
ZAYYAN
Kami telah kembali dari liburan singkat di kampung. Karena aku harus bekerja, kami tidak bisa berlama-lama tinggal di kampung.
"Ibu, aku pasti kangen banget sama Ibu, jangan lupa makan Bu, jaga kesehatan." Putri menangis memeluk Ibu, saat kami berpisah di bandara.
"Kamu juga, udah jadi istri, jangan melawan kata suami, layani suami kamu dengan baik, kurang-kurangin manjanya," balas Ibu yang membuat Putri semakin tersedu.
"Bu, kita pamit ya. Kalau ada waktu lagi, nanti kita usahain jenguk Ibu." Aku mencium tangan ibu mertua.
"Iya Nak, tolong jaga Putri ya, ajari dia supaya tidak manja dan nyusahin kamu."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi pesan Ibu.
Sampai akhirnya, kami benar-benar harus berpisah.
*
*
*
__ADS_1
Keesokan harinya, aku dibangunkan oleh Putri karena aku harus ke bengkel. Putri ternyata ingin ikut karena katanya bosan di rumah.
"Kalau ikut janji jangan bawel, apalagi ngerengek minta pulang. Nanti aku udah kenak oli semua, tiba-tiba kamu ngajak pulang."
"Nggak akan, aku janji deh, Kak."
Akhirnya aku setuju mengajak Putri untuk ikut ke ke bengkel. Setelah sarapan, kami bersama-sama pergi dengan Nindy.
Sesampainya di bengkel, aku memarkir Nindy di halaman bengkel. Lalu, aku mengajak Putri untuk melihat bengkel yang menjadi saksi kesuksesan Papa di usia muda.
"Segede gini punya Kakak semua?" tanya Putri yang terhran-heran. Mungkin dalam pemikirannya, bengkel kami tidak sebesar ini.
"punya Papa, aku kan cuma bantuin Papa aja," jawabku.
"Kakak kenapa nggk msuk ke perusahaan aja? Bukannya perusahaan yang dikelola Kak Zayn itu jauh lebih besar dari ini?"
"Kak Zayn lebih ngerti dari kita, sama halnya Kak Zayn yang nggak paham soal bengkel, aku juga nggak begitu paham soal perusahaan. Jadi Kak Zayn itu nggak gampang, harus pinter muter otak. Ngadepin ribuan karyawan, dewan direksi, pasar saham, banyaklah yang diurus, makanya aku ngurus bengkel Papa aja seperti keinginan Papa."
Aku memang tidak ada niatan untuk bergabung dengan perusahaan, meskipun Kak Zayn sendiri yang meminta, karena aku belum siap untuk tanggung jawab sebesar itu. Lagi pula, Kak Zayn lebih layak untuk mendapatkan posisi penting, karena ia dari kecil sudah dididik dan disiapkan untuk perusahaan.
Menjelang siang, bengkel sudah mulai ramai. Beberapa motor sudah mengantre, sementara para montir sibuk dengan motor yang terlbih dulu datang. Aku rasa, aku harus turun tangan supaya pelanggan tidak terlalu lama menunggu.
__ADS_1
Aku menangani motor yang butuh servis ringan seperti ganti oli, ganti ban atau ganti sparepart lain yang tidak memerlukan bongkar mesin.
"Kakak, haus nggak? Ini aku bawain minum." Putri yang tadinya aku suruh menunggu di dalam, malah keluar dengan sebotol teh kemasan.
"Makasih, Put." Aku menerima teh pemberian Puri.
"Belum aku buka soalnya aku nggak kuat bukanya," celetuknya.
Jadi, aku harus membuka segel penutupnya, sementara tanganku penuh dengan oli.
"Kakak, kalau nanti kita punya anak, pasti lucu kalau namanya ada unsur-unsur bengkelnya."
"Maksudnya?"
"Misalnya, Oli-via, Aki-la, Ban-ni, Rem-ka, Busi-ka."
Sontak saja aku tertawa karena nama-nama aneh yang kata Putri terinspirasi dari bengkel.
❤❤❤
Ada usul nggak siapa lagi namanya 😅😅😅 Aku udah doble up loh ini. Komen yang banyak, sampek tembus 100 biar aku semangat buat doble up wkkk
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 😘😘😘