
Mual dan muntah semakin terasa saat mencium bau tubuh Kak Zayn. Saat menjauh, rasa mual itu tiba-tiba hilang. Aku buru-buru ke dapur untuk mengambil air minum. Bi Sari yang sedang membersihkan kulkas sampai bengong saat melihatku minum dengan cepat.
"Queen, kamu nggak apa-apa?" tanya Kak Zayn yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangku.
Aroma tubuhnya kembali tercium, memancing rasa mual di perutku yang kembali bergejolak. Sebelum aku mun**h lebih baik aku menjauhinya.
"Stop! Jangan dekat-dekat!" titahku sambil menutup mulut dan hidung.
Kak Zayn diam mematung, pasti ia juga bingung sepertiku, tapi bagaimana lagi, aroma tubuh Kak Zayn benar-benar membuatku mual.
"Kenapa sih, Ra?" Kak Zayn sepertinya mulai kesal.
"Kak Zayn tuh bau, aku mu nyium baunya Kakak." Aku meninggalkan Kak Zayn yang masih berdiri di dapur.
"Aku bau ya, Bi?" Kudengar Kak Zayn bertanya pada Bi Sari, tapi aku tidak peduli dan tetap berlalu meninggalkan dapur.
Akhirnya, aku duduk di dekat gazebo, menjatuhkan kaki ke kolam yang sangat tenang. Sepertinya sambil minum jus alpukat enak juga. Aku meraih ponselku di saku. Lalu, menelepon nomor rumah karena malas kembali ke dapur.
"Mbak, tolong buatkan jus alpukat ya, bwakan ke gazebo dekat kolam!" perintahku setelah seseorang menjawab panggilanku.
"Iya, baik Nyonya," jawabnya. Lalu telepon kumatikan.
Aku mencoba mencari tahu di internet soal mual pada kehamilan yang saat ini aku rasakan. Ternyata, banyak sekali pengalaman ibu-ibu hamil yang memang berbeda-beda.
__ADS_1
Asik berselancar di internet, aku tidak sadar saat seorang asisten rumah tangga membawakan jus alpukat untukku.
"Makasih ya, Mbak," ucapku saat wanita muda yang bekerja denganku itu membawakan jus alpukat.
Ia tersenyum lalu kembali meninggalkanku.
Byur
Suara jatuh di kolam membuatku terkejut. Seseorang berenang ke arahku. Aku sangat yakin orang itu Kak Zayn, meskipun wajahnya belum terlihat. Aku terus mengamatinya sampai wajahnya muncul di permukaan.
"Queen," sapanya sambil mengelap wajahnya.
"Kenapa?"
"Aku udah nggak bau kan kalau gini?"
"Iya, nggak bau lagi,"jawabku.
Kak Zayn mencium perutku, membuat dressku setengah basah karenanya.
"Anak Daddy kenapa nggak mau deket-deket daddy sih?" Kak Zayn mengusap-usap perutku.
"Mungkin dia sama nyebelinnya kayak Kak Zayn," jawabku asal. Kak Zayn mendongak dan menatapku.
__ADS_1
"Emangnya aku nyebelin?"
"Banget."
Kak Zayn melompat dari air dan duduk di sampingku.
"Aku cuma pengen cium kamu aja nggak boleh, gimana kalau kita ber*cinta?" Wajah Kak Zayn terlihat memelas, ia menundukkan kepala dan sukses membuatku merasa bersalah. "Gimana nasib Juna kalau kamu aja mual dekat-dekat aku?" tanyanya.
Tanpa sadar, aku mencium bibirnya dengan lembut. Hingga pada akhirnya, kami berciuman di tepi kolam, dengan kondisi Kak Zayn yang berte*lanjang dada.
Tubuh Kak Zayn yang masih basah terkena air, membuat aroma tubuhnya jadi hilang tersamarkan.
"Kamu mau ber*cinta di sini?" tanya Kak Zayn setelah melepaskan ciuman kami.
"Jangan ngaco deh!" Aku mendorong tubuh Kak Zayn agar menjauh dariku.
"Bos." Suara Asisten Kaisar membuat kami menoleh padanya. Ia berdiri di seberang kami yang duduk di gazebo.
"Ada apa?" tanya Kak Zayn yang kembali masuk ke kolam. Berenang menyeberangi kolam dan menghampiri Asisten Kaisar.
Aku menikmati jus alpukatku. Samar-samar kudengar mereka sedang membicakan pekerjaan.
"Aku meeting bentar ya, Queen," kata Kak Zayn yang sudah keluar dari kolam.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk pelan, dan kembali kepikiran dengan nasib Juna yang sepertinya harus berpuasa cukup lama. Melihat kolam renang, ide gila tiba-tiba muncul di otakku. Di rumah ini ada kolam renang dalam ruangan, apa sebaiknya kami ber*cinta di sana? Atau ber*cinta di kamar mandi saja?
♥️♥️♥️