Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 94


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, magang ku sudah selesai, dan saat ini aku fokus mengerjakan skripsi. Belum ada tanda-tanda kehamilan yang membuatku harus menelan pil kekecewaan setiap kali tamu bulananku datang.


"Kenapa cemberut?" tanya Kak Zayn saat aku keluar dari kamar mandi.


"Aku datang bulan," jawabku yang kemudian mengambil tali rambut di nakas, dan mengikat rambutku.


"Kamu cemberut karena harus libur enak-enak, Ra? Harusnya 'kan Juna yang sedih," kata Kak Zayn. Ia menyibak selimutnya lalu duduk bersandar di kepala ranjang.


"Ih, ngaco. Udah ah, aku mau masak, Kak Zayn buruan mandi!"


Empat bulan lebih kami menikah, dan aku belum juga hamil. Terkadang aku merasa iri melihat Kimmora, dan Kak Yumna yang sedang mengandung. Pasti lebih seru kalau aku pun juga hamil. Ah, mungkin Tuhan masih merencanakannya untukku.


"Ra, kamu masak apa?"


Kak Zayn sudah terlihat rapi, dengan setelan jas warna navy yang sudah kusiapkan.


"Ayam goreng sama sup, mau makan sekarang?" tanyaku sambil menyuguhkan kopi yang baru kubuat.


"Hei, kenapa matamu memerah?" Kak Zayn menarik tanganku saat aku hendak meninggalkannya.


"Aku baik-baik saja kok," jawabku sambil tersenyum. Aku selalu menyembunyikan perasaan sedihku setiap kali berhadapan dengan Kak Zayn.


"Coba sini aku periksa," kata Kak Zayn yang kemudian menarik tanganku sampai aku terduduk di pangkuannya.

__ADS_1


Kak Zayn mengusap pipi, mata dan bibirku. Lalu, ia menyelipkan rambut yang keluar dari ikatannya ke belakang telinga.


"Kamu sedih, Ra?" tanya Kak Zayn yang membuatku tertawa.


"Siapa yang sedih sih?" Aku terus tersenyum untuk mengecoh Kak Zayn yang sedang menatapku dalam-dalam.


"Aku tahu, Ra. Kamu sedih karena kamu datang bulan?" Kak Zayn kembali mengusap pipiku. "Kamu sedih karena belum hamil?"


Kak Zayn bisa menebak isi hatiku, padahal aku sudah menutupinya semampuku.


"Ih, nggak lah, siapa yang sedih?" Aku balas mengusap wajahnya yang tampan dan bersih, walau ada satu jerawat di jidatnya.


"Jangan bohong, Ra. Aku suami kamu," kata Kak Zayn yang membuat hatiku terasa sesak.


"Sarapan, yuk! Aku udah laper." Aku berusaha turun dari pangkuannya, supaya bisa terbebas dari tatapannya yang tajam itu.


"Jangan sedih, kita masih punya banyak waktu. Aku juga masih ingin menikmati waktu berdua denganmu, Ra," kata Kak Zayn.


Apa sekarang dia berubah pikiran? Bukankah dia dulu tidak ingin kalah dengan Kak Arsen?


"Benarkah?"


"Iya, Ra. Jangan terlalu dipikirin, kita santai aja ya. Kamu juga belum selesai kuliah. Kita masih punya banyak waktu. Yang penting, aku tetap cinta sama kamu." Kak Zayn tersenyum lalu mencium kedua pipiku.

__ADS_1


"I love you too."


*


*


*


Setelah bertemu dosen yang menunggu cukup lama, aku memutuskan untuk mampir ke kantor Kak Zayn tanpa memberitahunya terlebih dulu. Pikirku, kalau dia tidak di kantor, aku akan langsung pulang.


"Kak Zayn ada?" tanyaku pada Vivi yang merupakan sekretaris Kak Zayn.


"Bos di dalam Nona, Tuan Muda Zayyan juga ada di dalam."


Zayyan, tumben sekali dia ke kantor.


"Sama siapa lagi?"


"Hanya mereka berdua Nona."


Lalu, aku pun masuk ke ruangan Kak Zayn. Dua orang itu sedang berdiskusi yang cukup serius.


"Dera." Zayyan melihatku lebih dulu, karena posisinya berada di hadapan Kak Zayn yang membelakangiku.

__ADS_1


Kak Zayn menoleh. Dua laki-laki itu sama-sama menatapku yang masih berdiri di ambang pintu.


♥️♥️♥️


__ADS_2