Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 90


__ADS_3

Aku dan Kak Zayn tengah menyantap makan siang di area outdoor hotel. Tentu saja bersama Asisten Kaisar.


Cuaca yang tidak panas cendereung mendung ini sangat cocok untuk menikmati makan siang.


"Kamu kenapa Kai?" tanya Kak Zayn setelah selesai makan.


Aku menyeruput es teh manis sambil mengamati bos dan anak buhnya itu.


"Cuaca di sini tidak baik untuk saya, Bos." Asisten Kaisar meletakkan ponselnya di meja.


"Kenapa?" Kak Zayn mengambil tabletnya, dan jarinya sibuk memainkan stylus pen.


"Hawanya dingin Bos, jaket tebal aja nggak cukup buat menghalau dinginnya angin yang bertiup." Asisten Kaisar memeluk tubuhnya sendiri, membuatku ingin sekali menertawakannya.


"Halah gaya banget, bawa selimut! Nggak ada alasan, habis ini kita jalan-jalan sebentar sebelum meeting lagi." Kak Zayn melemparkan bekas sedotan yang dengan sigap ditangkap oleh Asisten Kai.


"Boleh nggak saya di hotel aja Bos. Kan kalau berdua lebih romantis, tanpa ada yang ganggu, Bos," kata Asisten Kaisar sambil memberi kode padaku, ia meminta tolong  lewat gerakan matanya.


"Nggak usah didengerin, Ra. Biar dia tunggu di mobil aja daripada berisik." Kak Zayn terlihat fokus dengan tabletnya, tapi bibirnya masih menyahut, seolah matanya bisa mengawasi gerakan mata Asisten Kaisar.


"Sorry, i can't help you," jawabku lalu menghabiskan minumanku.


Asisten Kaisar menghela napas dan membuangnya dengan kasar.


*

__ADS_1


*


*


Kami bertiga sudah di dalam mobil. Kak Zayn mengajak kami mengunjungi kebun teh milik temannya yang berada di sekitar hotel.


"Ra, yang punya kebun teh itu temenku. Dia bisnisnya perkebunan, ada juga di pulau sebrang sana dia bisnis kelapa sawit." Kak Zayn menceritakan temannya, sambill bersandar di bahuku. Mengusap-usap pahaku yang tertutup celana jeans.


"Oh ya, keren dong ya," jawabku sambil  mengusap kepalanya.


"Nggak ada yang lebih keren dari aku, Ra." Kak Zayn bangun dan menatapku.


"Terus aku harus gimana?"


"Jangan puji cowok lain di depanku, aku nggak suka." Kak Zayn kembali merebahkan kepalanya di pundakku. Tangannya menuntun tanganku kembali megusap kepalanya.


"Tuan Bos itu kalau bicara nggak usah dijawab Nona Bos, nanti malah kemana-mana," kata Asisten Kaisar.


"Diem kamu Kai. Fokus aja sama setir!" perintah Kak Zayn yang kembali mengusap pahaku.


Entah kenapa dia suka sekali melakukannya.


"Tuan Bos takut ya, kalau Nona Bos suka sama Tuan Rey. Tuan Rey kan ganteng."


"Oh ya," sahutku yang membuat Kak Zayn kembali duduk tegap dan menatapku tajam.

__ADS_1


"Nggak boleh ada yang lebih ganteng dari aku di hati dan pikiran kamu." Kak Zayn melepas seatbelt nya, lalu ia menerkam bibirku dengan bibirnya. Dua tangannya diletakkan di samping tubuhku, sehingga posisinya kini di depanku membelakangi Asisten Kaisar yang tengah mengemudi.


Kak Zayn dengan ganas melahap bibirku, sampai kami kehabisan napas dan saling melepaskan ciuman. Lalu, ia kembali menciumku, tidak memperdulikan asistennya yang entah bisa konsentrasii atau tidak.


"Astaga, Tuhan! Kapan aku nikahnya biar bisa ngerasain kayak si Bos."


Suara Asisten Kaisar membuatku mendorong tubuh Kak Zayn. Malu lah berciuman dengan disaksikan orang lain.


Mobil akhirnya berhenti di belakang mobil mewah yang terparkir di bahu jalan. Lalu, kami bertiga turun dari mobil. Seorang laki-laki tersenyum menyambut kami.


"Zayn, long time no see!" kata laki-laki itu lalu bersalaman ala laki-laki dengan Kak Zayn dan Asisten Kaisar.


"Ini ...." Laki-laki itu menujuk ke arahku.


"Bini gue," kata Kak Zayn yang kemudian merangkulku.


"Bukannya dia ...."


♥️♥️♥️


Selamat siang menjelang sore gaess.


Jangan lupa ritualnya.


Vote ... vote ... vote.

__ADS_1


Sampai ketemu lagi.


__ADS_2