
Ungkapan cinta itu nyatanya mampu membuat seluruh tubuhku bergetar. Ciuman hangat yang mengiringi kata-kata manis itu, mampu menghipnotisku dalam sekejap.
Kali ini, ciuman suamiku itu terasa beda. Rasanya lebih lembut dari ciumana paksa yang biasa ia lakukan. Akan tetapi, aku masih malu-malu untuk membalas ciuman itu.
Kak Zayn hanya sebentar menikmati bibirku, ia melepaskan ciumannya dan kembali menatapku.
"Aku tahu kamu masih kesal, tapi aku akan tetap menunggu, sampai kamu siap melayaniku dengan hatimu. Ayo kita tidur!" Kak Zayn memejamkan mata lalu mendekapku.
Apa dia benar-benar mau menunggu dan tidak memaksaku? Lalu dari mana dia tahu kalau aku sudah siap atau belum?
Dalam posisi menghadap ke dadanya, aku benar-benar tidak bisa menghirup udah bebas. Sepertinya, akan lebih nyaman kalau aku berbalik badan. Kemudian, aku pun berbalik supaya tidurku lebih tenang.
"Kamu nggak nyaman ya?" tanya Kak Zayn.
"Aku nggak bisa nafas, gini aja enak," jawabku sambil menarik kembali selimut untuk menutupi tubuh kami.
"Kalau gini udah nyaman?" Kak Zayn merapatkan tubuhnya dan kembali memelukku. Ia juga menggesekkan hidungnya di tengkukku dengan tangannya yang mengusap perutku.
"Udah yuk tidur, udah malem." Aku kembali memejamkan mata walau sedikit pun aku tidak merasakan kantuk.
Bukannya tidur, Kak Zayn malah semakin tidak bisa diam. Tangan yang tadinya hanya bergerak di sekitar perut, kini perlahan naik dan mulai menggenggam benda kenyal yang dulu ia samakan dengan bola pingpong.
"Kamu kalau tidur kenapa nggak pernah pakai bra, Ra?" Tangan Kak Zayn mulai mere*mas aset kembar milikku.
__ADS_1
Dari dulu memang aku tidak pernah memakai bra saat tidur. Mungkin sudah menjadi kebiasaan, karena itulah, setelah menikah pun aku tetap tidak memakai bra saat tidur.
"Aku kan udah bilang kalau aku nggak nyaman," jawabku dengan napas yang mulai tersengal.
"Aku juga nyaman kayak gini, Ra," bisiknya yang membuat bulu kudukku meremang.
"Bukannya, kata Kak Zayn nggak akan tergoda, kan dada aku cuma segede bola pingpong," sinisku.
"Maafin aku dong, Ra. Waktu itu aku bingung harus jawab apa makanya aku bohong. Padahal si Juna suka bangun walaupun cuma lihat dari luar." Kak Zayn terus membuatku gelisah. Sentuhan-sentuhannya, suaranya, semuanya saling bekerja sama untuk membuatku merasakan sensasi aneh.
"Udah yuk tidur, tangannya diem." Aku menggenggam tangan Kak Zayn yang sedari tadi memainkan aset berhargaku.
"Kamu nggak pengen kenalan sama Juna, Ra?" bisik Kak Zayn yang terdengar sangat mesrah.
Bukannya aku menolak karena tidak menginginkan, tapi aku terlalu gugup saat ini.
"Ya udah kamu tidur aja ya, aku pengen main-main sama ini dulu." Kak Zayn melepaskan tangannya dari genggamanku, lalu tiba-tiba ia menarik piyamaku ke atas.
Jantungku semakin berdebar tidak karuan. Untuk pertama kalinya seseorang akan melihat bagian sensitif yang selama ini kujaga dan kurawat. Tidak! Aku belum siap.
"Besok aja Kak, kalau gak sabaran aku tidur di sofa aja deh." Dengan rasa takut dan gugup aku mencoba menghentikan tingkah Kak Zayn. Ternyata ancamanku berhasil, Kak Zayn kembali menurunkan piyamaku.
"Iya iya, besok beneran, ya? Cium dulu dong Ra."
__ADS_1
Aku mencium pipi Kak Zayn, tapi ia menunjuk bibirnya dengan jari. Mau tidak mau dengan malu-malu aku mencium bibirnya. "Udah ayo tidur, besok kita jalan-jalan lagi."
"Tapi pulang jalan-jalan aku mau hadiah ya, Ra. Aku mau menghilangkan status perjakaku."
Kata-kata Kak Zayn membuat pipiku semakin panas, bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu dengan terang-terangan begitu? Apa besok aku benar-benar siap? Ya Tuhan, bagaimana ini?
♥️♥️♥️
...Sabar Bang, sabar. Nanti malam deh, aku usahain ya 😅😅...
Selamat pagi, belum siang jadi nggak kesiangan walaupun telat🤭🤭
Kenapa sih suka telat?
Othor kan manusia biasa, kadang sibuk ini itu di dunia nyata.
Kadang sibuk menghalu di drama 😅😅
Di telegram, instagram, fb, pokoknya ke mana aja yang bikin bahagia, biar mood nulis bagus 🤭🤭
Insya Allah nanti up lagi, tapi nggak janji ya.
Dah lah, jangan lupa ritualnya.
__ADS_1
Sampai ketemu lagi.