Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Masakkan Indonesia


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Graziella menatap kagum dapur merah Grabielle. Sangat besar. Mewah. Dapur saja desainnya seperti ruang tamu. Seberapa kaya pria ini.


"Silahkan Nona. Didalam kulkas semua bahan masakkan sudah siap". Ucap Kenino


"Iya Kak". Senyum Graziella. Dia memang hobby memasak.


"Kalau begitu saya permisi Nona. Jika butuh apa-apa anda bisa memanggil saya". Ujar Kenino memberi hormat.


"Baik Kak".


Graziella mengambil membuka kulkas. Dia berjingkrak girang saat melihat semua bahan masakkan ada disana.


Senyumnya memudar "Kenapa banyak roti?". Protes gadis itu "Mentang-mentang bule". Dia menggeleng "Aku mana tahu makanan luar negeri. Sudahlah aku masak masakan Indonesia saja. Jika dia marah, jawab saja ini Indonesia bukan di Amerika".


Graziella berkutat dengan alat-alat dapur. Dia tampak ahli memotong sayuran daging itu. Gadis itu memang ahli memasak.


Sejak kecil dia sudah terbiasa hidup keras. Ayahnya yang membencinya itu selalu memperlakukan nya dengan kasar. Tidak menganggapnya ada dan selalu mengatakan jika dia anak pembawa sial yang menyebabkan Ibu nya meninggal. Padahal tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan didunia ini tanpa keinginan kedua orang tuanya.


Graziella menyeka air matanya. Dia hanya berusaha kuat. Tapi dia bukanlah gadis yang kuat. Dia rapuh. Orangtua yang dia miliki satu-satunya selalu menganggapnya debu.


"Ayah". Gumamnya. Sambil memotong sayut gadis itu menangis "Walau kau jahat padaku. Tapi aku menyanyangimu Ayah. Kau cinta pertama ku". Gadis itu terisak sendiri sambil memasak.


"Kak Garra. Aku rindu Kakak. Pasti Kakak mencariku sekarang. Aku akan menemuimu Kak". Ujarnya


Dibalik wajah ceria dan berisik nya. Graziella adalah gadis yang tumbuh tanpa kasih sayang Orangtuanya. Semua orang pasti menganggapnya gadis yang manja dan kaya akan kasih sayang kedua orang tuanya. Nyatanya tidaklah begitu. Dia selalu menutupi kepedihan nya lewat senyuman yang dia tebarkan.


Cukup lama gadis itu berkutat didapur. Hingga makanan yang dia masak sudah siap disajikan. Graziella menata makanan itu keatas meja dengan rapih. Meja nya saja mewah, benar-benar kaya pikir gadis itu.


"Awwwwwwww". Tidak sengaja sup itu menyumpahi tangannya "Panas-panas". Gadis itu meletakkan mangkuk nya. Dia menuju wastafel dan mencuci tangannya "Kak Garra hiksss". Dia menangis lagi, teringat kalau dirinya luka pasti Kakak nya itu yang akan mengobatinya.


Graziella mencuci tangannya. Terlihat tangannya melepuh dan merah. Sup itu masih panas dan baru diangkat dari wajan, pastilah akan membakar kulitnya.


Graziella kembali melanjutkan pekerjaannya takut nanti sang Tuan rumah datang dan malah marah-marah lagi.


"Kak Nino, makanan sudah siap". Graziella menekan tombol intercom yang terletak diatas meja makan. Meski Kenino tidak menjelaskan fungsi benda itu, tapi otaknya yang cerdas cepat memahami


"Baik Nona". Sahut Kenino diseberang sana.


Tidak lama kemudian. Grabielle dan Kenino datang menuju meja makan.


"Silahkan Tuan". Kenino menarik kursi dan mempersilahkan pria itu duduk


"Silahkan dinikmati Tuan". Ujar Graziella. Pekerjaan nya mewah tapi pekerjaan nya pembantu.


Mata Grabielle membulat sempurna ketika melihat menu makanan itu. Sumpah selama dia hidup dia baru kali ini melihat makanan didepannya.


"Makanan apa ini?". Dia menatap Grabielle tajam

__ADS_1


"Kalau yang ini rendang Ayam Tuan". Graziella menujukkan mangkuk pertama "Ini sup buntut tulang sapi. Ini cah cangkuk. Ini sambal terasi dan tomat dan ini lalapan mentimun Tuan. Silahkan dinikmati dan jangan malu-malu". Ucap gadis itu santai.


"Kau_".


"Jangan protes Tuan. Disini Indonesia bukan Amerika. Jadi anda harus menyesuaikan makanan disini". Potong Graziella. Padahal hanya alasannya, dia tidak bisa masak masakkan luar negeri.


"Aku tidak mau". Tolak Grabielle membanting sendoknya "Kau harus masak masakkan khas Amerika. Ini tidak akan masuk kedalam mulutku". Ucap pria itu sombong.


Kenino hanya menyaksikan saja. Dia sudah biasa dengan makanan didepannya. Bahkan makanan ini termasuk makanan yang terlezat di Indonesia yang sering dimasak dan dimakan setiap hari.


"Ya sudah kalau tidak mau". Jawab Graziella singkat "Kalau anda lapar jangan salahkan saya Tuan. Saya tidak bisa masak makanan aneh kesukaan anda itu". Tandas Graziella.


Nafas Grabielle masih memburu. Namun perut nya begitu lapar sekali. Dia hanya makan sebelum berangkat ke Indonesia dan sampai malam dia tidak makan lagi. Tentu saja dia lapar.


Akhirnya Grabielle mengalah. Dia mengambil sedikit sekali nasi, lalu menyiram nasi nya dengan sup buntut buatan Graziella karena hanya makanan itu yang terlihat menarik di mata Grabielle.


Perlahan Grabielle mengangkat sendoknya. Sedikit ragu. Ada rasa takut. Bagaimana kalau makanan ini membuat nya sakit perut? Tapi perutnya lapar. Kalau harus menyuruh Kenino membeli makanan pasti lama.


Grabielle tercenggang merasakan makanan itu ketika mengenai lidahnya. Pas


"Enak". Batinnya mengunyah makanan itu "Apa nama makanan ini? Terlihat aneh tapi pas di lidah". Batinnya lagi.


"Kak Nino. Biar aku ambilkan Kak". Graziella mengulurkan tangannya mengambil piring Kenino


"Nona kenapa dengan tangan anda?". Tangan Graziella memerah


"Biasalah kecelakaan kerja". Sahut gadis itu santai "Kakak mau yang mana? Mau coba semuanya?". Tawar Graziella.


Grabielle melirik tangan Graziella dan benar saja tangan gadis itu merah dan melepuh entah terkena apa?


Grabielle mendengus kesal. Graziella begitu perhatian pada Kenino diambilkan makanan segala. Sementara dirinya tak diperhatikan Graziella. Keterlaluan sekali gadis itu.


"Terima kasih Nona". Senyum Kenino hangat.


Entah kenapa Grabielle tidak. Seperti tidak rela jika Graziella lebih perhatian pada Kenino.


Graziella tersenyum jahil melihat Grabielle yang makan dengan lahap. Pria bule itu baru tahu saja jika Indonesia memiliki banyak makanan khas yang enak-enak.


"Tambah lagi Tuan. Jangang malu-malu". Celetuk gadis itu.


Grabielle tak merespon. Dia masih makan dengan lahap bahkan pria itu beberapa kali menambah.


Rasanya Graziella ingin tertawa melihat Grabielle. Kemana kesombongan pria itu? Tadi takut sakit perut. Tidak biasa dengan makanan Indonesia. Kenapa sekarang malah makannya seperti orang sesat saja?


"Anda tidak makan Nona?". Tanya Kenino


"Nanti saja Kak. Dibelakang". Sahut Graziella masih berdiri seperti manekin yang dipajang.


Grabielle menatap gadis itu "Kenapa?". Pria itu merasa aneh. Kenapa harus makan dibelakang?

__ADS_1


"Tuan ini bagaimana sih, saya ini pelayan dan pembantu anda Tuan. Mana ada pembantu dan majikan makan satu meja. Kalau pun ada, kecuali majikannya jatuh cinta sama pembantunya".


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk


"Minum Tuan". Graziella menyedorkan gelas berisi air "Maaf Tuan saya kalau bicara suka benar". Graziella hanya cekikikan sendiri.


Grabielle meminum air itu hingga tandas dan meletakkan gelasnya dengan kasar. Dia kembali menatap gadis itu dengan tajam


"Habiskan makanan itu. Awas kalau dibuang, akan ku jadikan kau santapan si San". Ancam Grabielle melengang meninggalkan meja makan


"Terima kasih Tuan sudah perhatian". Ucap Graziella setengah berteriak


Namun Grabielle terus berjalan dengan wajah kesalnya. Entah kenapa ucapan gadis itu seperti mengena dihatinya.


"Lanjut makan saja Kak". Ucap Graziella pada Kenino yang memang masih makan "Kakak seperti nya sudah biasa dengan makanan Indonesia?". Graziella duduk dibekas kursi Grabielle.


"Ayah saya orang Indonesia Nona. Ibu orang Amerika. Saya sudah biasa makan masakan Ayah yang seperti ini". Sahut Kenino


Graziella beroh ria saja. Dia menemani Kenino makan sambil bercerita-cerita. Kenino pria yang humble dan juga ramah. Mudah akrab dan lemah lembut sama seperti Ayahnya.


Setelah makan, Kenino membantu Graziella membereskan bekas makanan mereka. Sambil sesekali diselingi tawa ditengah obrolan mereka.


.


.


.


.


"Ken keruanganku".


"Baik Tuan".


Tidak lama Kenino datang dan masuk kedalam ruang kerja Grabielle. Besok mereka sudah masuk kantor seperti biasa. Jadi malam ini, Grabielle sudah menyiapkan segala keperluan kerjanya.


"Ada apa Tuan?". Tanya Kenino berdiri sambil membungkuk hormat


"Berikan pada gadis itu. Obati luka nya".


Grabielle melempar kotak P3K yang sudah lengkap dengan obat-obat luka pada Kenino. Kenino dengan sigap menyambutnya.


"Baik Tuan". Sudut bibir Kenino tertarik ternyata Grabielle diam-diam Tuan-nya itu perhatian juga


"Kalau parah, panggil kan Dokter". Grabielle berucap tanpa melihat Kenino. Dia tampak sibuk dengan berkas ditangannya


"Baik Tuan. Saya permisi". Kenino melengang pergi dari ruangan Grabielle.


Grabielle menghela nafas dan menutup berkas ditangannya.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi panik melihat luka ditangan gadis itu?". Grabielle mengusap wajahnya "Tidak. Tidak. Ini tidak benar. Aku tidak boleh terpesona. Apalagi gadis itu dalam buronan bisa-bisa dia melibatkan ku nanti". Grabielle berusaha menepis perasaannya.


Bersambung....


__ADS_2