
ZAYYAN
Dua bulan setelah kembali dari London. Kami sudah masuk kuliah seperti biasa. Akan tetapi, ada yang aneh dengan sikap Putri. Ia sekarang lebih manja, semakin sering ngambek, dan kadang tiba-tiba menangis.
Pagi ini, kami ke kampus seperti biasa, naik motor karena lebih praktis.
"Kakak, nanti Kakak selesai jam berapa?" tanya Putri sembari melepas helmnya.
"Habis makan siang udah nggak ada kelas sih, aku mau ke bengkel. Kenapa?"
"Aku mau beli seblak sama Nafa, jangan nyariin," ucapnya seraya menepuk pundakku, lalu pergi.
Aneh! Mau beli seblak aja udah kayak mau ketemu pacarnya.
Aku berjalan meninggalkan parkiran sedangkan Putri, kulihat ia menggandeng tangan Nafa menuju kelasnya.
Di kampus ini, hanya beberapa orang saja yang tahu aku dan Putri menikah. Hanya teman-teman yang paling dekat dengan kami saja yang tahu. Aku dan Putri memang merahasiakannya karena tidak mau pernikahan kami mengganggu aktifitas kami sebagai mahasiswa, dan kami terbebani karenanya.
*
*
*
Setelah pelajaran selesai, Vani teman sekelasku menarik tanganku. Ia meminta bantuan, katanya motornya rusak. Karena kasihan, aku pun mencoba membantu Vani, toh Vani juga sudah memiliki kekasih di kampus ini.
"Aku nggak tau deh kenapa tiba-tiba mogok, kemarin-kemarin masih oke."
__ADS_1
Saat ini kami sudah ada di parkiran motor, kebetulan motor Vani diparkir tidak jauh dari motorku.
"Bentar aku cek dulu." Aku pun melakukan pengecekan di beberapa bagian yang aku curigai menjadi penyebab utama motor Vani tidak mau menyala.
Setelah melakukan pengecekan dan menemukan sumber masalahnya, aku langsung memperbaikinya. Dengan peralatan sederhana yang selalu ada di jok motor, aku berhasil memperbaiki masalah motor Vani.
"Wah, untung ada kamu Za, kalau nggak, mungkin aku udah dorong motor aku tadi, mana si Eza nggak masuk, thanks banget ya Za," kata Vani.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, lalu menjawab, "Sama-sama, sering-sering servis makanya, biar nggak mogok lagi."
"Kantin yuk, aku traktir!" kata Vani yang membuatku sedikit berpikir, cuaca yang panas sepertinya cocok kalau minum yang dingin dan segar di kantin.
Aku mengangguk lalu tiba-tiba.
"Kakak."
"Putri."
"Kakak ngapain berduaan sama perempuan? Mau jado pelakor? Jahat banget sih kalian?" teriaknya dengan jarak yang masih cukup jauh. Untung saja parkiran sedang sepi manusia.
"Apaan sih teriak-teriak, ngomong baik-baik kan bisa?" sahutku.
Putri berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki menghampiriku dan Vani.
"Siapa Za? Pacar kamu?" tanya Vani yang tidaj tahu bahwa Putri adalah istriku.
"Aku tunangannya." Putri menunjukkan cincin pernikahan kami yang dia akui sebagai cincin tunangan. "Kakak jangan jadi pelakor ya, meskipun aku adik tingkat, aku nggak takut sama senior. Aku bisa galak loh."
__ADS_1
Vani terlihat bingung, aku sendiri cukup heran dengan tingkah Putri yang sangat absurd.
"Dia itu temenku, Put. Motornya mogok terus aku bantuin dia."
"Ah, itu lagu lama, Kak. Pura-pura mogok, nanti pas udah dibantuin ditraktir makan di kafe, iya kan?"
"Nggak di kafe, cuma di kantin," sahutku yang membuat Putri makin kesal.
"Za, kayaknya aku balik aja deh, thanks ya udah bantuin, aku traktirnya kapan-kapan aja." Vani berpamitan, dan itu membuatku merasa tidak enak.
"Van, jangan pergi dulu, Putri cuma salah paham aja. Kita lurusin dulu ini." Aku sengaja mencegah Vani pergi, karena aku tidak mau Putri semakin salah paham.
"Tuh, kalian mau janjian kan?"
"Bisa berhenti negatif thinking nggak? Kucium di sini nih kalau nggak bisa diam." Aku hanya ingin membuat Putri diam sebentar sambil aku menjelaskan, tapi reaksi Putri di luar dugaanku.
"Ya udah cium, kalau berani. Biar semua tahu kalau Kakak milik aku." Putri menyodorkan pipinya.
Karena gemas, aku mencium pipinya di depan Vani. "Iya, Putri aku kan suami kamu."
❤❤❤
Kak Za, mau nanya dong, kalau nyium Putri, si Jupiter bangun nggak 😂😂😂
Kalau bangun juga nggak masalah, sekarang kan udah ada pawangnya 😅😅😅😅
Cuma mau bilang, mungkin ada yang bingung. Update episode ke 201, tapi jumlah bab kok cuma 199, jadi 2 bab selisihnya itu adalah bab give away dan pengumuman ya 🥰🥰🥰
__ADS_1