
KAISAR
Beberapa hari semenjak Nona Bos hamil, pekerjaanku menjadi semakin sibuk. Bos Zayn yang menemani istrinya di rumah, membuatku mondar-mondar dari kantor ke rumah mewahnya. Pagi tadi sudah sibuk dengan drama memanggil dokter kandungan, dan sekarang harus menyiapkan meeting dadakan di rumahnya. Yang paling menyebalkan, kenapa aku harus melihat mereka berciuman di tepi kolam? Kuhitung, ini sudah kali kedua aku melihat pemandangan yang menodai mata itu.
"Dera mual-mual terus," ucap laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu. Dia mulai curhat sepertinya.
"Yang namanya orang hamil, bukannya mual itu hal yang wajar, Bos. Dokter tadi sudah menjelaskan." Aku mengingatkan apa yang tadi pagi dikatakan Dokter Nayla—dokter kandungan yang menangani istri bosku.
"Iya aku tahu, masa dia mual gara-gara nyium aroma tubuhku sih?"
Dalam hati aku bersorak ingin menertawakan kesialannya. Bisa dipastikan si Bos akan berpuasa.
"Lalu?"
"Ah, kamu kan belum nikah, mana paham rasanya."
Ingin rasanya aku membalas dengan meledeknya, tapi sudahlah lebih baik aku diam saja.
"Gimana hubungan kamu sama Dara?" tanyanya setelah menandatangani berkas yang kuberikan.
"Baik-baik saja, Bos. Masih belum ada kemajuan," jawabku jujur. Memang hubunganku dan kekasihku itu masih belum mendapatkan restu dari ayahnya.
"Kamu nggak mau aku bantu?" tanyanya yang membuatku menatap wajahnya yang serius. "Jangan menganggapku orang lain, kalau butuh bantuan, aku pasti akan membantu," imbuhnya.
__ADS_1
"Terima kasih Bos, tapi untuk saat ini memang tidak ada yang bisa dilakukan." Aku sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan papanya Dara belum memberikan restu sampai saat ini.
"Kalau adik kamu bagaimana? Betah di sini?" tanyanya lagi.
Adikku memang melanjutkan kuliah di ibu kota, karena ia juga mendapat beasiswa sepertiku.
"Ya, begitulah Bos. Waktu awal-awal sering nangis kangen ibu di kampung, tapi sekarang sudah punya teman jadi ya betah."
"Baguslah kalau begitu. Oh ya, nanti bilang Vivi suruh kirim email surat perjanjian proyek biru!"
Aku mengangguk. Lalu, setelahnya aku berpamitan untuk ke kantor.
***
Mobilku sudah berhenti di depan gerbang, biasanya Dara akan keluar dan langsung masuk ke mobil. Namun, kali ini berbeda, seorang pembantu rumah tangga membuka pintu gerbang lebar-lebar. Ia menyuruhku memasukkan mobil ke halaman rumah.
"Bapak sudah menunggu Mas," kata wanita paruh baya itu.
"Iya, makasih, Bi." Aku melangkah memasuki rumah keluarga Dara.
Tiga kali aku ke rumah ini, hanya sekali papanya Dara mau menemuiku, itu pun saat aku bersama Bos. Lalu, sekarang tiba-tiba begini ingin menemuiku, ada apa?
Memasuki rumah satu lantai yang halamannya sangat luas ini, menadadak aku merasa grogi. Tidak ada persiapan apapun, makanan juga tidak sempat beli. Aku datang dengan tangan kosong.
__ADS_1
Papa dan Mama Dara sudah duduk di ruang tamu, sementara Dara tidak ada. Setelah mengucapkan salam dan saling bersalaman, aku dipersilakan duduk oleh mamanya Dara. Mencium aroma tegang seperti ini, aku jadi semakin gugup.
"Nak Kaisar mau ajak Dara makan malam ya?" tanya Mama Dara dengan suara lembut. Semetara papanya Dara hanya diam dengan raut muka tegang.
"Iya, Tante. Maaf Dara ke mana?"
"Ada di kamar lagi siap-siap."
"Kamu kerja apa?" Papa Dara tiba-tiba bertanya dengan sorot mata yang menyeramkan. Papanya itu anggota militer, jadi wajar saja kalau aku sangat gugup melihatnya, apalagi sepertinya beliau ingin menginterogasiku.
"Saya, menjadi orang kepercayaan di Guna Cipta, Om."
"Kerja kamu apa?"
"Em, saya yang mendampingi Bos Zayn setiap kali ada meeting, perjalanan bisnis, dan semua yang diperlukan Bos, saya yang menyiapkan."
"Kamu bisa membahagiakan anak saya?" pertanyaan sederhana yang tiba-tiba membuat jantungku berdebar semakin cepat.
"Mungkin, saya tidak bisa menjanjikan kebahagiaan, tapi saya janji saya tidak akan membiarkan air mata keluar dari matanya, kecuali air mata bahagia."
Papa Dara diam. Sepertinya sedang menyusun pertanyaan lagi, membuatku semakin grogi, takut salah menjawab.
♥️♥️♥️
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya