Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Berangkat bersama


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Zie baru keluar dari Apartement. Tak lupa gadis itu mengunci pintu Apartement. Takut jika nanti tidak dikunci orang akan membobol isi Apartement Tuan-nya. Bisa-bisa dia dijadikan santan San. Meski tidak Zie tidak tahu San itu siapa?


"Kenapa lama sekali?". Ketus Grabielle menatap gadis itu tajam


"Sabar Tuan. Jangan marah-marah. Pagi itu harus diawali dengan senyuman". Sahut gadis itu santai sambil memasang sealbeat dan duduk disamping Kenino.


"Kak Nino, ini bekal untukmu. Makan yaaa?". Zie memberikan satu rantang nasi yang dia bawa tadi.


"Wahhh terima kasih Nona". Kenino menyambutnya dengan senyuman.


Grabielle yang duduk dibelakang tampak tak sabar. Siapa tahu Zie juga membawakan bekal untuknya. Namun hampir sampai digedung pencakar langit, gadis itu tak juga memberikan bekal untuknya.


Grabielle kesal setengah mati. Sudah berharap, ehh malah Zie sama sekali tak melirik nya. Gadis itu juga memilih duduk didepan bersama Kenino dari pada duduk disampingnya.


Grabielle berpikir, apa pesona nya sudah turun? Semua wanita berlomba-lomba hanya untuk sekedar duduk disampingnya atau satu mobil dengan nya. Tapi berbeda dengan Zie yang malah tak mau sama sekali melihat.


"Lihat saja nanti pembalasan ku, kau akan kubuat bertekuk lutut dihadapan ku". Batin pria itu melipat kedua tangan didada sambil dsbhan wajah kesalnya.


Kenino melirik Grabielle melalui kaca mobil. Asisten itu geleng-geleng kepala saja. Saat melihat Tuan-nya yang tampak kesal. Dia tahu jika pria itu tengah kesal karena tidak diberikan bekal oleh Zie.


Sedangkan Zie sibuk dengan ponselnya sambil tertawa seperti orang gila. Dia tengah bertukar pesan bersama Adam dan Hana.


Sampai digedung pencakar langit. Ketiga orang itu langsung turun. Grabielle semakin kesal menatap bekal Zie dan Kenino yang sama.


"Benar-benar gadis tidak punya perasaan. Aku yang Tuan dan calon suaminya. Kenapa Ken yang diberikan bekal?". Batinnya lagi


Mereka berjalan masuk. Para karyawan sudah berbaris rapih menyambut mereka.


Kenino dan Zie mengekor dari belakang mengikuti langkah lebar Grabielle.


Yang disapa Grabielle tapi yang menyahut Zie. Anggap saja perawakilan, pikir gadis itu.


Mereka masuk kedalam lift. Wajah Grabielle masih sama. Datar dan kesal. Apalagi Zie dan Kenino terus saja berbicara, seolah dunia milik mereka berdua.


"Kak, jam makan siang aku izin ya Kak?". Ucap Zie menatap Kenino.


"Mau izin kemana Nona?". Tanya Kenino sedikit penasaran. Karena menurut info yang dia dapatkan bahwa Zie ini masih dianggap buronan.


Zie menghela nafas panjang "Bertemu Kakak ku, Kak". Sahut Zie "Aku ingin izin menikah padanya". Nadanya terdengar berat

__ADS_1


"Harusnya kau izin padaku bukan pada Ken". Sambung Grabielle.


Zie menghela nafas "Iya Tuan. Saya tidak ingat". Gadis itu menampilkan rentetan giginya supaya Grabielle tidak marah "Saya izin ya Tuan. Ya yaa?". Ucap gadis itu menatap Grabielle dengan senyum jahil


Grabielle memalingkan wajahnya takut terpesona dengan gadis didepannya ini.


"Aku dan Ken akan ikut".


Kenino yang mendengar tak percaya. Ikut? Apa urusannya? Bukankah Grabielle ada meeting setelah jam makan siang dan harus menyiapkan materi meetingnya.


"Kenapa kau harus ikut Tuan?". Protes Zie. Sudah cukup dirumah dan dikantor bertemu pria menyebalkan itu. Masa kemana-mana harus dengan pria itu juga?


"Tentu saja. Aku calon suamimu". Tegas Grabielle.


Zie mencebik kesal "Itu kan hanya pura-pura Tuan". Ketus gadis itu "Atau kau sudah mulai jatuh cinta padaku?". Gadis itu menengadah kan kepala nya sambil maju mendekati Grabielle.


"Jangan mimpi". Grabielle mendorong kening Zie dengan jari telunjuk nya. Gadis ini sangat pendek


"Ck, Tuan sakit". Renggeknya sambil mengelus keningnya.


"Makanya jangan terlalu percaya diri jadi orang". Grabielle menyembunyikan senyum nya.


"Cih siapa juga yang percaya diri". Singgung Zie


"Jangan salah Tuan. Walau aku kecil, aku bisa memuaskan mu". Zie tersenyum devil mendekati pria itu.


Grabielle salah tingkah "Jauh-jauh". Dia mengibaskan tangannya agar gadis itu menjauh. Ini lagi jantungnya tidak bisa diajak kerja sama.


Kenino kembali menghela nafas panjang sekali. Tidak cukupkah keduanya bertengkar dirumah saja? Dan jangan dikantor, nanti kalau ada yang melihat bagaimana? Bisa turun reputasi Grabielle sebagai CEO perusahaan ternama didunia.


Pintu lift terbuka. Grabielle dan Zie saling membuang muka.


Zie ingin rasanya mencakar wajah Grabielle. Bagaimana bisa pria itu ikut dengannya menemui Garra. Ada banyak hal yang ingin Zie ceritakan pada Garra. Kalau Grabielle ikut, nanti suasananya bisa jadi canggung.


Grabielle masuk kedalam ruangan nya. Sementara Zie dan Kenino kembali ke meja mereka masing-masing.


Zie meletakkan bekalnya diatas meja. Bukan dia tidak mau membuatkan bekal untuk Grabielle. Hanya saja pria itu pasti menolaknya, apalagi dia bule pasti jarang melihat orang bawa bekal saat bekerja.


.


.

__ADS_1


.


.


Seorang pria tengah menyesap rokok yang terselip disela-sela jarinya. Kakinya dinaikkan keatas meja.


Dimejanya tertulis, Presdir Mahardika Group. Dia begitu tampan, apalagi ketika asap rokok itu dia hembuskan keatas hingga membentuk gumpalan membuat kesan tampan.


"Bagaimana apa kau sudah menemukan dimana gadis itu?". Tanyanya "Apa John juga sudah mencicil hutang nya?". Tanyanya pada sang asisten


"Belum Tuan. Tidak ada jejak dimana keberadaan Nona Zie. Menurut keterangan pengawal Tuan John, Nona Zie ditebus oleh pria bule". Sahut Mark "Tuan John, belum mencicil sama sekali Tuan. Harga sahamnya juga menurun". Imbuh Mark lagi


Pria itu menurunkan kakinya. Dia menekan rokoknya kedalam asbak. Tatapannya tajam. Tangannya terkepal kuat.


Zie adalah gadis yang dia incar selama ini. Gadis itu membuatnya gila karena selalu menolak dirinya.


"Siapa pria bule itu?". Tanyanya tangannya terkepal kuat.


"Tuan Grabielle Ranlet Flint Tuan. Penerus Wilmar Group. Dia baru datang dari Amerika dan menetap disini. Dia salah satu cucu dari Samuel Ranlet Flint, pemilik perusahaan IT terbesar didunia". Jelas Mark.


Pria itu tersenyum licik "Pantas saja dia bisa menebus gadisku dengan lima Blackcard. Tidak hanya kaya. Dia orang berpengaruh. Ini akan menjadi permainan bagus Mark". Dia tersenyum devil "Buat kerjasama dengan perusahaan itu. Pastikan kita lolos. Aku ingin merebut gadis itu kembali. Gadis itu milik ku. Siapkan satu triliun untuk menebusnya, aku akan mengambil nya kembali". Tintahnya pada Mark


"Baik Tuan".


Gama Mahardika, 33 tahun. Seorang pengusaha yang bergerak dibidang Furniture, perkapalan dan pariwisata. Pria licik yang selalu memenuhi keinginan nya dengan sejuta ambisi. Dia sengaja mengikat John, Ayah Zie. Dengan hutang agar menjadikan Zie sebagai penebus hutang.


Dia sudah lama sekali menginginkan gadis unik itu. Dia jatuh cinta pada Zie saat tidak sengaja melihat gadis itu dikampus ketika dirinya menjadi dosen tamu dikelas Zie.


Gadis itu menarik. Lucu dan juga menggenaskan. Apalagi Zie mahasiswi termuda membuatnya penasaran dengan kehidupan gadis itu. Dia berusaha mendekati Zie, namun gadis itu malah acuh dan seperti tidak menganggap kehadiran nya.


"Bagaimana dengan Garra?". Tanyanya


"Tuan Garra sudah pindah tinggal di Apartement". Sahut Mark.


"Apa dugaan ku benar Mark?". Dia menatap sang asisten


"Iya Tuan, benar. Tuan Garra mencintai Nona Zie. Dia yang membantu Nona Zie kabur dihari pernikahan kalian. Dia juga sengaja tidak memberitahu Nona Zie, bahwa anda adalah calon suaminya". Jelas Mark


"Brengsekkkk". Gama memukul mejanya dengan kuat "Berarti Zie sama sekali tidak tahu jika aku calon suaminya?". Nafasnya memburu menahan amarah


"Benar Tuan. Sampai sekarang Nona Zie juga tidak tahu jika anda adalah calon suaminya". Ujar Mark lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2