
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Garra terduduk melamun didalam ruangan kosong itu. Rintihannya terdengar menyayat hati. Tak ada celah untuknya bisa kabur dan meninggalkan tempat ini. Seperti nya hidup Garra akan berakhir sampai disini.
"Ayah". Lirihnya terdengar sendu "Maafkan aku". Ada penyesalan yang menyelimuti hati Garra.
Sang Ayah sudah memperingati Garra, agar tidak menjadikan Zie sebagai alat balas dendamnya. Namun Garra yang keras kepala selalu berambisi untuk membuat Zie menderita hingga dirinya yang sekarang merasakan pedih luar biasa.
Menyesal adalah bentuk bahwa manusia masih memiliki kesadaran. Begitulah yang dirasakan Garra. Dia menyesal pernah bermain-main dengan hukuman, Grabielle dan Gama tak memberinya ampun sama sekali. Setiap hari dia disiksa dan dipukuli sebagai hukumannya. Rasanya Garra tak sanggup tapi mereka tak juga mau membunuhnya. Seperti nya mati lebih gampang di banding menderita tak ada ujung pangkal nya.
"Zie maafkan aku hiks hiks. Maafkan aku".
Hanya menangis saja yang bisa Garra lakukan. Dia sudah lelah berteriak untuk meminta dilepaskan. Sampai pita suaranya habis pun takkan ada yang bisa membebaskan nya dari tempat menjijikkan ini.
Tak tak tak tak tak tak
Terdengar langkah kaki yang menggema memasuki ruangan tempat Garra di kurung.
Pria itu sama sekali tidak tertarik dengan derap langkah kaki disana. Hal itu percuma pasti hanya orang yang diutus untuk menyiksanya lagi.
Brakkkkkkkkkkk
"Awwwwwwww".
"Ibu". Mata Garra membulat sempurna saat melihat Marissa yang sudah babak belur.
"Garra".
"Ibu".
Garra berhambur kearah wanita paruh baya itu. Walau bagaimana pun Marissa adalah Ibu nya.
"Ibu, apa yang terjadi Bu?". Cecar Garra.
"G-garra". Suara Marissa seolah tak tembus.
Garra menangis histeris memeluk Marissa. Bajunya sudah berlumuran darah, rambut nya seperti kuntilanak. Dibagian tubuh lainnya terdapat luka yang sudah mengering.
__ADS_1
Gama melipat kedua tangannya didada. Dia tertawa puas melihat penderitaan Garra dan Marissa. Untung saja Grabielle memiliki banyak jaringan hingga bisa menemukan dimana Marissa. Hanya John dan Shiena saja lagi yang menjadi target nya.
"Gama apa yang kau lakukan pada Ibu ku?". Pekik Garra.
"Melakukan hal yang dia lakukan pada Bibi Allena". Sahutnya santai.
Grabielle masuk bersama Kenino. Grabielle harus mengarang drama paling spektakuler untuk mengelabui Zie agar tidak curiga bahwa dia sedang menyiksa Marissa dan Garra.
"Bagaimana Gama?". Tanya Grabielle menghampiri Gama dan Mark
"Seperti yang kau lihat Bielle". Gama tersenyum licik.
"Ehem, sebenarnya aku belum puas melihat mereka menderita. Aku ingin memotong jari-jari nya tapi sayang, istriku yang baik hati itu pasti akan marah nanti". Sahut Grabielle menatap Garra dan Marissa dengan jijik.
"Tolong lepaskan aku Grabielle. Lepaskan aku". Teriak Garra.
"Tidak segampang itu Garra. Kau lupa, kau hampir menyakiti istriku. Untung saja dia cerdas, jadi bisa mengelabui mu. Kalau sampai dia terluka, mungkin kau bisa rasakan kematian sebelum waktunya". Ucapnya lagi. Grabielle takkan memaafkan siapa pun yang berani menyakiti istrinya.
Marissa hanya bisa menangis, menahan segala sakit didalam tubuhnya. Pukulan demi pukulan dia terima hingga tubuhnya terasa sakit luar biasa.
Grabielle berjongkok, dia mencengkram dengan kuat dagu Marissa. Tatapannya penuh amarah dan kebencian.
"Katakan padaku, jika kau juga terlibat dalam pembunuhan Ibu mertua ku". Ujarnya.
Marissa berusaha memberontak. Cengkraman Grabielle didagunya membuatnya meringgis kesakitan.
"Katakan ******". Bentak Grabielle.
"Kau adalah salah penyebab penderitaan istriku. Jadi takkan kubiarkan kau hidup dengan tenang". Ancam nya sambil berteriak ditelinga Marissa.
Marissa tak bisa berbuat apa-apa, seolah seluruh tubuhnya membeku saking ketakutannya.
Gama ikut berjongkok menatap Marissa yang sudah sekarat. Jika berhubungan dengan Zie, maka dia tidak akan tinggal diam. Dia akan turun tangan untuk membela adiknya itu.
"Kau pikir kami tidak tahu siapa kau, hah?". Bentak Gama juga "Cepat katakan siapa-siapa saja yang terlibat didalam pembunuhan Bibi Allena, cepat katakan". Desaknya.
Garra tidak terima melihat Ibu nya yang dibentak oleh Grabielle dan Gama. Tapi dia tidak juga bisa melawan. Tangannya dipegang dengan kuat oleh Kenino dan Mark.
__ADS_1
Marissa menangis segugukan. Bukan hanya sakit ditubuhnya tapi juga hatinya. Dia merasa bersalah dan juga menyesal karena telah membunuh Allena. Sekarang dia menemukan karma nya sendiri. Hanya menunggu kematian yang menjemput nya saja.
"Cepat katakan". Teriak Gama.
"Ma-maaf". Ucap Marissa tertatih, pita suaranya seolah hilang begitu saja
"Aku tidak butuh kata maaf. Yang aku butuhkan jawaban mu, brengsekkkk".
Plakkkkkkkkkkkk
Satu tamparan mendarat dipipi mulus Marissa. Gama sudah emosi. Dia tidak peduli. Padahal dia tidak bisa menyakiti wanita. Tapi wanita itu jahat. Wanita ini penyebab penderitaan adiknya.
"Gama, Ibu mu juga terlibat". Teriak Marissa sambil memegang pipinya kesakitan dengan tangis yang hebat.
"Ibu ku terlibat maksud mu?". Tanya Gama tidak mengerti.
"Iya Ibu mu terlibat. Dia juga ikut dalam rencana pembunuhan Allena". Jawab Marissa jujur. Karena memang bukan dia sendiri yang merencanakan pembunuhan itu. Ada banyak orang terlibat didalam nya.
Gama terdiam ditempat. Dia tidak menyangka jika Ibu nya juga jahat. Dia memang tidak pernah lagi bertemu dengan Ibu nya itu sejak berpisah dari sang Ayah.
Ibu nya menikah lagi dan tinggal bersama suami barunya. Yang Gama tahu Ayah nya lah yang menghianati pernikahan mereka tapi ternyata Ibu nya pun terlibat disana. Bagaimana Gama menjadi anak dari para pembunuh seperti Ibu nya.
Grabielle juga tak menyangka tapi mau bagaimana lagi masa lalu istrinya terlalu rumit banyak orang jahat disana.
"Kau baik-baik saja?". Grabielle menepuk pundak Kakak iparnya itu
Gama mengangguk lemah. Sekarang dia dilema. Sejahat nya dia, dia tidak mungkin menghukum Ibu nya sendiri. Tapi jika memang bersalah maka hukum akan tetap berlaku.
"Ken, Mark. Kurung mereka, jangan biarkan celah untuk kabur. Jangan beri makan dan minum. Biarkan mereka mati perlahan". Tintah Grabielle
"Baik Tuan". Sahut Kenino dan Mark.
"Gama, ayo pulang".
Grabielle segera membawa Gama pulang. Gama memiliki tingkat emosi yang tinggi. Grabielle hanya takut jika Gama memberontak dan langsung membunuh Garra dan Marissa. Bisa berabes Grabielle menjelaskan pada istrinya.
Sebenarnya Zie sudah memerintahkan agar membebaskan Garra. Namun Grabielle dan Gama tidak mau. Mereka berdua takut jika Garra melakukan sesuatu yang jahat lagi nanti pada Zie.
__ADS_1
Gama terdiam. Tatapannya kosong. Hatinya dilema dan patah. Dia selalu beranggapan bahwa Ibu nya adalah wanita baik tapi kenapa tega membunuh orang lain? Apa Ibu nya tahu kalau Allena mengandung anak dari suaminya? Tapi tidak harus membunuh bukan? Kenapa tega sekali membunuh dengan kejam seperti itu? Bukankah masalah bisa diselesaikan secara baik-baik?
Bersambung........