak, mau lima ronde lagi juga masih kuat," jawabku kembali menyusu di dadanya.


❤❤❤


Astaga mesum banget otakku. Gara-gara Jupiter nih 🤧🤧🤧


Siang-siang gini aku kasih yang hot hot pop ya, biar makin keringetan. Kayak aku yang habis minum obat langsung keringetan 🤣🤣🤣


Dah kan ya, udah selesai tugasku bantuin Jupiter.


Jempol sama hadiahnya dong. 🙃🙃🙃

__ADS_1


BTW, makasih ya gaess buat kalian yang udah kasih semangat dan doa buat kesembuhanku, maaf gak sempet balas satu per satu, tapi aku selalu baca kok komen komen kalian yang selalu bikin aku kangen, pengen update terus 😍😍😍😍


__ADS_2