Istri Big Boss

Istri Big Boss
Ekstra Bab 24


__ADS_3

PUTRI


Di usia kandungan yang memasuki usia tujuh bulan ini, perutku semakin terlihat buncit. Tendangan-tendangan kecil sudah mulai bisa aku rasakan. Kak Za jadi suka sekali menyentuh perutku dan merasakan tendangan cinta yang anak kami lakukan.


Anak pertama ini, aku dan Kak Za sengaja tidak mencari tahu soal jenis kelamin. Bagi kami, apa pun jenis kelaminnya, yang terpenting dia sehat dan tidak kekurangan suatu apa pun.


"Honney, ini tahu bulat pesenan kamu." Kak Za meletakkan makanan yang terbungkus dalam kantong plastik itu di atas meja.


"Sotong gorengnya ada juga, kan, Kak?" tanyaku memastikan.


"Ada kok," jawab Kak Zayn. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa samping tempatku duduk.


Aku membuka makanan itu dan mencicipi rasanya.


'Tidak seperti biasanya. Apa ini bukan tahu bulat Mang Asep?'


"Kakak beli di mana?" tanyaku pada Kak Zayyan yang sedang memejamkan mata. Sepertinya ia sedang pusing karena kuperhatikan dia sedang memijat pelipisnya.


"Di depan bengkel tadi, kebetulan ada yang lewat. Jadi nggak perlu repot-repot nyari Mang Asep," jawabnya santai.


Aku merasa jengkel karena jawaban Kak Za yang seenaknya.

__ADS_1


"Kakak, aku kan maunya tahu bulat punya Mang Asep. Kenapa malah lain? Ini rasanya beda, aku maunya Mang Asep," rengekku sembari memegangi lengan Kak Zayyan.


"Yq Allah, Put. Sama-sama tahunya, 'kan? Sama-sama digoreng dadakannya, 'kan?" Terus masalahnya apa?" tanya Kak Zayyan yang kelihatannya kesal denganku.


"Kakak kok marah sih? Aku kan maunya Mang Asep. Kakak jahat banget."


Hatiku terasa sakit sekali saat Kak Zayyab tidak mau menuruti keinginanku. Ia seolah meremehkan keinginanku yang juga mengutarakan keinginan anaknya sendiri.


"Kakak nggak marah Putri. Ya Allah gara-gara tahu doang. Bikin sakit kepala deh."


"Bukan masalah tahunya, Kakak jahat nggak peduli sama keinginan dedek bayi. Pokoknya aku nggak mau dekat-dekat Kakak. Kakak jahat."


Sejak insiden tahu bulat tadi sore. Aku benar-benar tidak mau berbicara apalagi menyentuh Kak Za. Biar saja dia rasakan tidak enaknya dicuekin. Salah sendiri kenapa seenaknya meremehkan ngidamku.


Malam ini aku membuat batasan dengan guling di tengah-tengah ranjang kami. Kak Za yang baru keluar kamar mandi langsung melongo.


"Kok tembok raksasa pindah ke sini?" tanya Kak Za sembari berjalan mendekatiku.


"Iya. Biar nggak ada yang diam-diam menyelundup masuk ke wilayah surga," jawabku asal. Kesal sekali melihat wajah Kak Za yang tidak merasa bersalah.


"Yah, berarti malam ini jupiter tidur di luar dong, nggak boleh masuk nih?" Kak Za merebahkan tubuhmya ke ranjang, pas sekali menyentuh guling yang sengaja aku pasang untuk pembatas.

__ADS_1


"Nggaklah. Enak aja! Kalau tahu bulat Mang Asep udah ada, terserah Jupiter mau masuk berapa kali pun nggak apa-apa. Tapi, karena Kakak gagal bawa tahu bulatnya Mang Asep, Jupiter harus puasa dulu," jawabku lalu memunggungi Kak Za.


"Ya Allah Put, pegang-pegang aja deh. Boleh nggak?" rayunya.


Aku tidak peduli. Kutepis tangan Kak Za yang menyentuh pundakku. Lalu, aku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.


Tidak berapa lama, kudengar suara Mama yang memanggil kami sambil mengetuk pintu. Kak Za lalu bangkit dari kasur dan membukakan pintu untuk Mama.


"Ini pesenan Putri, jangan sampai deh cucu mama ileran." Kudengar Mama yang berbicara setelah Kak Za membuka pintu.


"Makasih ya, Ma."


Setelah itu, kudengar suara pintu yang ditutup. Lalu, Kak Za menghampiriku ke kasur.


"Nih tahu bulatnya. Ini dari Mang Asep loh."


Aku langsung bangun dan bersemangat. Kak Za menyuapkan satu untuk kumakan.


'Benar, ini tahu bulat Mang Asep.'


"Jadi gima? Jupiter nggak jadi puasa, 'kan?"

__ADS_1


Selamat siang, sory lama updatenya karena dikejar deadline😭😭 Maaf banget ya kalau nunggunya lama 🙏🙏🙏


❤❤❤


__ADS_2