
Aku menolak dengan tegas saat teman-temanku ingin mengecek pundakku. Aku masih bisa berjalan tegak, walaupun pundakku terasa nyeri. Jadi, aku merasa sedang baik-baik saja. Sebenarnya gengsisama Putri, baru terkena bola begitu sudah mengeluh, padahal rasanya sangat menyakitkan.
"Kakak beneran nggak apa-apa?" tanya Putri saat berjalan berdampingan denganku menuju parkiran motor.
"Iya, nggak apa-apa kok. Habis ini kamu mau ke mana?" tanyaku. Kami sudah sampai di parkiran, Nindy yang masih terlihat mempesona sedang menunggu kami.
"Kita pulang aja, Kak." Putri mengambil helm yang berada di atas motor, berusaha membuka talinya walau kesulitan.
"Sini!" Aku merebut helm itu dari tangan Putri untuk membantu membukanya.
"Put," sapa seseorang yang tak jauh dari kami.
Putri melengos, sedangkan laki-laki itu berjalan semakin dekat.
"Aku perlu ngomong sama kamu!" Laki-laki itu menarik tangan Putri, tapi Putri langsung menepisnya.
"Apa lagi yang mau diomongin, di antara kita itu udah berakhir," tegasnya sambil menatap risih atau mungkin jijik dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal itu.
"Aku mau ngomong berdua sama kamu," kata laki-laki itu lagi.
"Apa aku mengganggu?" tanyaku saat mulai merasa menjadi penonton yang tidak diharapkan.
Dari kata-kata mereka, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka ini pasangan yang sedang bertengkar. Kalau benar laki-laki ini pacar Putri yang sesungguhnya, artinya aku sudah menjadi perusak hubungan mereka.
"Nggak, Kak. Aku mau ngomong sama dia kalau ada kamu, aku sama dia udah berakhir, dan sekarang aku sama kamu." Putri mendongak menatap wajahku, seolah memintaku untuk tetap bersamanya. Ia bahkan merangkul lenganku.
"Oh, jadi ini selingkuhanmu?" tanya laki-laki itu sambil menudingku dengan telunjuk kanannya.
"Dia bukan selingkuhanku, aku sama dia baru jadian tadi malam kok. Jangan memutarbalikkan fakta, karena sebenarnya kamu yang udah terbukti selingkuh," tuding Putri dengan air mata yang mulai terbendung di pelupuknya, dan aku bisa melihatnya dengan jelas. Ia pasti sedang menahan kesedihannya saat ini.
"Aku cuma khilaf, Put. Aku sayangnya sama kamu, bukan sama dia. Kasih aku satu kesempatan," mohon laki-laki itu dan berusaha meraih tangan Putri.
"Sorry, Bro. Putri bukan pacar lo lagi, dia pacar gue." Aku mencegah tangan laki-laki itu sebelum menyentuh tangan Putri.
__ADS_1
"Lo jangan ikut campur!" marahnya yang membuatku semakin yakin, dia bukan laki-laki yang baik.
"Gue berhak ikut campur, karena Putri cewek gue." Aku menyembunyikan Putri di balik punggungku.
"Nggak semudah itu. Gue akan cari tahu siapa lo!" tunjuknya, lalu meninggalkanku dan Putri yang sudah menangis.
Aku mengembuskan napas kasar, lalu berbalik menatap Putri.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyaku, refleks aku mengusap air mata yang berhasil lolos dari matanya.
"Nggak apa-apa, kak. Aku cengeng banget ya?" elaknya. Tiba-tiba dia sudah tersenyum ceria, walau terlihat dipaksakan, tapi aku tahu dia sedang tidak baik-baik saja.
"Ya udah mau aku antar pulang sekarang apa besok?"
"Ya sekaranglah, ngapain besok?" Putri tersenyum,
Baru saja kami saling tersenyum, getar ponselku memaksaku, menyudahi senyuman. Aku merogoh saku celana depan dan mengeluarkan benda pipih itu.
MAMA
"Za, kamu udah pulang belum?"
"Ini udah pulang, Ma. Aku mampir bengkel bentar nant."
"Gini, kakak iparmu kan lagi hamil, mama mau kita makan malam bersama, anggap aja syukuran kecil-kecilan gitu loh, Za."
"Oh, ya udah. AKu nggak ke bengkel."
"Mama mau kamu ajak Putri, yang katanya pacar kamu itu."
Perasaanku jadi tidak enak, pasti Mama Papa mau introgasi. Mereka pasti tidak puas karena aku berhasil menghindari mereka tadi malam.
"Zayyan, gimana?"
__ADS_1
"Em, aku tanya Putri dulu, Ma."
"Kalau kamu lagi sama Putri, biar Mama sendiri yang ngomong sama dia."
Tidak bisa menolak permintaan Mama, aku pun menyerahkan ponselku pada Putri. Lalu, mereka mulai bicara. Sepertinya Putri bisa berakting dengan baik, ia bisa menanggapi Mama yang sedikit bawel itu dengan santai.
...****************...
Aku menjemput Putri di apartemen kakaknya, karena ia menyetujui permintaan Mama untuk makan malam bersama.
"Kalian mau makan malam?" tanya Asisten Kaisar yang membukakan pintu saat aku menjemput Putri.
"Iya, Mama yang minta," jawabku.
Asisten Kaisar menyuruhku masuk sambil menunggu Putri yang ternyata masih bersiap-siap. Orang tua Putri juga ada di sana, membuatku canggung karena sebenarnya aku bukan pacar Putri sungguhan.
Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya Putri selesai juga. Ia terlihat cantik sekali, dengan poni dan rambut yang ikal di bagian bawah.
Aku sengaja menjemputnya dengan mobil, karena permintaan Mama, dan sekarang suasana canggung menyelimuti perasaanku. Duduk berdua dengan Putri tiba-tiba ada perasaan aneh yang menghinggapi hatiku.
"Aku udah cantik belum sih?" Putri bermonolog dengan cermin kecilnya. Entah kenapa itu terlihat lucu dan membuatku tersenyum.
Setelah beberapa waktu di jalan, akhirnya kami sampai di rumah peninggalan Kakek yang kini menjadi tempat tinggal Mama Papa dan aku juga.
Pak Rudy yang bekerja sangat lama di rumah ini, menyambut kedatanganku yang kebetulan datang bersamaan dengan mobil Kak Zayn.
"Za, baru datang?" Basa-basinya saat melihatku dan Putri turun dari mobil.
Aku hanya mengangguk dan megulas senyum tipis. Kak Zayn merangkul pinggang Dera dengan mesrah. Terkadang aku merasa Kak Zayn memang sengaja memanas-manasi hatiku. Entah apa tujuannya.
Saat aku masih termenung menyaksikan kemesrahan kakakku sendiri dengan orang yang sedang berusaha aku lupakan, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di lenganku.
"Tenang, ada aku yang akan bantu melengkapi bahagia palsu ini, nanti lama-lama Kakak juga akan melupakannya. Yakin aja," kata Putri dengan percaya diri.
__ADS_1
❤❤❤