Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Merenung dan termenung


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Bintang tampak terang menderang bertaburan dilangit malam. Cahaya nya memantulkan keindahan seolah membuktikan bahwa dia benda ajaib yang tak tertandingi.


"Ihhhhhhh". Gadis itu seloyoran diatas kasur king size. miliknya "Masa besok sudah jadi istri orang?". Renggeknya "Tuan Teh Celup hiks hiks". Dia menyeka air mata nya yang tidak jatuh sama sekali "Nasib jelek segini amat. Menikah dengan pria bekas wanita lain. Sudah puas desah-*******. Lah aku yang begituan saja tidak mengerti". Gumamnya lemes.


"Ya Tuhan yang baik. Tabahkanlah hati hambaMu yang cantik sejagat raya ini. Besok adalah hari pernikahan hamba dengan pria bekas itu. Jika memang kami berjodoh biarlah pernikahan ini boleh berjalan lancar. Jika tidak berjodoh, semoga nanti dapat pria yang masih tersegel, amin".


Zie menatap kotak beludru diatas nakasnya. Grabielle membeli lima pasang cincin dan menyuruh gadis itu memilih nya untuk pernikahan mereka besok.


Zie benar-benar bingung. Mau pilih yang mana? Semuanya bagus dan menarik hati. Tentu saja bagus, harganya juga ratusan juta.


Zie mengambil kotak itu lalu membuka nya


"Atau aku pakai semuanya saja yaa?". Dia terkekeh pelan "Aku tidak sanggup membayangkan ketika memasang kelima cincin ini. Jangan-jangan acaranya tidak dilanjutkan karena sibuk memasang cincin sebanyak ini". Dia geleng-geleng kepala sambil tersenyum seperti orang gila.


Zie mengambil dua pasang cincin yang terlihat menarik dengan ukiran berbeda dari yang lainnya.


"Ini cantik". Dia memasang satu cincin itu dijari manisnya "Wahh pas. Jangan-jangan si Tuan Teh Celup diam-diam memesan cincin ini untukku? Romantis juga. Walaupun sudah bekas". Dia cekikikan tingkat percaya dirinya mulai kambuh lagi.


"Aku pilih ini saja dehh. Cantik". Dia menatap jarinya dengan senyuman mengembang.


Zie kembali menghela nafas panjang. Ini pernikahan kedua kalinya. Niat hati kabur karena tidak mau menikah ehh malah terjebak dalam pernikahan tidak saling cinta.


Mungkin jika menikah dengan orang yang dia cintai, dia akan bahagia. Tapi nyatanya Zie merasa hampa. Sudah membayangkan akan hidup bersama pria yang usia nya jauh lebih tua, suka mengatur yang aneh-aneh, hobby nya marah dan jangan lupakan setiap hari pekan Grabielle selalu menghabiskan waktunya dengan para wanita bayaran untuk menghangatkan ranjangnya.


"Sudahlah". Dia menyimpan kembali cincin itu.


"Sebaiknya aku cicil skripsi saja".


Gadis itu mengambil laptopnya dan kembali melanjutkan skripsi nya. Meski dia masih cukup lama untuk magang tapi dia sudah menyiapkan semuanya agar nanti ketika waktu nya tiba. Dia tidak perlu repot-repot lagi.


Tok tok tok tok


"Siapa?". Gumamnya.


Gadis itu turun dari ranjang dan tak lupa memasang alas kakinya.

__ADS_1


"Tuan Grab". Kening Zie berkerut melihat Grabielle berada didepan pintunya dengan tangan terlipat didada "Ada apa Tuan?". Zie sebenarnya malas bertemu pria itu tapi bagaimana lagi mereka akan selalu sering bersama karena sebentar lagi mereka akan menjadi suami istri.


"Buatkan aku makanan. Aku lapar". Ketus Grabielle.


Zie menghela nafas panjang "Kan tadi sudah makan Tuan? Kau itu rakus sekali". Sindir Zie.


"Suka-suka ku. Ini rumahku". Ketus Grabielle juga.


"Yang bilang rumah saya siapa Tuan?". Zie memincingkan matanya menatap jenggah ptia itu.


"Sudah jangan banyak protes. Ayo buatkan aku makanan".


Grabielle menarik tangan gadis itu dengan tak sabar. Padahal dia tidak lapar. Dia hanya ingin bertemu Zie. Matanya tidak bisa tidur memikirkan pernikahan mereka besok. Tidak tahu kenapa, saat melihat Zie Grabielle bisa menenangkan hatinya?


"Ihh Tuan, jangan tarik-tarik. Tangan saya bukan karet". Gerutu Zie berusaha melepaskan tangan Grabielle tapi pria itu malah mencengkram nya dengan kuat.


"Jangan mengomel. Aku sudah lapar".


Grabielle menarik Zie ke dapur. Wajah pria itu sedikit berbeda. Namun Zie saja yang tidak menyadari nya.


"Iya.. Iya". Zie menghentak-hentakkan kaki nya kesal.


Zie membuka kulkas. Gadis itu menghela nafas panjang, stok makanan dikulkas sudah habis. Dia lupa mengatakannya pada Kenino. Biasanya jika stok makanan sedikit dia selalu lapor agar Kenino segera belanja.


Zie tersenyum ketika melihat ada beberapa bungkus mie instan yang memang khusus untuknya. Dia suka sekali makan mie instan.


"Tidak ada rotan akar pun jadilah". Dia tersenyum licik.


"Tuan makan ini saja yaaa. Bahan makanan sudah kosong semua". Lapornya.


"Apa itu?". Grabielle menatap bungkus mie yang dipegang oleh Zie.


"Cacing kepanasan Tuan". Jawab Zie asal.


"Ck, kau mau membunuhku dengan memberikan cacing itu padaku?". Tuduh Grabielle.


"Jangan berpikir sembarangan Tuan. Jika anda mati duluan, yang untung saya tapi yang rugi anda karena tidak jadi malam pertama". Gadis itu tertawa seperti orang gila.

__ADS_1


"Kau....". Grabielle memalingkan wajahnya yang sudah merona. Gairahnya sampai tak tersalurkan gara-gara teringat pada panggilan Zie yang memanggilnya Tuan Teh Celup.


Zie merebus dua bungkus mie instan. Satu untuknya dan satu untuk Grabielle. Meski dia asam lambung dan dilarang makan mie, tapi dia tidak bisa menolak karena perutnya selalu lapar jika berdebat dengan Grabielle.


"Silahkan dinikmati Tuan". Zie meletakkan satu mangkuk mie yang asam nya masih mengempul itu.


Grabielle menatap aneh mie itu. Seumur hidup dia tidak pernah makan mie. Karena Luna selalu menegaskan agar tidak makan, makanan instan itu.


"Ck, ini makanan berbahaya. Kalau aku sakit bagaimana? Kau mau bertanggung jawab?". Protes Grabielle.


"Itu saja pusing Tuan. Kalau sakit ya dibawa ke rumah sakit, masa mau dibawa ke bengkel". Celetuk Zie sambil menyeruput air mie kaldu nya yang terasa mengunggah selera itu


Grabielle mendelik apa lagi mendengar suara Zie yang melahap mie itu seperti orang sesat.


Grabielle hanya melihat saja. Dia memang tidak lapar. Dia hanya ingin bertemu Zie. Dia begitu gelisah sampai tak bisa tidur. Memikirkan hari esok. Hari pernikahan mereka berdua. Calon pengantin lain biasanya dipinggit dan tidak boleh bertemu dalam beberapa hari sampai hari H. Tapi semenit saja tidak melihat gadis aneh itu dia merasakan kacau.


"Kenapa tidak dimakan Tuan?". Zie heran menatap Grabielle yang malah diam


"Aku tidak mau sakit perut. Makanan ini tidak sehat". Ucap Grabielle beralasan.


Zie hanya mendelik kearah Grabielle.


"Ya sudah kalau anda tidak mau buat saya saja yaaa?". Zie mengambil mangkuk Grabielle dan melahap mie didalamnya.


"Sebenarnya yang lapar aku atau kau?". Grabielle menggeleng saja.


"Anda Tuan. Tapi karena saya separuh dari jiwa anda, makanya saya lapar juga".


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk


Grabielle tersendak ludahnya sendiri. Entah bagaimana, ucapan Zie tepat mengenai ulu hatinya.


"Minum Tuan". Gadis itu memberikan gelas berisi air pada Grabielle.


Grabielle meneguk isinya hingga tandas. Nafas pria itu sedikit memburu, akibat omongan Zie yang tidak pakai saring itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2