Istri Big Boss

Istri Big Boss
Bab 148


__ADS_3

Erlan hampir menarik paksa tangan Putri, tetapi dengan sigap aku mencegahnya.


"Kalau mau bicara sama aku, Kak Zayyan juga harus ikut. Dia calon suamiku," kata Putri.


Erlan mendelik setelah Putri mengatakan bahwa aku calon suaminya. Laki-laki itu mengepalkan tangan ke udara, matanya menatap tajam pada Putri yang kini merangkul lenganku.


"Kamu denger 'kan Putri bilang apa?" tanyaku pada Erlan yang terlihat marah.


"Kamu kan cuma pacar pura-puranya Putri, sekarang kamu udah jadi calon suami pura-puranya?"


"Terserah mau percaya atau nggak, Putri tetap calon istriku dan aku berhak melarangnya berduaan dengan laki-laki lain terutama kamu."


"Kak, nggak usah diladenin, anterin aku ke toilet." Putri menarik tanganku untuk meninggalkan parkiran.


"Putri, aku akan tetep gangguin kamu, kamu punya hutang penjelasan sama aku."


...****************...


Sepulang kuliah, aku mengajak Putri untuk mampir ke bengkel. Tujuanku, supaya Putri tahu aku memiliki pekerjaan yang jelas meskipun hanya mengelola bengkel milik Papa, dan tidak bergabung dengan perusahaan yang dijalankan Kak Zayn.


Saat melewati jalanan sepi yang lumayang dekat dengan bengkel, tiba-tiba sebuah mobil memotong laju motorku. Untung saja aku masih bisa menarik tuas rem di tangan dan menginjak rem di kaki, sehingga tidak terjadi kecelakaan.


Pengemudi mobil itu turun dan yang mengejutkan ternyata dia adalah Erlan. Entah apa lagi yang dia inginkan.


"Jangan menghindar lagi, ayo kita selesaikan semua kesalahpahaman ini." Erlan berjalan dengan cepat ke arah kami.


Aku dan Putri turun dari motor. Erlan menarik tangan Putri denngan cepat saat aku melepaskan helm di kepalaku.


"Lepasin!" Putri berteriak.

__ADS_1


"Berhenti Erlan!" teriakku sambil berlari mengejar Putri yang dibawa Erlan menuju mobilnya.


"Kak Za."


"Erlan!"


Erlan memaksa Putri masuk ke mobilnya.


"Denger ya, gue cowoknya. Dia cuma salah paham," kata Erlan.


"Dia calon istriku, apa kamu nggak ngerti juga?" Aku berusaha membuka pintu mobil Erlan tapi dia menahannya.


"Jangan bicara omong kosong! Atau gue hajar lo di sini!" ancam Erlan.


"Aku nggak bohong, Putri itu calon istriku, kami akan menikah bulan depan!"


"Banyak ba*cot ya lo!" Satu pukulan Erlan mengenai pipiku.


"Kakak!"


"Kak Erlan berhenti!" Putri berhasil keluar dari mobil dan berdiri di atara aku dan Erlan. "Terserah kamu mau percaya apa nggak, itu urusan kamu! Bulan depan aku dan Kak Zayyan akan menikah, dan kamu orang pertama yang kami undang. Kita udah putus sejak beberapa hari yang lalu. Sejak kamu berada di pelukan wanita lain. Sejak kamu menerima kue pemberian wanita itu! Sejak aku sadar kalau aku hanya orang ketiga. Kita putus sejak hari itu, dan dengan beraninya kamu memukul calon suamiku!" teriak Putri.


"Aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa lagi Put, aku sadar aku lebih nyaman sama kamu daripada sama dia."


"Itu bukan urusan aku. Sekarang aku sudah memilih Kak Zayyan. Berhenti mengganggu kami!"


"Kamu lebih memilih dia daripada aku? Emang kamu tahu apa pekerjaan dia? Kamu akan jadi orang susah kalau hidup sama dia yang cuma kerja di bengkel! Motor itu, palingan juga motor kreditan!" Erlan berteriak menghinaku.


"Memang kenapa kalau kerja di bengkel? Memang kenapa kalau motor kreditan, yang penting kan bukan motor curian," balasku..

__ADS_1


"Cih!" Erlan meludah ke jalanan yang memang cukup sepi ini. "Jangan sampai kamu salah pilih dan berakhir menyedihkan Putri."


"Lebih menyedihkan lagi kalau Putri sama kamu yang nggak setia dan tempramen," sahutku.


"Jaga bicaramu!"


"Zayyan. Putri"


Mama yang berada di dalam mobil Papa sepertinya baru saja lewat. Mama turun dari mobil setelah mobil Papa berhenti, berjalan cepat menuju ke arahku.


"Tante Marisa."


"Kalian sedang apa di sini? Zayyan wajah kamu kenapa?" Mama menyentuh ujung bibirku yang terasa perih.


"Cuma salah paham, Ma."


"Kamu hobi sekali salah paham, Za," sahut Papa.


"Om Elvan." Erlan menunjuk Papa yang berdiri di belakang Mama.


"Kamu anaknya Pak Herlambang." Papa ganti menunjuk Erlan.


"Iya, Om. Kok Om bisa ...."


"Dia papaku," sahutku.


❤❤❤


Hello hello hello. Masih semangat kan nungguin aku? Harus semangat dong.

__ADS_1


Jempolnya diangkat semua, jangan lupa. Yang nggak angkat jempol nggak didatengin Kak Zayn sama Abang Zayyan nanti malam mimpinya. 🤣🤣🤣


Dera sama Kak Zayn nya masih aku tahan gara-gara komen julid 🙈🙈🙈


__ADS_2